RSS

Spiritual Time Part 4

09 Mei

NILAI DARI KEBAIKAN

Kebaikan yang dilakukan bukan sebagai bentuk balas jasa untuk orang lain adalah kebaikan yang sangat berharga, jauh lebih berharga daripada kebaikan yang dilakukan sebagai bentuk balas jasa. Pemberian tulus yang diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan kepada siapa yang tidak ada kewajiban langsung untuk melakukan itu, adalah kebaikan yang tak ternilai. Kebaikan yang dilakukan sebagai balasan atas kebaikan yang diterima sebelumnya adalah baik dan alami, tetapi nilainya tidak pernah dapat menyamai besarnya nilai kebaikan yang dilakukan sebagai tindakan murni, yang lahir dari kemurahan hati semata. Kemurahan hati seseorang benar-benar teruji ketika dia memberikan bantuan kepada orang yang benar-benar membutuhkan yang kemungkinan besar tidak bisa memberikan balasan yang memadai atas kebaikan tersebut. Ada pesan bijak: “Ketika anda melakukan kebaikan, janganlah meniup terompet atas kebaikan itu.” Pesan ini memberi siratan pemikiran bahwa seseorang tidak boleh menggembar-gemborkan kebaikan yang telah dilakukannya sehingga tidak membuat kebaikan tersebut jatuh ke dalam kemunafikan. Kekayaan akan benar-benar menjadi bermanfaat ketika itu digunakan untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan, dan itulah fungsi sesungguhnya dari kekayaan. Ketika kekayaan digunakan untuk membantu orang yang benar-benar membutuhkan bantuan; ketika sesuatu ada di tempat yang sesuai pada fungsinya, apakah perlunya hal seperti itu digembar-gemborkan? “Menggembar-gemborkan orang kaya yang memberikan bantuan kepada orang yang patut dikasihani, sesungguhnya tidak ada gunanya, sebab hanya satu gunanya kekayaan itu, yaitu untuk membantu orang yang membutuhkan; jika digunakan lain dari pada itu, sesungguhnya itu derita dari kemiskinan.”—Sarasamuccaya 174. Menggembar-gemborkan kekayaan yang telah digunakan untuk membantu orang lain dikatakan tidak berguna, bahkan bisa terperosok ke jurang kemunafikan, apalagi menggembar-gemborkan kekayaan yang hanya dinikmati sendiri tanpa pernah digunakan untuk membantu orang lain, tentu saja, itu adalah sangat tidak terpuji. Sementara itu, supaya bantuan bisa mencapai tujuannya dengan baik, harus diingat bahwa bantuan yang diberikan harus memperhitungkan desa, kala dan patra. Jika bantuan itu tepat pada sasaran, waktu dan situasinya, meskipun bantuan tersebut mungkin sepele nilai materialnya, akan menjadi sangat berharga dan bermanfaat.

buku1

buku2

buku3

PENTINGNYA PEMUJAAN BAGI JIWA KITA

Upacara pemujaan merupakan tindakan suci yang paling penting dalam kehidupan umat Hindu pada umumnya. Melalui itu kita menyerukan keagungan Tuhan, dan semestinya itu kita lakukan sebagai ekspresi tulus dari cinta, bhakti dan penyerahan diri kita kepada-Nya. Dalam pemujaan, denting genta mengiringi pujastuti sang manggala puja, kepulan asap dupa atau padupan menebarkan keharuman membangkitkan hasrat suci penuh pengabdian, bercahayakan api suci dipa atau lentera, sajian persembahan mengungkap rasa penuh bhakti, dan kumandang kidung-kidung suci menyerukan keagungan Tuhan, memanggil, memohon, untuk datang, hadir dalam wujud kegembiraan dan ketenangan, keheningan penuh kasih, yang kemudian memberkati dan membantu kita, dan yang paling utama adalah untuk perkembangan spiritual kita. Pemujaan kita adalah perjamuan suci, penuh pesona dan persembahan cinta. Ini adalah bagian dari hari-hari kita di mana kita berbagi secara sangat dekat dan sadar dengan Tuhan kita yang tercinta, dan dengan demikian bagi umat Hindu hal ini merupakan poros dari kehidupan beragama. Upacara pemujaan kita yang penuh pesona, melayani semua umat dengan berbagai tingkat kesadaran yang dimiliki masing-masing pemuja, tidak ada yang sesat, semua sah menurut tingkat kesadarannya masing-masing, dan karenanya pemujaan merupakan ekspresi perayaan kegembiraan dari peristiwa penting dalam hidup, penyembahan dan puji syukur, pengakuan dan permohonan, atau kontemplasi di tingkat kesadaran yang terdalam. Berbagai bentuk pemujaan dapat kita jumpai, yang dilakukan pada hari-hari baik dalam perhitungan Hindu, dengan cara yang paling sederhana hingga cara yang sangat rumit, dalam tradisi yang kukuh yang diselenggarakan di berbagai tempat di mana umat melakukan aktivitas sehari-harinya: di pura, di rumah, di kantor, di jalan, di pasar, di sawah, di gunung, di laut dan lain-lain, karenanya di manapun berada umat merasa sangat dekat dengan Tuhan. Upacara pemujaan adalah pengorbanan suci, menyerupai alat tenun dengan benang-benang direntangkan dengan berbagai cara, menghasilkan tenunan dengan beragam corak, demikian pemujaan Hindu terdiri dari ritual yang tak terhitung banyaknya dan penuh kreasi. Masing-masing pemuja duduk pada alat tenunnya masing-masing, dengan gembira menata benang-benang mengungkapkan kreasi terbaiknya, untuk dipersembahkan sebagai bhakti kepada Tuhan. Oh, Indahnya!

13139087_1212926802053269_4677637124487880175_n

MURTI ADALAH SARANA KOMUNIKASI

Murti: patung, arca, gambar, citra, Nama-Nama Suci Tuhan dan simbol lainnya adalah sarana komunikasi kita dengan Tuhan. Sri Ramakrishna Paramahamsa mengatakan, “Sebagaimana buah mainan atau hewan mainan mengingatkan seseorang akan buah asli dan hewan hidup, begitu juga citra yang disembah mengingatkan seseorang akan Tuhan yang tidak berwujud dan abadi.” Kita menyembah Tuhan yang tak terbatas melalui murti-murti yang terbatas, kemudian secara mental menempatkan-Nya di sana, dan itu kita hormati sebagai wujud sementara-Nya. Kita berkomunikasi dengan Tuhan melalui sarana itu dalam upacara-upacara pemujaan. Tuhan sama sekali tidak menolak, apalagi murka, atas penggambaran yang kita berikan untuk Dia tak tergambarkan, Dia yang acintya; tak terpikirkan. Dia tetap melimpahkan kasih-Nya melalui itu secara proporsional sesuai dengan kualitas bhakti yang kita miliki. Arca batu, kayu atau logam, atau gambar, Nama-Nama Suci Tuhan dan simbol-simbol Ketuhanan lainnya, tidak hanya sekadar simbol, tetapi dari balik semua wujud itu mengalir kasih, kekuatan dan anugerah ke dunia ini seiring penghormatan dan ungkapan bhakti kita kepada Tuhan melalui itu. Kita bisa analogikan misteri ini sebagaimana kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui telepon. Ketika kita menelepon seseorang, kita tidak berbicara dengan telepon, melainkan kita menggunakan telepon sebagai sarana komunikasi dengan orang lain yang mungkin ada di belahan bumi yang beribu-ribu kilometer jauhnya dari kita. Tanpa telepon, kita tidak bisa berkomunikasi dengan jarak sejauh itu, demikian pula tanpa murti yang disucikan kita yang masih dominan hidup dalam kesadaran naluriah-intelektual tidak bisa dengan mudah berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika kita merindukan kekasih kita yang berada nun jauh di sana, dan belum bisa bertemu secara langsung karena masih terbelenggu oleh kesibukan kerja, sementara kita bisa menggunakan telepon sebagai sarana berkomunikasi untuk sedikit mengobati rasa rindu kita sambil menunggu waktu untuk bisa bertemu secara langsung, demikian pula halnya ketika kita merindukan Tuhan dan belum bisa bertemu langsung dengan-Nya karena masih terbelenggu dalam kesadaran eksternal, kita bisa sedikit mengobati kerinduan kita melalui murti yang kita pilih sebagai sarana berkomunikasi, merasakan getaran-getaran kasih-Nya, sambil terus meningkatkan kesadaran spiritual kita hingga pada akhirnya nanti benar-benar bisa bertemu dengan-Nya; menyadari-Nya di Puncak Kesadaran.

TERIMA DAN NILAILAH KASIH DARI SUATU KEBAIKAN

Anak-anak, termasuk semasa kecil kita dulu, dibelajari berterima kasih dengan mengucapkan ‘terima kasih’ saat menerima suatu kebaikan. Ya, lebih dalam lagi, kita harus berterima kasih; menerima dan menilai kasih dari suatu kebaikan yang diberikan. Mereka yang mengerti nilai kebaikan, tidak akan menilai dari sisi nilai materialnya atau besar kecilnya suatu kebaikan. Mereka yang tahu nilai sebenarnya dari kebaikan akan melihat energi kasih yang mengalir dari sebuah kebaikan, bukan seberapa besar kebaikan itu. Sebagaimana orang menilai pohon buah, tidak melihat besar kecilnya pohon, tetapi seberapa banyak dan seberapa besar buah yang ada di pohon itu. Besarnya bantuan yang diberikan mungkin sangat kecil, tetapi penerima yang sangat membutuhkannya akan menganggap itu sebagai hal yang sangat besar, sebagaimana orang yang sangat kehausan akan menganggap pemberian segelas air untuknya sebagai sesuatu yang sangat besar. Jadi, nilai sebenarnya dari kebaikan selain tergantung pada sikap si pemberi juga ketepatan pada waktu dan kebutuhan penerima, serta pada karakter dan kelayakan penerima. Ketika seseorang ingin memberi balasan atas kebaikan yang telah diterimanya, balasan itu tidak harus didasarkan pada besarnya kebaikan yang telah diterimanya, tetapi pada kebesaran hati orang yang memberikan kebaikan itu. Kebesaran hati seseorang tidak dilihat dari seberapa besar kebaikan yang mampu dilakukan, tetapi dari ketulusannya ketika melakukan suatu kebaikan. Ketulusan adalah kemurnian, yang benar-benar bebas dari hasrat mementingkan diri sendiri. Itu adalah refleksi dari atman, energi spiritual kita. Adi Shankaracharya mengatakan, “Siapa selain atman yang mampu melepaskan seseorang dari ikatan kebodohan, hasrat dan tindakan yang mementingkan diri sendiri?” Dari pemahaman ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa kita dapat menilai tingkat spiritualitas kita sendiri dari kualitas ketulusan kita, bukan dari seberapa banyak referensi pemahaman spiritual yang kita miliki, bukan dari seberapa hebat kita berdebat tentang spiritual, bukan pula dari seberapa digdaya kesaktian yang kita miliki. Dari orang-orang yang tulus kita menerima kasih sesungguhnya dalam kebaikannya. Seharusnya kita tidak pernah mengabaikan hubungan dengan seseorang yang berhati tulus; yang tidak pernah mengorbankan persahabatan mereka, yang selalu berada di ‘dekat’ kita pada saat kesusahan.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Mei 2016 in RAGAM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: