RSS

Arsip Kategori: CULTURES

Rejang Renteng

Tarian ini dipersembahkan oleh Ibu-ibu PKK dari semua tempek, yang diambil 2 orang. Silahkan saksikan penampilan mereka.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 September 2017 in CULTURES

 

PUJAWALI BATUR 2012

Dalam tulisan ini, saya hanya bisa menampilkan foto-foto dari kegiatan Pujawali (Piodalan) yang berlangsung di Pura Batur Desa Pekraman Galiukir, pada hari Jum’at, 6 April 2012 (Purnamaning Kedasa). Piodalan ini, berlangsung selama 3 hari yang berakhir pada hari Senen, 9 April 2012.

Rejang

Ada satu hal yang menarik perhatian warga dalam Piodalan kali ini, dimana para sutri baru sangat banyak yang terjaring. Banyak yang bertanya-tanya ada fenomena apa, kenapa para sutri yang baru ini terjaring dari anak – anak remaja yang usianya masih belasan tahun, banyak diantara mereka yang masih duduk di bangku SMP. Dan pada piodalan kali banyak sekali “Tapakan Ida Bhatara” yang kerawuhan, kalau tidak salah ada puluhan. Tapi, jujur saya akui, hal ini membuat hati saya sebagai pribadi (hamba Beliau) merasa bahagia, walaupun sesekali bertanya dalam hati “Adakah Warga Galiukir bahagia, sebahagia para Tapakan Ida Bhatara yang tergambar dari raut mereka?, Semoga!”.

Cobalah perhatikan raut-raut mereka, dan kalau tertararik silahkan di download!

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 10 April 2012 in CULTURES

 

Tawur Agung Kesanga di Galiukir

Dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1932 yang tepatnya jatuh pada hari Selasa 16 Maret 2010, masyarakat Galiukir mengadakan

Saat Mecaru sedang berlangsung.

Tawur Agung Dimulai

upacara Tawur Agung yang dipusatkan di Depan Pura Desa dan Dalem. Acara tersebut dimulai pukul 13.00 WITA yang diikuti oleh sebagian masyarakat Galiukir, laki-perempuan, tua-muda… semuanya ikut memeriahkan upacara tersebut. Terlihat dalam gambar, bahwa upacara Tawur Agung sudah dimulai, yang dipinpin oleh Jro mangku Dalem didampingi oleh Jro Mangku Desa dan Puseh.Upacara tersebutberlangsung dengan sangat khimad dan dimaksudkan  untuk mengadakan pembersihan diri dalam rangka menyambut tahun baru Caka 1932 keesokan harinya, disamping itu Umat Hindu di seluruh Indonesia juga melaksanakan acara tersebut dengan tujuan untuk memberikan sajian-sajian suci kehadapan para Dewata dan juga terutama kepada para Bhuta Kala, agar mereka tidak mengganggu kehidupan manusia di dunia ini. Tujuan akhir dari pada upacara Tawur Kesanga tersebut adalah untuk menetralisir kekuatan kekuatan jahat dari energi-energi alam yang negative, sehingga benar-benar menjadi netral dan normal, sehingga tidak menimbulkan efek negatif terhadap kehidupan alam semesta. Kami umat Hindu, terutama yang ada di Galiukir melaksanakan hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan penuh dengan keyakinan.

Pemasupatian Ogoh-ogoh

Setelah upacara Tawur Agung (Mecaru) dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan mengarak ogoh-ogoh keliling Desa Pekraman. Dalam gambar tampak sebelum ogoh-ogoh diarak dan dibawa keliling, maka semuanya dipasupati dengan tujuan agar aura(energi) negative yang kami yakini dimiliki oleh ogoh-ogoh tersebut, tidak mempengaruhi si pembawanya, sekaligus mohon restu kepada Tuhan, agar beliau selalu melindungi kami semua seluruh warga Desa, khusunya kepada mereka yang mengarak ogoh-ogoh tersebut.

Setelah Pemasupatian dilaksanakan, maka acara dilanjutkan dengan pentas tek-tekan anak-anak Galiukir yang sekaligus akan mengiringi arak-arakan mengelilingi Desa. Dalam pentas anak-anak itu, tampak mereka sangat cekatan dalam memainkan Jenis Kesenian Khas Tabanan ini. Mereka sangat antusias dalam pentas tersebut dengan diiringi juga oleh tarian gembira dari seorang Warga yang baru saja pulang kampung dari tempat kerjanya di Yogyakarta. Beliau bernama I Nengah Astawan. Menurutnya, ia sangat gembira bisa menghadiri acara yang diadakan oleh Desa Pekraman Galiukir kali ini, dan dia dengan tulus ikhlas mempersembahkan apa yang ia bisa untuk Desa dimana dia dilahirkan.

Tektekan anak-anak Galoer

Group Tek-tekan anak-anak ini dilatih oleh seorang pemerhati Seni dan Budaya, seorang putra asli Galiukir yang bernama I Putu Redes. Beliau melatih anak-anak ini tidak begitu lama, menurut informasi beliau, bahwa dia melatih anak-anak itu sekitar 2 minggu dan disamping itu beliau juga dibantu oleh 2 orang Putra Galiukir yang lain bernama I Putu Junaedi dan I Komang Abdi Setiawan(penabuh Kendang), yang memang tamatan Sekolah Seni Kerawitan Batubulan Gianyar. Menurut para pelatih ini, bahwa ternyata anak-anak Galiukir banyak yang mempunyai bakat seni, apakah itu seni tabuh maupun seni tari, dan kalau mereka tidak diperhatikan maka bakat yang mereka punyai tidak akan pernah bisa berkembang. Oleh karena itulah, muncul ide mereka untuk mengabdikan kemampuannya demi anak-anak Galiukir untuk tetap mampu mempertahankan Adat Budaya dan Seni Bali yang telah diwariskan oleh para pendahulu kami. Sungguh bangga kami memiliki pejuang-pejuang seni seperti mereka, semoga mereka bisa mengabdikan kemampuannya demi Ajegnya Bali kedepan.

Ogoh-ogoh Pasemetonan Rantauan

Setelah pentas tektekan beristirahat, kemudian dilanjutkan dengan mengarak ogoh-ogoh keliling Desa Pekraman. Acara ini dimulai sekitar pukul 16.00 WITA, dan diikuti oleh sekitar 10 kelompok dengan 10 ogoh-ogoh. Para peserta pawai(parade) ini datang dari banyak kalangan, diantaranya dari Kalangan Pemuda Rantauan (warga Galiukir yang mencari penghidupan di luar Desa Pekraman termasuk juga anak-anak sekolahan). Menurut  koordinatornya yang bernama “I Gede Deddy Aryadi dan I Nyoman Agus Wisayana”, bahwa ogoh-ogoh ini dibuat dengan menggunakan dana iuran dari para warga rantauan baik yang ada di Denpasar maupun yang di Tabanan. Menurut mereka dana yang dihabiskan sekitar 2,5 juta rupiah termasuk ongkos angkut ke Desa Pekraman. Dengan kesadaran penuh mereka ikut meramaikan acara parade/pawai ini dengan tujuan ikut memeriahkan acara penyambutan Tahun Baru Caka kali ini, disamping itu mereka ingin ikut berkontribusi demi Desa Pekraman mereka sendiri.

Ogoh-ogoh seke teruna

Yang membuat acara pawai ini menjadi semakin meriah, yaitu dengan terlibatnya juga Seke Teruna Galiukir dalam kesempatan tersebut. Mereka juga dengan sangat antusias ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Menurut Ketua Seke Teruna, bahwa keterlibatan mereka itu disebabkan rawa keterpanggilan hati masing-masing anggota seke teruna untuk ikut ngaturang ayah kepada Desa Pekraman. Rasa keterpanggilan tersebut mereka wujudkan juga dengan ikut berpartisipasi dalam pawai ogoh-ogoh. Waktu pembuatan ogoh-ogoh seke teruna ini menghabiskan dana sekitar 2,5 juta rupiah juga yang mereka dapatkan dari dana punia dari warga Desa dan juga sumbangan beberapa pihak termasuk tokoh masyarakat dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. nampak dalam gambar mereka dengan penuh semangat mengarak ogoh-ogoh  dan yang membuat kami juga bangga bahwa mereka semua bisa dengan tertib dan teratur dalam mengikuti dan melaksanakan acara tersebut, jauh dari kekhawatiran yang beredar sebelumnya bahwa mereka akan membuat kekacauan dalam ritual tersebut. Salut kami terhadap mereka.

Kelompok anak-anak

Jang paling mengejutkan juga ternyata ada satu kelompok anak-anak perempuan yang juga ikut mengarak (menjadi peserta pawai) ogoh-ogoh tersebut. Para anak perempuan ini tidak mau kalah semangat dengan rekan-rekannya yang lain yang laki-laki, mereka juga dengan cekatan bisa menggerak-gerakkan ogoh-ogoh sehingga terlihat seperti menari… semua penonton ikut bangga dengan keterlibatan mereka.

Pawai ogoh-ogoh kali ini mengambil rute Bale Banjar-Pura Puseh, balik lagi sampai di Banjar Adat Dayang, kembali lagi ke Pura Puseh dan berakhir di Pura Dalem Desa Pekraman. Pawai ini dimulai berakhir sekitar pukul 18.30 WITA dengan lama waktu sekitar 2,5 jam. Tapi walaupun demikian, anak-anak peserta pawai terlihat sangat gembira dan senang, sedikitpun mereka tidak terliha kelelahan padahal rute yang ditempuh sekitar  4 km, cukup jauh untuk ukuran anak-anak.

Setelah pawai berakhir, masing-masing warga di rumah memulai acara terakhirnya, yaitu dengan membawa caru, sapu lidi, tirta dan api mengelilingi tempat tinggalnya untuk mengusir (menetralisir) kekuatan jahat yang ada di sekitarnya. Acara ini lebih dikenal warga dengan nama “Mebuwu-buwu”, sebagai rangkaian terakhir dari Upacara Tawur Agung di Desa Pekraman Galiukir dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi keesokan harinya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2010 in CULTURES

 

Tag:

 
%d blogger menyukai ini: