RSS

Arsip Kategori: SOSBUD

Tulisan tentang kehidupan sosial agama..!

MALAM SIWARATRI GALOER 2016

Persembahyangan bersama Malam Siwaratri Desa Pakeraman Galiukir Jum’at 8 Januari 2016 dipusatkan di Pura Batur. Nampak dalam gambar gambar Galiukir sudah mulai semakin kompak dan khusuk dalam pelaksanaannya, walaupun masih banyak yang belum sempat untuk hadir. Mudah-mudahan di tahun-tahun ke diharapkan semakin semarak dan kompak lagi untuk mendapatkan pencerahan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Salut untuk mereka semua, semoga apa yang diharapkan dapat tercapai dan semua warga Galor Rahayu Rahajeng.

01

02

03

04

05

06

07

08

09

10

11

12

13

14

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Januari 2016 in SOSBUD

 

KELOMPOK SENI GALIUKIR

Galiukir memang memiliki banyak personal yang komit terhadap Kesenian Bali, khususnya di bidang Seni Tabuh. Terbukti dengan banyaknya terbentuk Kelompok Seni, seperti : Sekehe Gong, Joged, Angklung, Gender, Santi, dan Rindik.

rindik

gong

santi

Walaupun terkadang terlihat sangat lucu, karena ada beberapa orang yang masuk di semua Kelompok yang ada tersebut. Tapi tidak apalah yang penting Komitmen mereka untuk Mengajegkan Kesenian Bali ini. Mungkin para pembaca bisa melihat dari beberapa gambar di atas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 31 Maret 2013 in SOSBUD

 

PENOMENA

Entah gerangan apa penyebabnya, dalam sebuah event Pujawali di Khayangan-kayangan di sejebag Galiukir sejak tahun-tahun belakangan ini, pemandangan yang terlihat terkadang membuat hati kita senang bahkan salut sekaligus bertanya-tanya mengapa dijaman semodern saat ini kuantitas orang “Kerawuhan” semakin hari semakin meningkat. Dan yang terkadang yang membuat pertanyaan juga, diantara sekian banyak yang kerawuhan itu, ternyata didominasi oleh kaum muda, dan yang lebih hebat lagi sebagian besar adalah kaum wanita.

penomena

Coba saja anda perhatikan gambar ini, sebagian besar mereka adalah kaum belia.

Mungkin diantara para pembaca tulisan ini ada yang bisa memberikan penjelasan yang mungkin bisa membantu rasa penasaran pembaca yang lain, dan atau penulis. Kalau ada silahkan dikomentari “Fenomena” yang terjadi saat ini, terkait dengan keyakinan kita tentang Ke_Esaan Tuhan. (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Apakah kejadian-kejadian yang ada selama ini, dimana fenomena kerawuhan masal di kalangan anak muda di tempat suci seperti yang sudah saya katakan di depan, menunjukkan ketebalan keyakinan mereka atau kita sebagai penganut Hindu terhadap Kekuasaan ISWW? Atau ada alasan lain yang bisa dielaborasi, sehingga hasil dari elaborasi tersebut diharapkan mampu menambah keyakinan kita terhadap Kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saya mohon maaf, tulisan ini bukan saya maksudkan melecehkan ataupun merendahkan kejadian-kejadian seperti yang sudah saya jelaskan tersebut,atau melecehkan oknum-oknum yang mengalami fenomena tersebut. Bahkan saya termasuk orang yang sangat yakin dan percaya akan keberadaan kekuatan Tuhan yang bisa merangsuki bhatin dan kesadaran seseorang, dan saya termasuk sangat menghormati orang yang diistilahkan “Tapakan” tersebut. Cuma saya sedikit penasaran, kenapa fenomena seperti itu belakangan ini lebih banyak terjadi dikalangan anak muda yang masih muda belia, ketimbang dimasa-masa saya masih anak-anak, hal seperti itu tidak pernah saya lihat, justru mereka-mereka yang kerawuhan tersebut di dominasi oleh kaum tua. Nah adakah diantara kalian yang bisa menjelaskan fenomena tersebut?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2013 in SOSBUD

 

PIODALAN RING PURA BATUR DESA GALOER 2011

Bertepatan dengan Puranamning Ke Dasa, Sabtu 19 Maret 2011 kemarin, Pujawali atau Piodalan di Pura Batur (Desa) di mulai ditandai dengan dimulainya pailen upakara-upacara nyujukang tenjor dan seruntutannya, kemudian dilanjutkan dengan Mecaru dan seterusnya. Hal ini sudah dimulai sejak pagi hari, yang kemudian dilanjutkan dengan upacara Melasti ke Permandian Suci Pakerisan yang terletak di sebelah Selatan Pura yang dimaksudkan untuk pembersihan segala sesuatu yang terkait dengan upakara yang akan dilaksanakan, sekaligus untuk pembersihan sugra Pakulun Ida Bhatara-Bhatari sinamaian beserta ancang iringan Ida. Di samping itu juga untuk membersihkan segala sesuatu (semua) ciptaanNya segala isi Alam termasuk manusianya. Hal ini biasa dilakukan setiap kali ada upacara upakara di setiap tempat Suci Hindu dimanapun di Bali.

06

Jro Mangku Batur

Kemudian pada malam harinya, dilaksanakan juga segala sesuatunya dalam rentetan upacara piodalan seperti tari-tarian, baik itu tarian Dresta dan Hiburan dan berbagai macam kesenian lainnya.  Bahkan kesenian Magegitan dilakukan setiap malam sekitar sebulan sebelum piodalan ini dilaksanakan, hal ini terjadi karena pada Piodalan kali ini berlangsung juga Upacara Pemelaspas Palinggih yang sudah rampung perbaikannya beberapa minggu sebelumnya.

08

Meru

Sedangkan untuk acara nanti malam, tetap akan dilakukan seperti biasanya, dimana akan diadakan juga pagelaran beberapa kesenian yang dimiliki oleh Desa Pekraman. Para pamedek yang tinggal di daerah perkotaan atau dari Desa lain bahkan sudah melakukan Penangkilan di hadapan Ida Bhatara sejak pagi hari, bahkan mungkin acara ini akan berlangsung terus sampai malam. Menurut kebiasaan yang ada, pada acara Piodalan kali inipun, Ida Bhatara akan Nyejer selama 3 hari terhitung mulai kemarin, hal ini dimaksudkan agar para warga di lain daerah atau para warga yang tidak sempat melaksanakan persembahyang pada hari kemarin maka akan sempat melakukannya pada 3 hari kedepan, sampai pada pelebaran piodalan yaitu pada hari Selasa, 22 Maret 2011 nanti.

09

Di bawah ini saya tampilkan beberapa foto terkait dengan persiapan-persiapan upacara yang akan dilanjutkan mulai besok  , dimana para Juru termasuk Bendesa Adat yang sangat sibuk dalam mengatur semua aktivitas demi kelancaran upacara dan upakara Piodalan, dan beberapa foto Pura Batur dari beberapa sisi.

010203040510111213

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Maret 2011 in SOSBUD

 

Pura Dayang Sari

Dari sisi dalam Pura Dayang

Sabtu, Tolu tanggal 3 April 2010 merupakan hari Pemelaspas Pura Dayang Sari yang pembangunanannya sudah dirampungkan b eberapa minggu yang lalu. Proyek pembangunan pura ini merupakan proyek rehab total dari bangunan lama yang kondisi fisiknya sudah tidak bagus lagi. Masyarakat Galiukir sangat bersyukur karena sudah mampu lagi merampungkan pembangunan salah satu pura milik desa adat dan disungsung oleh semua golongan masyarakat adat.Pyasan Baru

Menurut informasi yang saya terima bahwa usia dari pura ini hampir sama dengan usia pura Batur yang ada di Pusat Desa. Upacara pemelaspas kali ini akan berlanjut dengan Upacara Piodalan, yang merupakan kelanjutan dari Piodalan yang berlangsung di Pura Batur beberapa hari sebelumnya, dan hal ini merupakan kegiatan yang berlangsung sejak lama. Seingat saya, upacara piodalan di Batur selalu dilanjutkan dengan piodalan di Pura Dayang Sari ini. Menurut pemikiran saya, mungkin inilah yang dijadikan pedoman bahwa pembangunan ataupun penemuan (menurut informasi penemuan sebagian pura biasanya pada tahap pertama itu adalah penemuan berupa bebaturan) pura ini waktunya berdekatan dengan pura Batur, makanya setiap piodalan di Pura Batur akan dilanjutkan dengan piodalan di Pura Dayang Sari. Mungkin!, ini baru analisa saya, untuk informasi yang lebih mendekati akan saya update terus tulisan ini pada waktu-waktu yang akan datang.

Dan ini adalah Bebaturan yang sangat disucikan. Bebaturan inilah yang menjadi tonggak penemuan lokasi Pura untuk pertama kalinya. Sama dengan penemuan Bebaturan yang sekarang dijadikan Pura Batur di Pusat Desa Pekraman.

Bebaturan yang sangat disucikan oleh Krama Desa

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 April 2010 in SOSBUD

 

Tag:

PERAYAAN NYEPI CAKA 1932 DI GALIUKIR

Senen, 15 Maret 2010 pagi masyarakat Galiukir sudah mulai menyibukkan diri untuk mempersiapkan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1932. Sebenarnya persiapan ini sudah dilakukan sejak beberapa hari yang lalu, baik di lingkungan Merajan masing masing, ataupun di Pura Khayangan Tiga Desa Pekraman. Bahkan, anak muda Galiukir semuanya sudah bertindak sejak sekitar tiga minggu yang lalu, baik anak muda yang ada di perantauan maupun yang berada di lingkungan Desa Pekraman, mereka bahu membahu mempersiapkan semuanya demi meriahnya perayaan Hari Raya ini, terutama kemeriahan ini akan ditunjukkan pada hari Senen 15 Maret ini – sehari sebelum Hari Nyepi yang jatuh keesokan hari, yaitu Selasa 16 Maret 2010. Sehari sebelum Hari Raya Nyepi in lebih dikenal dengan Pangerupukan, di mana pada hari ini semua Umat Hindu di Indonesia tak lepas juga yang berada di Desa Pekraman Galiukir mengadakan upacara yang biasa disebut dengan Upacara Tawur Kesanga.

Sebelum Upacara Tawur Agung Kesanga yang rencananya dimulai pukul 13.00 WITA, bertempat di Pura Batur(Desa), semua warga khususnya Staf masing-masing Merajan mengadakan Upacara Nuntun kembali Pratima-pratima dan Ida Bhatara yang di Sucikan pada hari sebelumnya. Namun sebeleum acara nuntun kembali ke Merajan masing-masing, semua warga tadi mengadakan persembahyangan bersama yang dipinpin langsung oleh Jro Mangku Gede/Desa.

Nampak juga dalam gambar Jro Bendesa Adat dan para stafnya ikut mendampingi Jro Mangku Dalem, dalam kesempatan itu beliau memberikan pewarah-warah tentang pelaksanaan Upacara Pecaruan yang akan diadakan di siang harinya. Sekaligus juga memberikan penjelasan tekhnis pelaksanaan Upacara dan kelanjutan dari upacara tersebut termasuk acara pengarakan ogoh-ogoh yang dilakukan oleh para pemuda dan anak-anak.

Pura

Pura Puseh

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2010 in SOSBUD

 

Tag:

Profesi Penduduk Galiukir.

Seperti yang sudah ditulis dalam Profil, bahwa 90% lebih masyarakat Galiukir hidup sebagai petani penggarap, sedangkan sisanya ada yang hidup dari ber-wiraswasta, dan ada juga PNS, TNI dan POLRI. Menurut keterangan Kepala Dusun Galiukir Kaja, bahwa sekitar 250 KK Warga yang bertempat tinggal dan berdomisili di Desa Pekraman ini menggarap lahan pertanian mereka sendiri. Ada sebagian kecil yang menggarap lahan milik petani yang lain, yang bisasanya juga kerabat mereka sendiri. Jenis produk unggulan yang mereka tanam adalah berbagai macam dan jenis Kopi, sedangkan jenis unggulan kedua adalah Cacao (Coklat) menyusul kemudian Kelapa, Cengkeh, dan Tumbuhan yang hasilnya bisa dikonsumsi secara langsung seperti Durian, Manggis, Salak, Pisang dan bahkan termasuk Wani yang sekarang ini populasinya sudah berkurang dibandingkan beberapa tahun yang lalu.

Dalam Gambar bisa anda lihat model perkebunan yang diterapkan oleh sebagian besar oleh para petani yang ada di Galiukir. Model ini dikenal dengan istilah “Tumpang Sari”, yang mana di dalam satu lahan perkebunan diisi dengan beragam jenis tumbuhan, seperti yang tampak dalam gambar di sana ada Cacao, Pisang, Kopi (tak terlalu terlihat karena ditutupi oleh pohon Coklat). Bahkan dalam lahan seperti itu juga petani menyelipkan pohon-pohon yang hanya diambil batangnya saja (berbagai macam kayu), seperti Gempinis, Tangi, Majegau, dan berbagai jenis kayu yang bisa digunakan untuk bahan bangunan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Februari 2010 in SOSBUD

 
 
%d blogger menyukai ini: