RSS

Spiritual Time Part 4

NILAI DARI KEBAIKAN

Kebaikan yang dilakukan bukan sebagai bentuk balas jasa untuk orang lain adalah kebaikan yang sangat berharga, jauh lebih berharga daripada kebaikan yang dilakukan sebagai bentuk balas jasa. Pemberian tulus yang diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan kepada siapa yang tidak ada kewajiban langsung untuk melakukan itu, adalah kebaikan yang tak ternilai. Kebaikan yang dilakukan sebagai balasan atas kebaikan yang diterima sebelumnya adalah baik dan alami, tetapi nilainya tidak pernah dapat menyamai besarnya nilai kebaikan yang dilakukan sebagai tindakan murni, yang lahir dari kemurahan hati semata. Kemurahan hati seseorang benar-benar teruji ketika dia memberikan bantuan kepada orang yang benar-benar membutuhkan yang kemungkinan besar tidak bisa memberikan balasan yang memadai atas kebaikan tersebut. Ada pesan bijak: “Ketika anda melakukan kebaikan, janganlah meniup terompet atas kebaikan itu.” Pesan ini memberi siratan pemikiran bahwa seseorang tidak boleh menggembar-gemborkan kebaikan yang telah dilakukannya sehingga tidak membuat kebaikan tersebut jatuh ke dalam kemunafikan. Kekayaan akan benar-benar menjadi bermanfaat ketika itu digunakan untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan, dan itulah fungsi sesungguhnya dari kekayaan. Ketika kekayaan digunakan untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan; ketika sesuatu ada di tempat yang sesuai pada fungsinya, apakah perlunya hal seperti itu digembar-gemborkan? “Menggembar-gemborkan orang kaya yang memberikan bantuan kepada orang yang patut dikasihani, sesungguhnya tidak ada gunanya, sebab hanya satu gunanya kekayaan itu, yaitu untuk membantu orang yang membutuhkan; jika digunakan lain dari pada itu, sesungguhnya itu derita dari kemiskinan.”—Sarasamuccaya 174. Menggembar-gemborkan kekayaan yang telah digunakan untuk membantu orang lain dikatakan tidak berguna, bahkan bisa terperosok ke jurang kemunafikan, apalagi menggembar-gemborkan kekayaan yang hanya dinikmati sendiri tanpa pernah digunakan untuk membantu orang lain, tentu saja, itu adalah sangat tidak terpuji. Sementara itu, supaya bantuan bisa mencapai tujuannya dengan baik, harus diingat bahwa bantuan yang diberikan harus memperhitungkan desa, kala dan patra. Jika bantuan itu tepat pada sasaran, waktu dan situasinya, meskipun bantuan tersebut mungkin sepele nilai materialnya, akan menjadi sangat berharga dan bermanfaat.

buku1

buku2

buku3

PENTINGNYA PEMUJAAN BAGI JIWA KITA

Upacara pemujaan merupakan tindakan suci yang paling penting dalam kehidupan umat Hindu pada umumnya. Melalui itu kita menyerukan keagungan Tuhan, dan semestinya itu kita lakukan sebagai ekspresi tulus dari cinta, bhakti dan penyerahan diri kita kepada-Nya. Dalam pemujaan, denting genta mengiringi pujastuti sang manggala puja, kepulan asap dupa atau padupan menebarkan keharuman membangkitkan hasrat suci penuh pengabdian, bercahayakan api suci dipa atau lentera, sajian persembahan mengungkap rasa penuh bhakti, dan kumandang kidung-kidung suci menyerukan keagungan Tuhan, memanggil, memohon, untuk datang, hadir dalam wujud kegembiraan dan ketenangan, keheningan penuh kasih, yang kemudian memberkati dan membantu kita, dan yang paling utama adalah untuk perkembangan spiritual kita. Pemujaan kita adalah perjamuan suci, penuh pesona dan persembahan cinta. Ini adalah bagian dari hari-hari kita di mana kita berbagi secara sangat dekat dan sadar dengan Tuhan kita yang tercinta, dan dengan demikian bagi umat Hindu hal ini merupakan poros dari kehidupan beragama. Upacara pemujaan kita yang penuh pesona, melayani semua umat dengan berbagai tingkat kesadaran yang dimiliki masing-masing pemuja, tidak ada yang sesat, semua sah menurut tingkat kesadarannya masing-masing, dan karenanya pemujaan merupakan ekspresi perayaan kegembiraan dari peristiwa penting dalam hidup, penyembahan dan puji syukur, pengakuan dan permohonan, atau kontemplasi di tingkat kesadaran yang terdalam. Berbagai bentuk pemujaan dapat kita jumpai, yang dilakukan pada hari-hari baik dalam perhitungan Hindu, dengan cara yang paling sederhana hingga cara yang sangat rumit, dalam tradisi yang kukuh yang diselenggarakan di berbagai tempat di mana umat melakukan aktivitas sehari-harinya: di pura, di rumah, di kantor, di jalan, di pasar, di sawah, di gunung, di laut dan lain-lain, karenanya di manapun berada umat merasa sangat dekat dengan Tuhan. Upacara pemujaan adalah pengorbanan suci, menyerupai alat tenun dengan benang-benang direntangkan dengan berbagai cara, menghasilkan tenunan dengan beragam corak, demikian pemujaan Hindu terdiri dari ritual yang tak terhitung banyaknya dan penuh kreasi. Masing-masing pemuja duduk pada alat tenunnya masing-masing, dengan gembira menata benang-benang mengungkapkan kreasi terbaiknya, untuk dipersembahkan sebagai bhakti kepada Tuhan. Oh, Indahnya!

13139087_1212926802053269_4677637124487880175_n

MURTI ADALAH SARANA KOMUNIKASI

Murti: patung, arca, gambar, citra, Nama-Nama Suci Tuhan dan simbol lainnya adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan. Sri Ramakrishna Paramahamsa mengatakan, “Sebagaimana buah mainan atau hewan mainan mengingatkan seseorang akan buah asli dan hewan hidup, begitu juga citra yang disembah mengingatkan seseorang akan Tuhan yang tidak berwujud dan abadi.” Kita menyembah Tuhan yang tak terbatas melalui murti-murti yang terbatas, kemudian secara mental menempatkan-Nya di sana, dan itu kita hormati sebagai wujud sementara-Nya. Kita berkomunikasi dengan Tuhan melalui sarana itu dalam upacara-upacara pemujaan. Tuhan sama sekali tidak menolak, apalagi murka, atas penggambaran yang kita berikan untuk Dia tak tergambarkan, Dia yang acintya; tak terpikirkan. Dia tetap melimpahkan kasih-Nya melalui itu secara proporsional sesuai dengan kualitas bhakti yang kita miliki. Arca batu, kayu atau logam, atau gambar, Nama-Nama Suci Tuhan dan simbol-simbol Ketuhanan lainnya, tidak hanya sekadar simbol, tetapi dari balik semua wujud itu mengalir kasih, kekuatan dan anugerah ke dunia ini seiring penghormatan dan ungkapan bhakti kita kepada Tuhan melalui itu. Kita bisa analogikan misteri ini sebagaimana kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui telepon. Ketika kita menelepon seseorang, kita tidak berbicara dengan telepon, melainkan kita menggunakan telepon sebagai sarana komunikasi dengan orang lain yang mungkin ada di belahan bumi yang beribu-ribu kilometer jauhnya dari kita. Tanpa telepon, kita tidak bisa berkomunikasi dengan jarak sejauh itu, demikian pula tanpa murti yang disucikan kita yang masih dominan hidup dalam kesadaran naluriah-intelektual tidak bisa dengan mudah berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita merindukan kekasih kita yang berada nun jauh di sana, dan belum bisa bertemu secara langsung karena masih terbelenggu oleh kesibukan kerja, sementara kita bisa menggunakan telepon sebagai sarana berkomunikasi untuk sedikit mengobati rasa rindu kita sambil menunggu waktu untuk bisa bertemu secara langsung, demikian pula halnya ketika kita merindukan Tuhan dan belum bisa bertemu langsung dengan-Nya karena masih terbelenggu dalam kesadaran eksternal, kita bisa sedikit mengobati kerinduan kita melalui murti yang kita pilih sebagai sarana berkomunikasi, merasakan getaran-getaran kasih-Nya, sambil terus meningkatkan kesadaran spiritual kita hingga pada akhirnya nanti benar-benar bisa bertemu dengan-Nya; menyadari-Nya di Puncak Kesadaran.

TERIMA DAN NILAILAH KASIH DARI SUATU KEBAIKAN

Anak-anak, termasuk semasa kecil kita dulu, dibelajari berterima kasih dengan mengucapkan ‘terima kasih’ saat menerima suatu kebaikan. Ya, lebih dalam lagi, kita harus berterima kasih; menerima dan menilai kasih dari suatu kebaikan yang diberikan. Mereka yang mengerti nilai kebaikan, tidak akan menilai dari sisi nilai materialnya atau besar kecilnya suatu kebaikan. Mereka yang tahu nilai sebenarnya dari kebaikan akan melihat energi kasih yang mengalir dari sebuah kebaikan, bukan seberapa besar kebaikan itu. Sebagaimana orang menilai pohon buah, tidak melihat besar kecilnya pohon, tetapi seberapa banyak dan seberapa besar buah yang ada di pohon itu. Besarnya bantuan yang diberikan mungkin sangat kecil, tetapi penerima yang sangat membutuhkannya akan menganggap itu sebagai hal yang sangat besar, sebagaimana orang yang sangat kehausan akan menganggap pemberian segelas air untuknya sebagai sesuatu yang sangat besar. Jadi, nilai sebenarnya dari kebaikan selain tergantung pada sikap si pemberi juga ketepatan pada waktu dan kebutuhan penerima, serta pada karakter dan kelayakan penerima. Ketika seseorang ingin memberi balasan atas kebaikan yang telah diterimanya, balasan itu tidak harus didasarkan pada besarnya kebaikan yang telah diterimanya, tetapi pada kebesaran hati orang yang memberikan kebaikan itu. Kebesaran hati seseorang tidak dilihat dari seberapa besar kebaikan yang mampu dilakukan, tetapi dari ketulusannya ketika melakukan suatu kebaikan. Ketulusan adalah kemurnian, yang benar-benar bebas dari hasrat mementingkan diri sendiri. Itu adalah refleksi dari atman, energi spiritual kita. Adi Shankaracharya mengatakan, “Siapa selain atman yang mampu melepaskan seseorang dari ikatan kebodohan, hasrat dan tindakan yang mementingkan diri sendiri?” Dari pemahaman ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa kita dapat menilai tingkat spiritualitas kita sendiri dari kualitas ketulusan kita, bukan dari seberapa banyak referensi pemahaman spiritual yang kita miliki, bukan dari seberapa hebat kita berdebat tentang spiritual, bukan pula dari seberapa digdaya kesaktian yang kita miliki. Dari orang-orang yang tulus kita menerima kasih sesungguhnya dalam kebaikannya. Seharusnya kita tidak pernah mengabaikan hubungan dengan seseorang yang berhati tulus; yang tidak pernah mengorbankan persahabatan mereka, yang selalu berada di ‘dekat’ kita pada saat kesusahan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2016 in RAGAM

 

Spiritual Time Part 3

Semua tulisan dalam Tag “Spiritual Time” ini tyang petik dari Buku yang berjudul “108 Renungan Suci” karya dari “Jro Mangku Suro”, Penerbit “Paramita” Surabaya.

,buku renungan

AGAMA ADALAH PRILAKU, BUKAN KEYAKINAN BELAKA

Amritanandamayi mengatakan”Pengetahuan rohani adalah beban jika dibawa dalam kepala, tapi indah jika dibawa masuk ke dalam hari”. Belajar atau mendalami kerohanian bukan masalah menghafal dan meyakini ayat-ayat suci, tetapi bagaimana memahami dan menyerap ayat-ayat suci tersebut kedalam bentuk prilaku. Dengan kata lain, apa yang dipelajari dapat membentuk karakter, sesuai dengan ajaran Dharma yang telah diserap selama pembelajaran. Tanpa penyerapan seperti itu, maka yang ada hanyalah pembelajaran dangkal yang tidak akan membawa perubahan karakter yang signifikan. Bahkan pembelajaran yang dangkal cenderung menghasilkan fanatisme keyakinan yang menjadi sumber konflik di antara umat beragama.

Terkait dengan hal ini, Sarvepalli Radhakrisnan menegaskan, “Agama adalah Prilaku, bukan keyakinan belaka.” Ajaran Dharma seharusnya dipelajari untuk memahami aturan main dalam permainan kehidupan ini.Setelah aturan main difahami, bermainlah dengan lebih baik, dalam wujud prilaku, sesuai dengan aturan main yang ada. Tanpa untuk tujuan tersebut, sebanyak dan setinggi apapun ajaran Dharma dipelajari, tidak akan membawa manfaat. Apalah artinya semua ajaran Dharma yang telah dipelajari jika itu tidak digunakan untuk menaklukkan musuh musuh yang masih ercokol di dalam diri kita – Sadripu ; enam musuh : Kama (keiinginan), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (kedengkian). Hidup ini adalah permainan, tapi bukan untuk main-main. Jika main-main dengan aturan mainnya, kita akan dipermainkan dalam permainan ini. Sebagaimana dalam sebuah permainan olahraga, ketika semua pemain berbaindengan bagus dan sportif, trampil dan mengikuti semua aturan main yang ditetapkan, walaupun permainan berjalan keras sekalipun, akan tetap mengasikan. Karena dilandasi sportivitas, kerasnya permainan tidak akan memancing pemain untuk bermain kasar. Demikian pula dalam permainan kehidupan ini.

Dalam suatu permainan olahraga, ketika lawan bermain kasar, seorang pemain profesional yang menjunjung sportivitas tidak akan membalas dengan ikut bermain kasar, tetapi tetap berupaya menampilkan permainnanterbaiknya dan sportif. Demikian pula para bijaksana dalam memainkan perannya dalam permainan kehidupan ini. Menyenangkan ketika bertemu, dan terkenang penuh kerinduan ketika bepisah, adalah dampak dari amal kebijaksanaan. Jangan kita menjadi sumber kejengkelan orang lain, ketika bertemu, dan melegakan hati mereka ketika kita pergi. Belajar tetap rendah hati terhadap orang lain, penuh kasih, adalah belajar untuk tidak menjadi rendah. Orang yang sennatiasa rendah hati terhadap orang lain tidak membuatnya menjadi rendah, tetapi itu akan membawanya pada kemuliaan. Sebaliknya, kesombongan atau tinggi hati akan membuat orang menjadi rendah. Semakin dalam sumur digali, semakin banyak air di dalamnya, semakin banyak orang belajar ilmu kerohanian, semakin banyak hikmah kebijaksanaan yang diapatkan. Namun demikian, pastikan sumur yang digali berstruktur kuat, tidak gampang ambrol. Jangan sampai kita trkubur sendiri  oleh longsoran tanah sumur. Walaupun struktur tanahnya tampak kuat, jika ditemukan gas beracun ketika digali, keluarlah dari galian tersebut sesegera mungkin sebelum gas beracun semakin banyak terhirup dan membunuh kita.

Demikian pula halnya dalam hal mendalami ilmu kerohanian. Hindari mendalami itu pada orang-orang yang emosinya masih goyah, atau pada orang-orang yang suka meracuni orang lain dengan provokasi-provokasi kebencian dan permusuhan, dan kaa-kata dusta. Sungguh, mereka adalah sumber yang akan membunuh kedamaian siapapun yang datang untuk menyerap ilmunya. Ingat, agama adalah prilaku, bukan hanya keyakinan belaka. Di dalam Sarasamuscaya 161 dikatakan “walau seorang agamawan yang telah lanjut usia sekalipun, jika ia tidak memiliki prilaku susila, untuk apa disegani; walaupun ia seorang yang miskin dan dipandang remeh, jika prilakunya susila, dia sungguh patut untuk dihormati dan disegani.” Kebijaksanaan adalah pelindung dalam terpaan badai penderitaan, dan merupakan benteng pertahanan yang tidak bisa ditembus dan dihancurkan oleh musuh. Ini yang dimaksudkan ketika Mahatma Gandhi mengatakan,”Tak ada yang bisa menyakiti saya tanpa seizin saya.” Ketiadaan atau hilangnya kebijaksanaan dalam diri adalah izin kita, untuk tersakiti, untuk menderita dalam penderitaan. Ini senada dengan perkataan; “Siapa atau apapu tidak akan bisa merampas kebahagiaan yang kita miliki, kecuali kita menyerahkannya.” Keinginan egois, keserakahan, kemarahan, kebencian, kemabukan, kebingungan dan kedengkian terhadap orang lain atau suatu hal, apapun alasannya, adalah sarana kita untuk menyerahkan kebahagiaan, terampas dari genggaman hati kita. Hindarilah!

APAKAH TUHAN MENGHUKUM PELANGGAR KESUCIAN?

Banyak orang memahami karma baik sebagai hadiah dan karma buruk yang dialami sebagai hukuman atau kutukan dari Tuhan. Namun para bijak memberikan pemahaman kepada kita bahwa Tuhan adalah kebajikan, cinta kasih dan kebenaran yang sempurna. Dia bukan pemarah, pencemburu, pemurka atau pendendam. Dia tidak mengutuk atau menghukum pelanggar hukum kesucian. Kemarahan, kemurkaan, dendam, kecemburuan dan kesombongan adalah sifat-sifat alam naluriah manusia, bukan Tuhan. Kita menghindari perbuatan berdosa bukan karena takut akan dikutuk Tuhan, tetapi karena kita memahami hukum karma yang telah ditetapkan-Nya, dimana perbuatan berdosa akan menciptakan karma negatif dan membawa penderitaan bagi diri kita sendiri. Seorang teman bertanya, “Apakah itu berarti bahwa semua karma buruk yang dialami manusia adalah kehendak manusia itu sendiri, bukan kehendak Tuhan?” Saya memberikan analogi: seorang penegak hukum yang arif bijaksana memvonis penjahat bukan berdasarkan kemarahan, kebencian, sakit hati, atau dendam, tetapi berdasarkan pasal-pasal dalam undang-undang peradilan yang telah ditetapkan. Tidak ada alasan untuk pernah takut kepada Tuhan. Tuhan senantiasa bersama kita, bahkan ketika kita tidak menyadari kehadiran-Nya nan suci itu. Tuhan tidak pernah terpisah dari semua yang terbatas ini dan tidak menjadi terbatas karenanya. Ketika kita melakukan perbuatan berdosa, kita menciptakan karma negatif untuk diri kita sendiri dan kemudian harus hidup melalui pengalaman penderitaan untuk memenuhi hukum karma. Karma tersebut mungkin menyakitkan, tapi mereka dihasilkan dari pikiran dan perbuatan kita sendiri. Tuhan tidak pernah menghukum kita, bahkan jika kita tidak percaya kepada-Nya. Pemujaan luhur dan meditasi pada Tuhan merupakan sarana kita untuk melunakkan dan meredakan penderitaan yang kita ciptakan sendiri. Tuhan adalah esa; Tuhan dari semuanya; Tuhan dari orang-orang yang percaya, dan juga Tuhan dari orang-orang yang tidak percaya; Tuhan dari orang-orang yang beriman, dan juga Tuhan dari orang-orang yang tidak beriman. Tuhan tidak menghancurkan mereka yang jahat dan menyelamatkan mereka yang beriman, tetapi memberikan karunia berharga pembebasan untuk semua jiwa melalui jalan karma, pembelajaran yang membuatnya kian tumbuh dewasa, dan pada akhirnya akan menemukan sendiri kemerdekaannya.

KEBAJIKAN AGUNG NETRALITAS

Netralitas adalah sebuah kebajikan yang sangat agung ketika seseorang berhasil mengamalkan ketidakberpihakan terhadap semua orang. Hanya dalam netralitas ditemukan keadilan sebenarnya. Semakin tinggi kualitas kesadaran seseorang, akan semakin tinggi pula tingkat netralitasnya. Dalam kesadaran normal, di mana kita dominan hidup dalam kesadaran naluriah, keberpihakan itu terasa sangat kental, dan dari sinilah awal munculnya tunas ketidakadilan. Ketika tampuk-tampuk kekuasaan diduduki oleh mereka yang tidak memiliki netralitas, dapat dipastikan rakyat yang ada dalam kekuasaan mereka akan hidup dalam ketidakadilan hasil penetapan kebijakan-kebijakan yang tidak bijak, dan menjadi sumber utama terjadinya konflik di tengah masyarakat. Hanya setelah memiliki netralitas seseorang bisa menduduki posisi kekuasaan dengan baik. Kekayaan hati orang yang memiliki pandangan yang netral; tidak ada keberpihakan, akan tetap utuh, bahkan kekayaan hatinya akan semakin berkembang, dan menjadi bekal utama dalam perjalanan menuju tujuan; kebahagiaan yang sesungguhnya. Sedangkan keberpihakan yang ada di dalam hati seseorang sama halnya dengan menghambur-hamburkan kekayaan yang ada di sana, mengikuti kecenderungan indriyawi untuk menikmati berbagai kesenangan material, hingga akhirnya kelelahan sendiri. Tidak akan pernah ada ketenangan dalam kesenangan jika hal-hal yang menyenangkan itu dihasilkan dari perilaku tidak adil. Kehidupan material disebut sebagai ‘cakra manggilingan’, ibarat roda yang berputar, di mana pasang surut dalam kehidupan material tak terelakkan; para bijaksana memandangnya sebagai hiasan kehidupan itu sendiri dan tidak membiarkan hati mereka terombang-ambing dalam kedua hal itu. Suara hati adalah suara kebenaran, sekaligus menjadi alarm ketika ada ketidakbenaran yang ingin menyentuhnya, tetapi kebisingan dari berbagai keinginan material sering membuatnya tidak jelas, bahkan tidak terdengar sama sekali, dan menjadi terabaikan. Saat hati tergagap memikirkan sesuatu secara tidak adil, waspadalah bahwa kita berada pada jalur kehancuran. Saat hati tidak tergagap lagi saat memikirkan bahkan melakukan sesuatu secara tidak adil, ketahuilah bahwa kita sudah hancur. Mereka yang berhati mulia tidak akan memandang rendah pada para bijak yang hidup miskin, dan tidak menjunjung tinggi seseorang hanya karena dia kaya. Dalam netralitas, hati hanya memandang kualitas hati, bukan yang lain daripada itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2016 in RAGAM

 

Spiritual Part 2

KEMAMPUAN UNTUK MEMILIH

Kehendak bebas berarti kemampuan untuk memilih di antara alternatif peluang-peluang. Tuhan telah memberi kita kemampuan untuk memilih antara hidup dalam pengabdian atau hidup dalam pemuasan indriya-indriya dengan konsekuensinya masing-masing. Silakan memilih dengan penuh tanggung jawab. Jika kehendak bebas kita memilih kepuasan indriya-indriya maka kita akan dituntun untuk mendapatkannya melalui hal-hal material, dengan cara yang baik atau buruk. Jika kehendak kita memilih untuk melakukan bengabdian maka kita akan dituntun untuk mendapatkan pengetahuan suci melalui kitab suci dan orang suci, memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Dalam suatu kerja atau aktivitas kita diberikan kehendak bebas, apakah kita mencoba menikmati hasil dari kegiatan itu atau mempersembahkannya sebagai ungkapan bhakti kepada Tuhan. Kehendak yang akan menentukan apakah kita tetap dalam perputaran karma eksistensi material atau kembali ke dunia spiritual. Kehendak bebas merupakan anugerah Tuhan untuk manusia. Dengan kehendak bebasnya manusia bisa memilih dan memutuskan apa yang akan dilakukan, apakah dia melakukan sesuatu untuk kenikmatan materialnya ataukah untuk kenikmatan jiwanya. Tuhan hanya menetapkan hukum-hukum dasar alam semesta ini di awal penciptaannya. Selanjutnya Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan tindakan yang ingin dilakukannya. Dan setiap tindakan yang dipilih akan membawa akibat sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan. Manusia tidak bisa memilih akibat apa yang akan dihasilkan dari perbuatannya. Semuanya tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Kita tidak bisa memilih hasil atas pilihan kita sebelumnya, tetapi kita tetap bisa memilih langkah selanjutnya atas hasil yang sedang kita petik. Tuhan tidak mengatur kita seperti seorang dalang wayang kulit yang sedang mempertunjukkan sebuah cerita, di mana para wayang hanya berperan sebagai peraga dari skenario yang telah dicanangkan seutuhnya oleh ki dalang. Tetapi di sini kita sebagai manusia dianugerahi kehendak bebas untuk berkreasi sendiri dalam melakoni cerita semesta ini tanpa harus keluar dari skenario utama-Nya yang mendasari jalan cerita secara keseluruhan.

“Apa yang anda miliki adalah pemberian Tuhan kepada anda, dan apa yang anda lakukan dengan apa yang anda miliki adalah pemberian anda kepada Tuhan.”

MEWUJUDKAN PERDAMAIAN DUNIA

Perdamaian adalah refleksi dari kesadaran spiritual. Ini dimulai dari dalam diri setiap orang, dan meluas ke lingkungan rumah, tetangga, masyarakat, bangsa dan seterusnya. Perdamaian muncul ketika sifat-sifat yang lebih tinggi, sifat-sifat yang lebih mulia mengambil alih sifat-sifat yang lebih rendah. Sebelum kita memiliki perdamaian dalam hati kita sendiri, kita tidak bisa berharap untuk perdamaian di dunia. Perdamaian adalah keadaan alami dari jiwa kita. Hal ini ada di dalam, ditemukan dalam meditasi, dipertahankan melalui pengendalian diri, dan kemudian dipancarkan kepada orang lain. Cara terbaik untuk mengembangkan perdamaian adalah dengan mengembangkan spiritualitas kita dan membina keluarga kita sendiri secara damai, menyelesaikan semua konflik dengan cepat dan tepat. Di tingkat nasional dan internasional, kita akan menikmati lebih banyak ketenangan ketika kita menjadi lebih toleran. Para pemimpin agama dapat membantu dengan mengajarkan kepada pengikut mereka bagaimana hidup di dunia dalam perbedaan tanpa harus merasa terancam, tanpa memaksakan cara atau kehendak mereka pada orang lain. Badan-badan dunia dapat membuat hukum yang tegas menyalahkan dan menyesalkan tindakan kekerasan dan bekerja dengan melakukan langkah-langkah nyata untuk mencegah kejahatan kekerasan. Hanya ketika semakin tinggi rasa tanggung jawab orang atas terbinanya toleransi, perdamaian benar-benar akan muncul. Tidak ada cara lain, karena masalah konflik sesungguhnya hanya ada pada kelompok yang berpikiran rendah yang hanya tahu pembalasan dendam sebagai cara hidup mereka. Swami Vivekananda mengatakan, “Sektarianisme, kefanatikan dan keturunannya yang mengerikan, fanatisme, telah lama merasuki bumi yang indah ini. Mereka telah mengisi bumi dengan kekerasan, sering membasahinya dengan darah manusia, peradaban hancur dan membuat seluruh bangsa putus asa. Kalau bukan karena setan-setan yang mengerikan ini, masyarakat manusia akan jauh lebih maju daripada sekarang.” Dunia sekarang dipenuhi dengan begitu banyak jenis kekerasan. Segera setelah kita merasakan ketenangan, masalah dan musibah kekerasan lain kembali dipertontonkan oleh manusia-manusia berpikiran rendah. Semoga mereka dan kita semua belajar dari penderitaan hasil dari kekerasan … Semoga damai untuk bumi, damai untuk langit, damai untuk alam semesta! Semoga Tuhan memberikan kedamaian untuk saya, untuk kita semua! Semoga seruan perdamaian ini dapat menyebar dengan damai!

EKSISTENSI MATERIAL SEBAGAI KONDUKTOR DAN ISOLATOR

Apa yang dapat kita katakan tentang kehidupan dalam eksistensi material? Jiwa kembali lagi dan lagi mengambil wujud material untuk meneruskan perjalanan menuju kepada Sumber Asal. Dalam hal ini eksistensi material merupakan konduktor, di mana pengalaman dalam eksistensi material digunakan sebagai jalan penerus untuk mengantarkan jiwa individu menuju ke sumber asalnya. Melalui semua pengalaman dualitas dalam eksistensi material ini kita terus ditempa dan berkembang menjadi semakin dewasa, keluar dari rasa takut menuju ketabahan, keluar dari kemarahan menuju cinta kasih, keluar dari perselisihan menuju perdamaian, keluar dari kegelapan menuju pencerahan dan akhirnya manunggal dengan Tuhan. Kita mengambil kelahiran di dalam tubuh materi untuk tumbuh dan berkembang menuju kesadaran sejati kita sebagai jiwa-jiwa suci yang abadi. Tapi jika jiwa kemudian terperangkap dalam kesadaran material ini, maka hal ini adalah konyol karena tidak ada makna faktual, tidak ditemukan kesejatian di dalamnya. Kali Yuga atau zaman Kali, zaman sekarang ini, juga dikenal sebagai zaman edan atau zaman gila, karena kebanyakan dari kita tergila-gila untuk melayani tudung dari diri, tubuh material, bukannya melayani diri kita yang sejati, jiwa yang hidup di dalam tubuh. Akibat dari kegilaan kita, eksistensi material yang seharusnya berfungsi sebagai konduktor kemudian berubah fungsi menjadi isolator, semakin memisahkan jiwa-jiwa individu dari kesadaran asalnya. Dalam kesadaran yang terisolasi orang bangga menentang dharma, bukannya terlibat dalam bhakti, pengabdian tanpa pamrih, sesuai ashrama, varna dan svadharma masing-masing. Mereka yang terisolasi oleh avidya terseret dalam pemuasan indriya-indriya. Orang bijak menghindari hal yang konyol dan gila ini. Akhir-akhir ini setiap hari media massa memberitakan koruptor ditangkap KPK. Kita semakin sedih campur muak melihat para koruptor tampil di layar televisi mengumbar senyum di depan publik selayaknya tokoh hebat yang patut dibanggakan. Ini adalah contoh manusia yang bangga menentang dharma. Senyum bangga para koruptor menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki lagi rasa malu dan rasa bersalah atas kejahatan mereka, atas pelanggaran mereka terhadap dharma. Mereka tidak memiliki rasa malu sebagai figur publik dan sebagai orang yang beragama. Padahal setiap agama menyediakan tuntunan normatif bagi umatnya untuk berperilaku terpuji.

KERAMAHAN DALAM BERBAGI

Ucapan orang yang tercerahkan akan menjadi ramah, nyaman dan menyenangkan, tanpa ada jejak kebusukan di balik itu. Para bijak tahu apa yang bijaksana dan dapat diterima. Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka akan mengucapkan suatu ketidakbenaran hanya untuk membuat senang orang yang mendengarkannya, dan juga, mereka tidak akan membenarkan perkataan teman baiknya yang tidak benar, hanya untuk membuatnya senang. Ada satu kata bijak yang mengatakan, “Teman yang baik bukanlah yang membenarkan semua perkataan anda, tetapi yang mengatakan apa yang benar kepada anda, dengan cara yang benar.” Kebenaran yang diucapkan oleh para bijak adalah terlahir dari pengetahuan dan kasih sayang yang tulus, dan selalu berhasil memisahkan kebenaran dari kekasaran kata-kata saat berbagi pemahaman akan itu dengan yang lain. Satu-satunya cara untuk berbicara tentang kebenaran adalah dengan cara yang ramah, nyaman dan menyenangkan, penuh kasih. Kata-kata bijak yang diucapkan dengan keramahan penuh kasih, adalah ibarat madu; manis dan menyehatkan. Demikian pula ketika berbagi dalam hal materi, perkataan ramah dan senyum penuh kasih, yang menyertai suatu pemberian, membuat pemberian tersebut menjadi lebih berharga lagi. Memberi itu baik, tetapi sikap si pemberi membuat perbedaan besar terhadap perasaan si penerima. Orang miskin akan merasa lebih bahagia jika ada orang kaya berbagi singkong rebus dalam keceriaan dan keramahan daripada berbagi uang dengan cara melemparkan kepadanya, walaupun kedua hal itu memang sama-sama untuk memberi. Sikap merendahkan atau meremehkan ketika memberi, meskipun tanpa disadari atau tidak disengaja karena sudah menjadi kebiasaan dalam perilaku si pemberi, secara substansial akan mengurangi nilai dari pemberian tersebut. Tindakan memberi menjadi kebajikan yang sesungguhnya ketika diberikan tanpa diminta, dengan wajah ceria dan perkataan yang ramah, tetapi bukan untuk akting semata. Ketulusan adalah dasar utama dari pemberian. Hati murni jauh lebih berharga daripada emas murni. Semua pemberian harus didorong oleh ketulusan dengan pertimbangan desa-kala-patra. “Pemberian yang diberikan dengan tulus tanpa mengharapkan balasan, meyakini itu sebagai kewajiban suci dan dilakukan pada sasaran atau orang yang tepat (desa), pada waktu yang tepat (kala) dan diberikan pada situasi yang tepat (patra). Pemberian demikian adalah pemberian yang sattvika.”—Bhagavad Gita 17.20.

AKU MAU KE MANA? JALAN MANA HARUS KUTEMPUH?

Setiap yang lahir pasti akan mati. Tetapi setiap kelahiran tidak sekadar untuk menuju kematian. Kelahiran kita di dunia material memiliki tujuan. Apa tujuan kita? Jalan mana harus kita tempuh? Para Rshi Veda menyatakan bahwa kita tumbuh berkembang menuju Tuhan, dan pengalaman adalah jalannya. Melalui pengalaman kita menjadi dewasa, keluar dari rasa takut menuju ketabahan, keluar dari kemarahan menuju cinta kasih, keluar dari perselisihan menuju perdamaian, keluar dari kegelapan menuju pencerahan dan manunggal dengan Tuhan. Kita mengambil kelahiran di dalam tubuh materi untuk tumbuh dan berkembang menuju kesadaran sejati kita sebagai jiwa-jiwa suci yang abadi. Di sisi dalam kita telah menyatu dengan Tuhan sejak awal. Tetapi kita yang demikian jauh terseret keluar dan hidup dalam kesadaran material diliputi avidya; kebodohan, kegelapan dalam ketidaktahuan, melupakan esensi diri kita sebagai jiwa-jiwa suci yang abadi; sebagai jiwa-jiwa individu yang secara kualitatif sama dengan Jiwa Agung Semesta, penuh pengetahuan dan kedamaian. Veda kita berisi pengetahuan bagaimana cara menyadari kembali keesaan ini. Para bijak berupaya menemukan makna penuh rahasia dari Veda. Veda adalah penunjuk jalan menuju kesadaran nenek moyang spiritual kita. Untuk mengikuti jalan dharma yang ditunjukkan oleh Veda dibutuhkan komitmen suci, berjanji kepada diri sendiri untuk berdisiplin diri mengamalkan berbagai sadhana yang diperlukan untuk mematangkan diri dalam yoga menuju kebijaksanaan. Pada langkah-langkah awal, kita mungkin merasa menderita, sangat terbebani dalam melakukan dharmasadhana, sampai akhirnya kita menjadi terlatih dan menikmati kebahagiaan dalam yoga, menemukan kembali hubungan cinta murni kita dengan Tuhan. Sebagaimana ketika kita belajar bersepeda, mungkin kita terjatuh beberapa kali di awal, sedikit oleng saat kita mulai bisa mengayuh, dan setelah benar-benar bisa bersepeda akhirnya kita merasakan bagaimana asyiknya bersepeda. Pengetahuan menuntun kita pada pelayanan; dan pelayanan tanpa pamrih adalah awal dari tuntunan spiritual. Pelayanan menuntun kita pada pemahaman yang semakin mendalam. Pemahaman yang mendalam menuntun kita untuk berserah diri kepada Tuhan. Ini adalah jalan yang menuntun kita ke arah kesadaran Diri, dan kemudian menuju moksha, terbebas dari samsara; perputaran kelahiran dan kematian. Ini adalah tujuan hidup paling utama.

Tulisan-tulisan ini dipetik dari Buku “108 Renungan Suci” Karya Jro Mangku Suro, Penerbit “Paramita” Surabaya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2016 in RAGAM

 

Spiritual Time Part 1

MENGAPA HARUS BERKATA KASAR?

Ucapan yang tidak terlepas dari keramahan akan menghasilkan kebaikan dan akan mencerminkan kebajikan. Kata-kata yang menyenangkan dari orang yang penuh kasih akan membangun hal yang baik kepada orang lain dan menghasilkan berkah kebajikan. Kata-kata yang memotivasi dan menyenangkan yang berasal dari para bijak tidak akan produktif untuk memenuhi kebutuhan material tetapi bagus untuk membangun dan menjaga semangat dalam menghadapi multilitas dunia material. Kata-kata yang menyenangkan, yang diucapkan tanpa kedengkian sedikit pun, bebas dari maksud jahat, akan mendatangkan sukacita dalam hidup ini. Dengan pembicaraan yang rendah hati dan menyenangkan, mulut adalah ibarat sumber air bagi pemiliknya, yang memberinya kehidupan. Dengan mengucapkan kata-kata kasar penuh kedengkian, seseorang telah meracuni sumber airnya sendiri, yang hanya akan memberinya penderitaan. Setelah mengetahui manfaat kata-kata ramah yang menyenangkan, mengapa harus mengucapkan kata-kata kasar? Dari pengalamannya sendiri, seseorang yang tidak memiliki kebijaksanaan sekalipun telah sering kali menyadari pengaruh luar biasa dari kata-kata ramah dari orang lain yang menyenangkan baginya, tetapi ketika datang gilirannya untuk berkata-kata, dia lupa semua tentang hal itu dan tetap menikmati kata-kata kasar yang begitu menyakitkan. Siapa pun mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan akan merasakan kegerahan karena panasnya api amarah dari dirinya sendiri dan orang lain yang menerima perkataan itu. “Perkataan, walaupun maksudnya baik, jika itu diucapkan secara tidak baik, tidak hanya kepada yang mendengarkan, bahkan kepada yang mengucapkannya pun akan menimbulkan kedukaan.”—Sarasamuccaya 119. Menjadi tampak buruk dan tidak menyenangkan karena mengucapkan kata-kata kasar ketika kita seharusnya bisa mengucapkan kata-kata penuh keramahan yang menyenangkan, seperti halnya memilih untuk menikmati buah mangga mentah yang asam ketika kita memiliki buah mangga matang yang manis. Pemberian tidak harus dalam wujud materi. Apabila tidak mampu berbagi materi, bagikanlah senyuman, kata-kata dan ekspresi penuh kasih. Anandamayi Ma mengatakan “Cobalah untuk memperlakukan dengan kasih yang sama terhadap semua orang dengan siapa anda memiliki hubungan. Dengan demikian jurang antara ‘diriku’ dan ‘dirimu’ akan terisi, yang merupakan tujuan dari semua pemujaan religius.”

PEMUJAAN KITA BERSIFAT PRIBADI

Kegiatan dalam sebuah tempat suci Hindu bervariasi dari putaran pemujaan harian sampai perayaan yang rumit pada perayaan hari-hari yang disucikan. Walaupun kita ada di tengah kerumunan besar dari umat yang melakukan pemujaan pada saat yang sama, pemujaan kita adalah bersifat pribadi dan individu, bukan kongregasional atau berjamaah. Kualitas dari pemujaan kita tidak bergantung pada banyaknya anggota rombongan yang kita bawa, tidak bergantung pada banyaknya umat yang hadir, tidak bergantung pada siapa yang lebih dahulu hadir, tidak bergantung pada tempat duduk kita ada di barisan paling depan, tengah atau paling belakang, paling kanan atau paling kiri. Pada saat perayaan hari-hari suci, di luar pemujaan inti, masing-masing personal mengungkapkan bhaktinya dengan berbagai cara: dari persiapan, pelaksanaan hingga usai pemujaan, umat menghias tempat suci serta pelinggih-pelinggih, murti-murti, mempersembahkan berbagai wujud persembahan, manggala upacara melantunkan Veda, prosesi-prosesi, pembantu manggala melayani umat membagikan tirta, bija atau bentuk berkat lainnya, umat mengungkapkan bhakti dengan melantunkan kidung-kidung suci, menabuh gamelan, menabuh kentongan pura, mempersembahkan tarian sakral, memberikan dharma wacana, pertunjukan budaya, dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang kita jumpai, menikmati dan mengungkapkan bhakti masing-masing secara personal dalam semangat kebersamaan. Tatanan kebersamaan dalam pemujaan diatur untuk melahirkan keselarasan, bukan untuk menentukan sah atau tidak sah dari pemujaan tersebut. Semua ungkapan bhakti adalah sah dalam kualitasnya masing-masing. Semua persembahan eksternal merupakan upaya dalam mendekati Tuhan: mengenakan busana khusus untuk pemujaan sehingga kita merasa berbeda dengan saat mengenakan pakaian ke tempat kerja, pasar, hiburan, dll. Dengan itu pikiran kita berkata, “Saya akan melakukan pemujaan,” dan kita merasa layak untuk mendekati-Nya, merasa penampilan dan penyerahan diri kita diterima. Ini adalah untuk mempersembahkan penghormatan, kecintaan dan sujud bhakti kita dan kemudian melantunkan doa-doa kita, permohonan kita. Pemujaan secara eksternal jika tidak diteruskan secara internal akan berakhir sebagai acara yang bersifat mekanikal semata. Selama pemujaan, sisi internal kita harus diupayakan mengungkapkan bhakti yang sama dengan bahasa bhakti sebagaimana yang telah diungkap dalam simbol-simbol eksternal, berupaya untuk menyadari kebahagiaan Diri di dalam.

KEMAMPUAN UNTUK MEMILIH

Kehendak bebas berarti kemampuan untuk memilih di antara alternatif peluang-peluang. Tuhan telah memberi kita kemampuan untuk memilih antara hidup dalam pengabdian atau hidup dalam pemuasan indriya-indriya dengan konsekuensinya masing-masing. Silakan memilih dengan penuh tanggung jawab. Jika kehendak bebas kita memilih kepuasan indriya-indriya maka kita akan dituntun untuk mendapatkannya melalui hal-hal material, dengan cara yang baik atau buruk. Jika kehendak kita memilih untuk melakukan bengabdian maka kita akan dituntun untuk mendapatkan pengetahuan suci melalui kitab suci dan orang suci, memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Dalam suatu kerja atau aktivitas kita diberikan kehendak bebas, apakah kita mencoba menikmati hasil dari kegiatan itu atau mempersembahkannya sebagai ungkapan bhakti kepada Tuhan. Kehendak yang akan menentukan apakah kita tetap dalam perputaran karma eksistensi material atau kembali ke dunia spiritual. Kehendak bebas merupakan anugerah Tuhan untuk manusia. Dengan kehendak bebasnya manusia bisa memilih dan memutuskan apa yang akan dilakukan, apakah dia melakukan sesuatu untuk kenikmatan materialnya ataukah untuk kenikmatan jiwanya. Tuhan hanya menetapkan hukum-hukum dasar alam semesta ini di awal penciptaannya. Selanjutnya Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan tindakan yang ingin dilakukannya. Dan setiap tindakan yang dipilih akan membawa akibat sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan. Manusia tidak bisa memilih akibat apa yang akan dihasilkan dari perbuatannya. Semuanya tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Kita tidak bisa memilih hasil atas pilihan kita sebelumnya, tetapi kita tetap bisa memilih langkah selanjutnya atas hasil yang sedang kita petik. Tuhan tidak mengatur kita seperti seorang dalang wayang kulit yang sedang mempertunjukkan sebuah cerita, di mana para wayang hanya berperan sebagai peraga dari skenario yang telah dicanangkan seutuhnya oleh ki dalang. Tetapi di sini kita sebagai manusia dianugerahi kehendak bebas untuk berkreasi sendiri dalam melakoni cerita semesta ini tanpa harus keluar dari skenario utama-Nya yang mendasari jalan cerita secara keseluruhan.

“Apa yang anda miliki adalah pemberian Tuhan kepada anda, dan apa yang anda lakukan dengan apa yang anda miliki adalah pemberian anda kepada Tuhan.”

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2016 in RAGAM

 

MALAM SIWARATRI GALOER 2016

Persembahyangan bersama Malam Siwaratri Desa Pakeraman Galiukir Jum’at 8 Januari 2016 dipusatkan di Pura Batur. Nampak dalam gambar gambar Galiukir sudah mulai semakin kompak dan khusuk dalam pelaksanaannya, walaupun masih banyak yang belum sempat untuk hadir. Mudah-mudahan di tahun-tahun ke diharapkan semakin semarak dan kompak lagi untuk mendapatkan pencerahan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Salut untuk mereka semua, semoga apa yang diharapkan dapat tercapai dan semua warga Galor Rahayu Rahajeng.

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Januari 2016 in SOSBUD

 

PAGUYUBAN PEMANGKU/PINANDITHA

Sebenarnya ide pembentukan Organisasi Pemangku/Pinandita ini sudah tyang fikirkan sejak lama, namun realisasinya baru tyang bisa wujudkan setelah mendapat desakan dari beberapa tokoh masyarakat dan pemerhati spiritual dan juga dari kalangan intelektual warga Galiukir. Astungkara, pada hari Senen tanggal 4 Januari 2016 kami bisa meluangkan waktu berkumpul bersama beberapa Pemangku/Pinandita di bawah arahan Jro Bendesa Adat dan melahirkan Kepengurusan Organisasi.

Smoga apa yang akan kami lakukan ini mendapat panugrahan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, sehingga kami bisa melakukan hal hal yang bermanfaat bagi warga masyarakat Galiukir khususnya dan Umat Hindu umumnya. Di bawah ini tyang coba sisipkan Susunan Kepengurusan Organisasi serta Visi dan Misi kami.

visi dan misi 2

strukturorganisasi

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Januari 2016 in PROFILE

 

PEKARYAN PERTAMA ADAT BARU

DEPANPURARahina Buda Pon Wuku Medangkungan, tanggal 18 Februari 2015, merupakan Hari Pujawali di Pura Puseh Desa Adat Galiukir yang sekaligus juga merupakan kegiatan piodal pertama yg menjadi tanggungjawab Manggala Adat Galiukir yang baru dilantik beberapa minggu yang lalu.

4

Walaupun ini merupakan pekerjaan dan tanggung jawab yang pertama, secara pribadi saya memantau pelaksanaan pujawali tersebut berjalan seperti biasa, walaupun masih ada beberapa kekurangan, tapi hal itu masih di atas kewajaran. Disamping mereka tumben melaksanakan kewajiban ini, tingkat upacara juga di atas lebih tinggi karena bertepaan juga dengan Tilem ke-Wulu, dari segi upakara sedikit lebih banyak dari Pujawali biasa.

16

Melalui tulisan ini saya mengajak warga Galoer semua, mari kita kawal dan pantau terus perjalanan kinerja Adat Galiukir sekarang, mudah-mudahan dengan koordinasi yang baik antara kita sebagai warga dengan beliau-beliau yang sudah kita pilih sebagai manggala adat, Desa Pekraman Galiukir akan menjadi semakin baik, dan semua yang kita inginkan bersama akan tercapai.

1

Dalam waktu yang belum begitu lama, kita belum bisa menilai bobot kinerja beliau belau tersebut, dengan perhatian kita juga dengan dilandasi rasa percaya dan kerendahan hati, niscaya masalah-masalah yang timbul akan bisa kita atasi bersama. Semoga!!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Februari 2015 in PROFILE

 
 
%d blogger menyukai ini: