RSS

Asal-usul Galiukir (Cerita Sangat Pendek)

Pemahbah Penulis Blog :

Sebelum saya mau menceritakan sekelumit tentang asal-usul Galiukir, ijinkan saya mohon maaf, karena apa yang akan saya ceritakan berikut ini tidak berdasarkan referensi berupa buku, ataupun prasasti. Semua kejadian yang ada dalam cerita yang sangat singkat ini, saya susun berdasarkan cerita dari mulut-kemulut, yang diceritakan oleh orang tua (kakek, bapak) saya. Karena masyarakat kami sekarang ini sangatlah majemuk, maka kemungkinan ada versi yang lain sangat tinggi. Oleh karena itu, kalau cerita ini tidak sesuai dengan versi temen-temen pembaca, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan saya mengharapkan cerita menurut versi temen-temen dikirimkan ke saya nanti melalui alamat e_mail. Kemudian kita padukan, dan jangan terlalu dipermasalahkan perbedaan yang ada, tapi mari kita cari benang merah keterkaitan cerita menurut versi kita masing-masing.

Saya mengatakan bahwa ini saya susun berdasarkan sumber informasi dari orang-orang yang saya mintai informasinya sebagai sebuah “Versi”, karena sumber tersebut menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi tidak berlandaskan referensi berupa buku/lontar ataupun pransasti, mereka bercerita pada saya berdasarkan cerita yang didapatkan dari orang tua mereka. Kemungkinan nanti dalam halaman yang lain ssaya akan menulis sesuai dengan sumber informasi dari orang galiukir sendiri yang saya katagorikan dalam “Versi” lain. Dan kemungkinan ada lebih dari satu/dua versi tulisan, dan akan saya tulis dalam halaman-halaman yang berbeda.

95

Setra Desa Pakeraman Galiukir

Versi Penulis

Dari informasi yang saya dapatkan bahwa pada awalnya nama Galiukir itu berasal dari  nama “Alas Ukir”, dimana nama ini merupakan nama Pasek yang pertama datang ke Desa ini. Galiukir berasal dari dua kata yaitu “Alas/Gali“, yang berarti “hutan” dan “Ukir” yang juga berarti “hutan/gunung/rimba“. Jadi kalau nama ini diurai maka akan berarti ‘sebuah tempat di kaki gunung yang mempunyai areal hutan yang cukup luas. Kenyataanya, memang  Desa Pekraman Galiukir terletak di kaki Gunung Batukaru sebelah barat daya, yang daerahnya merupakan daerah perkebunan yang cukup luas. Dalam cerita lisan turun-temurun dikisahkan bahwa, salah satu Putra dari Pasek Toh Jiwa yang bernama “Pasek Alas Ukir” di utus oleh salah satu Raja yang berkuasa di Bali untuk datang ke suatu tempat mencari penghidupan dan membuka areal pertanian baru. Akhirnya tibalah beliau di suatu tempat yang menurut beliau bagus dan cocok untuk ditempati. Mulailah beliau bersama beberapa pengikutnya untuk bekerja membuka ladang dan persawahan. Setelah beberapa waktu mereka bekerja, kemudian mereka menemukan suatu benda berupa ‘Batu’ yang mereka yakini mempunyai kekuatan ‘Magis’ yang sangat kuat. Oleh karena itulah kemudian Batu tersebut mereka sucikan sesuai dengan cara Beliau dan para pengikutnya lakukan. Setelah batu tersebut mereka sucikan, batu tersebut mereka jadikan tonggak (pusat) desa, dan dijadikanlah tempat tersebut sebagai Tempat Persembahyangan bersama, dan jadilah tempat itu sebagai Pura Puseh, dan karena di sana ada Batu Suci yang dijadikan Pusat/Puser/Puseh desa, maka pura tersebut sampai saat ini dikenal dengan “Pura Batur”. Seiring dengan berjalannya waktu, kemudian Pasek Alas Ukir ini wafat, yang kemudian oleh para pengikut dan generasinya, nama beliau dikukuhkan menjadi nama Desa sebagai salah satu penghormatan terhadap beliau atas jasa beliau yang telah menemukan tempat ini sebagai daerah hunian baru dan tempat mencari penghidupan bagi generasi berikutnya. Seiring berjalannya waktu, maka nama Alas Ukir tersebut menjadi Galiukir.

Dalam cerita lisan turun temurun, dahulu kala generasi Pasek Alas Ukir ini pernah bermukim di daerah yang sekarang di namakan “Puma”, sebelah barat Desa sekarang. Mereka pindah tempat (Nomaden) dari tempat pertama kali mereka tiba yaitu di “Batu Dinding” yang merupakan perluasan dari pusat desa (Pura Batur) yang mereka temukan. Alasan kenapa mereka pindah, karena konon untuk menghindari bahaya longsor Munduk Ngandang yang berada tepat di atas Batu Dinding tersebut. Bahkan menurut cerita tersebut, penduduk Alas Ukir yang bermukim di daerah “Puma” itu sudah mencapai 200 KK. Karena jumlah tersebut sudah mencapai jumlah yang ideal untuk membuat “Tri Khayangan”, maka oleh Sepuh Desa saat itu berkeinginan untuk memindahkan Pura Batur ke sana. Namun hal tersebut rupaya tidak mendapat restu dari Dewa yang berstana di Batur, sehingga proses pemindahan tersebut mengalami kegagalan. Pada saat Batu (Bebaturan) yang sebenarnya tidaklah begitu berat (untuk ukuran kekuatan 1 banjar) mau dipindah, sayangnya sesampai di pertemuan Pangkung Yeh Tawan dan Pangkung Kituk (Konon sesampai di pertemuan anak sungai/pangkung Yeh Tawan dengan Pangkung yg belum ada namanya itu, orang kitak-kituk (bingung sehingga mengeleng-gelengkan kepala,saking beratnya Bebaturan tersebut, sejak itulah anak sungai tersebut dinamai Pangkung Kituk), orang yang mengangkat Bebaturan itu ‘kesereb’ (kelelahan)… dan lama kelamaan Batu tersebut terasa semakin berat. Karena hari sudah malam, masyarakat memutuskan untuk mengangkat keesokan harinya. Apa yang terjadi, begitu hari berganti, keesokan harinya ketika masyarakat mau mengangkat Batu tersebut, tiba-tiba Batu tersebut hilang, dan setelah dicek  ternyata sudah kembali ke tempatnya semula. Sejak itulah masyarakat tidak berani lagi mengangkat dan memindahkan Batu/Bebaturan tersebut dan membatalkan pemindahannya.

Singkat cerita, entah karena kejadian tersebut, menurut cerita, penduduk desa sejak itu mulai berkurang secara drastis disebabkan oleh penyakit menular (Gering Agung), sehingga mencapai 12 KK yang tersisa. Akhirnya karena penyakit itu dan juga karena serangan semut yang menyebabkan mereka tidak bisa lagi menempati tempat tinggalnya, mereka memutuskan untuk pindah lagi ke tempat di sekitar Pura yang dijadikan pusat desa untuk pertama kalinya, yaitu di sekitar Pura Batur. Kemudian dalam perkembangan berikutnya, penduduk yang tersisa dan yang kembali menempati sekitar Batur ini, tidak ada yang menceritakan lagi. Dengan kata lain, informasi kelanjutan peradaban generasi ini, informasinya terputus. Dengan terputusnya informasi itu, saya selaku orang yang menceritakan kisah ini hanya bisa sampai di sini, dan berikutnya hanyalah ansumsi-asumsi pemikiran saya semata.  Dan akhirnya jumlah penduduk yang 12 KK tersebut kembali berkembang sampai menjadi 550 KK sekarang (belum termasuk yang sudah Transmigrasi).

Bukti dari keberadaan Desa yang ada di Puma tersebut bisa dilihat dari banyaknya benda benda kuno yang ditemukan oleh para petani yang mewarisi daerah tersebut, seperti misalnya piring-piring kuna, tembikar, pis bolong dll. Bahkan sekarangpun masih ada penduduk yang terkadang menemukan benda-benda seperti itu ketika mereka mengolah sawah atau kebun yang diyakini bahwa benda itu merupakan harta dari penduduk jaman dahulu yang bermukim di sana.

Demikianlah sekilas asal-usul Desa Pekraman Galiukir menurut cerita yang diceritakan secara lisan dan turun temurun oleh para orang tua kami di desa. Penulis dalam hal ini juga mendapatkan informasi dari kakek dan nenek yang menceritakan dengan lisan. Jadi cerita ini tidak berdasarkan Bukti berupa Prasasti, yang sampai sekarang tidak pernah ditemukan. Tetapi walaupun demikian, saya sebagai penulis cerita ini masih percaya dengan isi cerita tersebut sebagai “Asal muasal dan Asal-usul” dari Desa Pekraman Galiukir.

Sebelum tulisan ini saya tutup, ijinkan saya minta waktu kepada para pembaca untuk mencari sumber-sumber yang relevan untuk menyempurnakan tulisan ini. Dalam waktu mendatang, mungkin tulisan ini akan selalu saya ‘update’ tergantung dari informasi-informasi yang saya dapatkan, disamping itu saya mohon doa restu para pembaca, mudah-mudahan saya diberkahi oleh Ida Betara yang berstana di Pura Batur sehingga saya selalu mendapat kesehatan, kerahayuan, sehingga saya bisa meneruskan tulisan ini dan kita sebagai generasi Galiukir memperoleh informasi yang benar tentang keberadaan Desa Pekraman yang kita cintai ini.

Berkat Asung Waranugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa, akhirnya saya sudah mendapatkan versi lain dari seorang penutur, bagi teman-teman yang mau mendapatkan file cerita tersebut, silahkan kontak saya di Facebook, Twitter, atau g_mail saya : wiastranyoman@gmail.com, atau melalui situs ini, atau melalui http://www.wiastra.blogspot.com.

 

4 responses to “Asal-usul Galiukir (Cerita Sangat Pendek)

  1. made bayu bratayasa

    24 Desember 2010 at 00.08

    tiang keturunan orang galiukir,tiang sudah lama nggak kesana.ini yg nulis benar org asli galiukir?tiang anak dari gede soekadana.nenekku klo nggak salah gusti ayu siluh wangi klo kakekku ketut kerep….klo benar nih desa bapakku tolong dong tampilkan foto2 rumah nenekku aku kangen melihatnya

     
    • Nyoman Wiastra

      25 Desember 2010 at 13.37

      Bener, tyang orang galiukir asli? Rumah tyang, di sebelah timur rumahnya Ketut Buat suami dari Bibi Pulu, mungkin adik Made tahu? Mengenai foto rumah nenek Made, tyang coba dulu konfirmasi ke Ketut Buat, atau Ketut Wisnu, sabar ya…. mudah-mudahan tyang dapat foto-fotonya, atau mungkin tyang punya waktu untuk mengambil fotonya…

       
  2. ketut budiasa

    9 September 2013 at 10.06

    kami melihat apa yang tertayangkan lewat media internet sangat bangga dengan kreatif dan aktifitasnya desa galiukir yang mampu memperlihatkan desa pekramannya. kt.budiasa, smp5 negeri anggasari

     
    • Nyoman Wiastra

      12 September 2013 at 05.27

      Terimakasih Pak Ketut atas komentarnya, ini baru sebagian kecil sumbangan tyang untuk Desa Pekraman. Mudah-mudahan dengan adanya sarana ini, Desa Pekraman Galiukir akan semakin eksist dan krama yg ada di luar akan selalu mengetahui perkembangan yg ada di kampung.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: