RSS

Arsip Kategori: PRODUCT

PETERNAKAN

bebek 1Salah satu Potensi lain yang dimiliki oleh Desa Pekraman Galiukir adalah Peternakan. Bidang kehidupan yang satu ini, saat ini sedang dikembangkan kembali oleh beberapa kelompok masyarakat Galiukir. Disamping peternakan ayam yang memang dari dulu sudah ada, dan selalu mengalami perkembangan tetapi untuk peternakan jenis ini memang sering mendapat kenadala. Kendala yang paling banyak dihadapi oleh para peternak ayam adalah, penyakit kronis ayam yang juga sudah ada sejak ayam itu ada. Penyakit ayam ini memang sangat sulit untuk diberantas, oleh karena itulah maka beberapa peternak terkadang melaksanakan kegiatan peternakan ini menjadi tidak konsisten. Disamping itu, permodalan juga menjadi kendala bagi beberapa kelompok masyarakat peternak ayam. Ayam yang dikembangkanpun, selama ini masih ayam kampung yang notabene juga hanya untuk keperluan dan kepentingan Upacara Agama. Di Galiukir memang belum ada yang mengembangkan peternakan ayam secara besar-besaran, baik itu ayam kampung (yang selama ini masih mendominasi), maupun ayam Broiler yang nota bene untuk pemasarannya jauh lebih gampang.

bebek 2Dalam beberapa hari belakangan, ada sekelompok kecil masyarakat Galiukir yang mau mengembangkan Peternakan Bebek, namun sayang hal ini belum tersosialisasikan secara meluas di masyarakat. Melalu tulisan inilah saya mencoba memberikan beberapa point penting yang perlu diketahui oleh para pembaca mengenai peternakan ini. Sebelumnya saya mohon maaf, karena informasi ini baru sepintas, dan sumber dari informasi ini berasal dari saudara Galoer kita yang bernama I Ketut Puja Artha. Semoga di lain kesempatan beliau bisa memberikan penjelasan yang lebih rinci tentang peternakan Bebek ini, dan ketika itulah maka tulisan ini akan saya Update lagi.

Inilah beberapa point penting yang bisa saya tampilkan dari keterangan Ketut Puja, silahkan direnungkan, mungkin ada diantara warga Galoer yang tertarik dengan penjelasan ini :
1 Ternak BEBEK, ini sangat punya potensi yang luar biasa untuk dikembangkan dan keuntungannya bisa 200% dari modal
2 Pemasaran BEBEK sangat gampang, hampri di semua kabupaten membutuhkan bebek apalagi yang jualan LALAPAN di pinggir pinggir jalan diseputaran BADUNG dan DENPASAR
3 Faktanya Di desa kita belum ada yang mengembangkannya ( ada tetapi ala kadarnya )
4 Hanya butuh modal Rp 1.000.000 sudah bisa mulai belajar berternak 9 ini sudah pernah dicoba oleh keluarga tiyang )
5 Iklim ( SUHU, CUACA ) di desa kita sangat bagus untuk beternak

Demikian, semoga informasi ini ada manfaatnya bagi teman-teman pembaca umumnya dan warga Galoer khususnya yang ingin mencoba untuk memperluas Jendea Usahanya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 Maret 2011 in PRODUCT

 

Tag:

CHIPS BUAH YANG SUDAH DIKEMAS

Tulisan ini adalah lanjutan atau update tulisan terdahulu mengenai Chips Khas Galiukir. Dalam tulisan ini, saya publikasikan hasil akhir dari proses pembuatan Chips Buah yang dibuat dari hasil perkebunan petani Galiukir, yang diolah oleh salah satu anggota Kelompok Tani, yang bernama I Nyoman Astawa (Pan Thomas).

Berikut saya tampilkan gambar dari 2 jenis Chips tersebut :

1. Chips Salak

chips salak

2. Chips Kelapa

chips kelapa 

Demikianlah tulisan ini saya buat, bagi para pembaca yang berminat silahkan hubungi Nyoman Astawa yang beralamat di Br.Dinas Galiukir, Desa Kebonpadangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali. Atau kirimkan masukan ke Blog ini… ke e_mail : wiastranyoman@gmail.com.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Desember 2010 in PRODUCT

 

CHIPS ALAMI KHAS GALIUKIR

Belakangan ini, ada satu kelompok tani yang melakukan aktivitas dan kreativitas yang bertujuan untuk meningkatkan penghasilan dan pendapatan keluarga mereka di tengah himpitan ekonomi. Salah satu kreativitas yang mereka lakukan adalah dengan memproduksi makanan kecil (snack) yang dibuat dari berbagai hasil perkebunan mereka seperti; buah salak, pisang, kelapa, ubi kayu (singkong), dll.

Dalam tulisan ini, saya akan menampilkan salah satu dari pembuatan produk tersebut, yaitu Chips yang berbahan “Singkong” (Ubi Kayu). Chips yang dibuat oleh salah satu anggota kelompok tani ini merupakan makanan kecil/camilan yang sangat alami, mengapa, karena Chips ini dibuat dari bahan-bahan hasil perkebunan petani Galiukir, dan dalam proses pembuatannya mereka tidak menggunakan bahan penyedap, tanpa pengawet dan juga tanpa pewarna. Dalam gambar di bawah akan diperlihatkan mulai dari pengupasan umbi, sampai dengan Chips setengah jadi (siap untuk di goreng).

1. Ubi di kupas seperti terlihat dalam gambar. (Ini adalah untuk 3 kg bahan mentah).

Singkong

2. Setelah di kupas, kemudian dirajang (cacah) seperti dalam gambar.

Singkong diracah

3. Setelah terrajang menjadi bagian-bagian kecil kemudian diulek hingga halus, seperti gambar di bawah.

Singkong sudah diulek

4. Langkah selanjutnya adalah menjadikan bahan yg sudah dihaluskan tersebut manjadi lembaran-lembaran tipis seperti terlihat dalam beberapa gambar di bawah ini.Alas yang digunakan untuk mebuat lembaran tersebut adalah plastik tipis transparan yang banyak bisa anda jumpai di warung terdekat.

Singkong digilas rata

Singkong digilas rata dan tipis

5. Lalu, lembaran-lembaran tipis tersebut dipotong-potong membentuk persegi empat yang teratur dengan besaran yang disesuaikan.

Hasil gilasan yg tipis dipotong-potong

6. Lembaran-lembaran yg sudah terpotong-potong tersebut, karena masih basah maka ia akan tetap melekat di atas plastik transparan yg digunakan sebaga alas tersebut. Setelah potongan-potongan yang masih terangkai dengan plastik tersebut selesai di buat, maka berikutnya adalah proses penjemuran dilakukan.

Penjemuran

7. Jemurlah bahan Chips tadi beberapa saat, sampai kering, seperti terlihat dalam gambar berikut.

Hasil jemuran bahan chips

Inilah bahan Chips Singkong Khas Galiukir yang sudah siap digoreng dan dibungkus ataupun dimakan sebagai camilan.

Nah dalam update tulisan saya yang akan datang, akan saya cantumkan produk yang sudah siap dipasarkan. Menurut pembuat dari Chips ini, ada kendala yang dihadapi mereka dalam mengembangkan makanan kecil ini, yaitu masalah Pemasaran. Mudah-mudahan dengan posting tulisan ini, ada pembaca yang mempunyai informasi tentang pemasaran yang pas untuk hasil kreativitas warga Galiukir ini, saya mohon informasinya dan kirimkan saran ke alamat Blog ini, atau e_mail ke wiastranyoman@yahoo.co.id. Terimakasih.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Desember 2010 in PRODUCT

 

Panen Kopi 2010 di Galiukir

Inilah hasil panen tahun ini untuk sekitar 200 pohon.

Untuk panen kopi Galiukir tahun 2010 ini sudah dimulai sejak pertengahan bulan Juni dan diperkirakan berakhir nanti awal Agustus ini. Menurut keterangan beberapa petani penggarap, bahwa untuk hasil panen kali ini tidak mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan panen tahun lalu, padahal seharusnya menurut perkiraan awal bahwa hasil panen ini meningkat. Tidak meningkatnya hasil panen kali ini disebabkan oleh faktor cuaca yang cukup ekstrim, dimana curah hujan tahun ini cukup tinggi. Hal tersebut mempengaruhi daya tahan buah menurun, dan alhasil banyak buah kopi yang masih muda pada bulan-bulan awal perkembangannya (sekitar Februari dan Maret) yang rontok dari ranting. Inilah faktor dominan yang menyebabkan melesetnya perkiraan perolehan hasil panen dari para petani.Sebagian buah sudah dipetik.
Tetapi situasi tersebut tidak menimbulkan kekecewaan dari para petani, bahkan mereka tetap mempunyai keyakinan yang tinggi bahwa tahun depan, kalau cuaca kembali bersahabat, maka mereka akan mampu meningkatkan hasil yang lebih baik dibandingkan tahun ini. Itupun kalau seandainya Pemerintah bisa menjaga standar harga kopi dan mengontrol harga pupuk. Sebab kopi jenis ini, atau dengan pola tanam yang diterapkan oleh petani seperti ini, kalau tidak ditopang dengan pemupukan yang sesui, maka para petani sulit untuk meningkatkan hasil panennya. Yang paling dikeluhkan oleh mereka adalah, melambungngnya harga pupuk dan rendahnya harga kopi di pasaran nasional. Melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan keluhan mereka kepada instansi terkait, untuk bisa lebih memfokuskan perhatian pada mereka, dengan kebijakan-kebijakan yang mampu meningkatkan harga kopi dan menjaga stabilitas harga pupuk yang terjangkau. Kalau saja mereka mendapatkan perhatian seperti tersebut, penulis yakin bahwa para petani kopi, khususnya di Galiukir, akan semakin bersemangat untuk merawat dan menjaga serta meningkatkan kualitas hasil kopi yang diharapkan oleh pasar nasional dan internasional.
Sesuai dengan kebiasaan petani penggarap yang ada di Galiukir, bahwa mereka terbiasa melakukan pemetikan buah kopi yang sudah memenuhi standard yang ditetapkan oleh Dinas Perkebunan, yaitu petik tua. Maksudnya, bahwa mereka akan memtik buah kopinya kalau sudah tua walaupun belum merah 100%. Seperti dalam gambar bisa anda saksikan, para petani di Galiukir memetik buah kopi mereka sekaligus kalau sudah 80% merah.

Sebagian sudah dipetik, dan ada yang masih hijau.

Buah kopi yang sebagian masih hijau sisa dari yang telah dipetik.

Menurut beberapa keterangan dari mereka yang sudah berpuluh-puluh tahun berpengalaman dalam bidang ini, bahwa kalau mereka memetik buah kopi mereka pada saat buahnya terlalu tua, maka mutu dari kopi tersebut sesungguhnya kurang bagus, dan tidak tahan untuk di stok dalam kurun waktu yang lama. Ada yang mengatakan bahwa kopi yang terlalu tua lebih cepat dicari hama bubuk, dibandingkan kopi yang dipetik pada saat masih merah muda atau hijau tapi sudah tua.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Juli 2010 in PRODUCT

 

Sistem dan Model Perkebunan

Seperti yang sudah saya tulis di halaman terdahulu, bahwa sistem dan model penanaman kopi yang dilaksanakan di Galiukir adalah dengan model “Tumpang Sari”. Model ini memungkinkan petani untuk memvariasikan jenis tanaman yang mereka tanam di lahan yang mereka miliki, tapi tetap dengan memprioritaskan pada tanaman kopi. Dalam tulisan terdahulu juga saya sudah menulis bahwa para petani kopi juga menggunakan berbagai jenis kayu produksi yang digunakan sebagai pohon pelindung, diantaranya adalah Gempinis (Sejenis Kajimas), ada juga yang menanam Tangi, Majagawu (dua kayu ini merupakan kayu langka yang populasinya sangat sedikit), dan juga ada yang mewarisi kayu “Gintungan”.

Dalam gambar terlihat salah satu pohon gempinis yang digunakan oleh petani sebagai pohon pelindung. Dengan menggunakan jenis kayu seperti itu, maka petani mendapatkan keuntungan ganda, disamping sebagai pelindung tanaman kopi, pada saatnya kayu tersebut juga bisa ditebang untuk dijual atau dipergunakan untuk bahan bangunan. Disamping gempinis, anda juga bisa melihat jenis kayu yang lain seperti Kayu Cempaka Kuning bukan yang Putih yang fungsinya sama dengan kayu gempinis tersebut. Kelebihan daripada kayu Cempaka tersebut adalah disamping kayunya bisa dimanfaatkan, pohon tersebut juga memiliki kwalitas kayu yang lebih dari gempinis dan bisa digunakan untuk bahan bangunan tempat-tempat suci seperti pura, merajan (tempat suci pemeluk Hindu-mayoritas penduduk Desa Pekraman Galiukir). Gambar yang saya tampilkan ini sebenarnya gambar lahan perkebunan seorang petani yang memiliki luas areal perkebunan yang tidak begitu luas, maka untuk memaksimalkan Sistem Tumpang Sari, maka petani tersebut benar-benar memaksimalkan dan memvariasikan jenis tanaman pelindung yang digunakan.

Disamping jenis pelindung yang saya sebutkan tadi ada juga yang menggunakan jenis kayu Gintungan (Bahasa Bali), yang kebetulan sudah dia warisi dari orang tuanya bahkan mungkin dari kakek pemilik lahan tersebut. Jenis kayu ini juga keberadaanya sangatlah langka di sini. Jenis kayu ini termasuk jenis kayu keras dan berusia panjang. Semua jenis kayu yang sudah saya sebutkan di atas memiliki keunggulan masing-masing, yang jelas kayu-kayu tersebut tidak mengganggu tanaman kopi yang berada di bawahnya. Di kejauhan juga nampak jenis kayu yang lain seperti Pohon Nangka dan lain-lain.

Nah itulah yang saya maksudkan dengan sistem dan model tumpang sari yang diterapkan olah para petani penggarap di Galiukir, bahkan munkin di seluruh kecamatan Pupuan. Maksud dan tujuan tumpang sari tersebut secara logis mungkin bisa dijelaskan, kalau seandainya tanaman utama yang ada di lahan tersebut tidak maksimal, maka dimungkinkan tanaman yang lain bisa menopang penghasilan pertahunnya. Disamping itu dengan pola tersebut juga dimungkinkan tidak memotong jadwal kerja dari petani penggarap. Dengan kata lain, semakin banyak jenis tanaman yang ditanam, maka pekerjaan mereka juga akan bervariasi, dan hasil yang diharapkan juga bervariasi.

Dan berikut ini salah satu hasil dari lahan perkebunan kopi yang menggunakan sistem tumpang sari. Untuk lahan yang luasnya sekitar 0,8 ha, seorang petani penggarap bisa menghasilkan kopi kurang lebih 20 kwintal (kopi gelondongan basah). Dalam contoh gambar yang saya perlihatkan ini, kondisi tanaman kopi petani ini juga sudah tidak maksimal, hal tersebut disebabkan karena usia pohon kopi sudah tua, sekitar 25 tahun. Dalam usia tanaman kopi setua itu, untuk mencari hasil yang maksimal sudah sulit. Walaupun demikian kualitas buah kopi yang tampak seperti dalam gambar ini tidak perlu diragukan, karena sistem pemetikannya juga sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian, yaitu petik merah, dengan kata lain petani boleh memtik kopinya kalau 80% lebih buah sudah dalam keadaan merah (tua). Dengan ketentuan itu, maka kualitas yang dihasilkan juga akan sangat bagus, juga tidak mudah dicari oleh hama pengerat buah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Februari 2010 in PRODUCT

 

PERKEBUNAN KOPI

Kopi merupakan produk unggulan perkebunan di wilayah Desa Pekraman Galiukir. Rata-rata per KK yang memiliki lahan perkebunan menanam Kopi sebagai komuditas dan penghasilan penduduk utama. Jenis dan klon kopi yang ditanam beragam, mulai dari BP, dll. Secara umum jenis kopi yang ditanam adalah Robusta yang sudah dimodifikasi yaitu dengan cara di-stek sehingga pohon menjadi tidak terlalu tinggi. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menambah produksi per panennya. Seperti yang bisa anda lihat dalam gambar, pohon kopi ini berusia antara 6-8 tahun dan pada saat gambar ini diambil, buah kopi sudah mulai menua dan akan siap dipanen sekitar bulan Agustus sampai dengan Oktober 2010 ini. Dalam usianya tersebut, diperkirakan bahwa kebon kopi ini pada bulan yang telah disebutkan tadi merupakan panen yang ke dua kalinya. Kopi jenis ini, masa efektif menghasilkan buah adalah pada usia 10 sampai dengan 20 tahun. Dan usia maksimal dari pohon kopi jenis ini adalah 30 tahun lebih, tergantung cara perawatan dan pemeliharaan pohon oleh petani pemilik kebun tersebut.

Seperti yang terlihat dalam gambar, di sekitar tanaman kopi banyak terdapat jenis tanaman yang lain seperti gamal, dapdap, pohon kelapa, dan coklat (cacao). Semua jenis tanaman ini difungsikan sebagai pohon pelindung daripada tanaman kopi tersebut. Walaupun seperti tanaman coklat tersebut sebenarnya juga merupakan salah satu tanaman produksi unggulan, tapi dalam kasus lahan milik petani dalam gambar ini, coklat tersebut difungsikan sebagai pohon pelindung, begitu juga dengan kelapa. Masih ada banyak lagi jenis tanaman lain yang bisanya digunakan sebagai pohon pelindung seperti berbagai jenis kayu keras yang bisa digunakan sebagai bahan bangunan seperti, kajimas, gempinis (sejenis kajimas) dan lain-lain. Dalam tulisan ini, saya belum bisa menampilkan jenis tanaman kayu tersebut. Mungkin nanti dalam tulisan saya yang lain saya akan berusaha menampilkan gambar dari sebuah lahan perkebunan yang memiliki pohon pelindung dari berbagai jenis kayu produksi yang bisa digunakan untuk bangunan perumahan dan lain-lain.

Dalam gambar berikut ini saya tampilkan gambar Kopi jenis BP yang paling banyak di tanam di kampung kami. Gambar ini sengaja saya ambil dari dekat, sehingga tidak tampak jelas ketinggian pohon yang sebenarnya sudah dimodif dimana aslinya pohon bawah yang disetek tersebut merupakan pohon kopi dari jenis yang lain yang kemudian disambung dengan jenis kopi BP. Dalam satu pohon kopi tersebut, bisa saja memiliki cabang yang diambil dari jenis yang lain, dan dimungkinkan disambung dengan jenis dan klon kopi yang beragam. Hal tersebut dimungkinkan dengan maksud untuk menambah produktivitas tanaman, karena dengan menyambung  cabang dari berbagai jenis bisa memudahkan tanaman untuk mengadakan perkawinan silang sehingga hasil yang diinginkan menjadi bervariasi.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Februari 2010 in PRODUCT

 
 
%d blogger menyukai ini: