RSS

Spiritual Time Part 3

07 Mei

Semua tulisan dalam Tag “Spiritual Time” ini tyang petik dari Buku yang berjudul “108 Renungan Suci” karya dari “Jro Mangku Suro”, Penerbit “Paramita” Surabaya.

,buku renungan

AGAMA ADALAH PRILAKU, BUKAN KEYAKINAN BELAKA

Amritanandamayi mengatakan”Pengetahuan rohani adalah beban jika dibawa dalam kepala, tapi indah jika dibawa masuk ke dalam hari”. Belajar atau mendalami kerohanian bukan masalah menghafal dan meyakini ayat-ayat suci, tetapi bagaimana memahami dan menyerap ayat-ayat suci tersebut kedalam bentuk prilaku. Dengan kata lain, apa yang dipelajari dapat membentuk karakter, sesuai dengan ajaran Dharma yang telah diserap selama pembelajaran. Tanpa penyerapan seperti itu, maka yang ada hanyalah pembelajaran dangkal yang tidak akan membawa perubahan karakter yang signifikan. Bahkan pembelajaran yang dangkal cenderung menghasilkan fanatisme keyakinan yang menjadi sumber konflik di antara umat beragama.

Terkait dengan hal ini, Sarvepalli Radhakrisnan menegaskan, “Agama adalah Prilaku, bukan keyakinan belaka.” Ajaran Dharma seharusnya dipelajari untuk memahami aturan main dalam permainan kehidupan ini.Setelah aturan main difahami, bermainlah dengan lebih baik, dalam wujud prilaku, sesuai dengan aturan main yang ada. Tanpa untuk tujuan tersebut, sebanyak dan setinggi apapun ajaran Dharma dipelajari, tidak akan membawa manfaat. Apalah artinya semua ajaran Dharma yang telah dipelajari jika itu tidak digunakan untuk menaklukkan musuh musuh yang masih ercokol di dalam diri kita – Sadripu ; enam musuh : Kama (keiinginan), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Moha (kebingungan), Mada (kemabukan), dan Matsarya (kedengkian). Hidup ini adalah permainan, tapi bukan untuk main-main. Jika main-main dengan aturan mainnya, kita akan dipermainkan dalam permainan ini. Sebagaimana dalam sebuah permainan olahraga, ketika semua pemain berbaindengan bagus dan sportif, trampil dan mengikuti semua aturan main yang ditetapkan, walaupun permainan berjalan keras sekalipun, akan tetap mengasikan. Karena dilandasi sportivitas, kerasnya permainan tidak akan memancing pemain untuk bermain kasar. Demikian pula dalam permainan kehidupan ini.

Dalam suatu permainan olahraga, ketika lawan bermain kasar, seorang pemain profesional yang menjunjung sportivitas tidak akan membalas dengan ikut bermain kasar, tetapi tetap berupaya menampilkan permainnanterbaiknya dan sportif. Demikian pula para bijaksana dalam memainkan perannya dalam permainan kehidupan ini. Menyenangkan ketika bertemu, dan terkenang penuh kerinduan ketika bepisah, adalah dampak dari amal kebijaksanaan. Jangan kita menjadi sumber kejengkelan orang lain, ketika bertemu, dan melegakan hati mereka ketika kita pergi. Belajar tetap rendah hati terhadap orang lain, penuh kasih, adalah belajar untuk tidak menjadi rendah. Orang yang sennatiasa rendah hati terhadap orang lain tidak membuatnya menjadi rendah, tetapi itu akan membawanya pada kemuliaan. Sebaliknya, kesombongan atau tinggi hati akan membuat orang menjadi rendah. Semakin dalam sumur digali, semakin banyak air di dalamnya, semakin banyak orang belajar ilmu kerohanian, semakin banyak hikmah kebijaksanaan yang diapatkan. Namun demikian, pastikan sumur yang digali berstruktur kuat, tidak gampang ambrol. Jangan sampai kita trkubur sendiri  oleh longsoran tanah sumur. Walaupun struktur tanahnya tampak kuat, jika ditemukan gas beracun ketika digali, keluarlah dari galian tersebut sesegera mungkin sebelum gas beracun semakin banyak terhirup dan membunuh kita.

Demikian pula halnya dalam hal mendalami ilmu kerohanian. Hindari mendalami itu pada orang-orang yang emosinya masih goyah, atau pada orang-orang yang suka meracuni orang lain dengan provokasi-provokasi kebencian dan permusuhan, dan kaa-kata dusta. Sungguh, mereka adalah sumber yang akan membunuh kedamaian siapapun yang datang untuk menyerap ilmunya. Ingat, agama adalah prilaku, bukan hanya keyakinan belaka. Di dalam Sarasamuscaya 161 dikatakan “walau seorang agamawan yang telah lanjut usia sekalipun, jika ia tidak memiliki prilaku susila, untuk apa disegani; walaupun ia seorang yang miskin dan dipandang remeh, jika prilakunya susila, dia sungguh patut untuk dihormati dan disegani.” Kebijaksanaan adalah pelindung dalam terpaan badai penderitaan, dan merupakan benteng pertahanan yang tidak bisa ditembus dan dihancurkan oleh musuh. Ini yang dimaksudkan ketika Mahatma Gandhi mengatakan,”Tak ada yang bisa menyakiti saya tanpa seizin saya.” Ketiadaan atau hilangnya kebijaksanaan dalam diri adalah izin kita, untuk tersakiti, untuk menderita dalam penderitaan. Ini senada dengan perkataan; “Siapa atau apapu tidak akan bisa merampas kebahagiaan yang kita miliki, kecuali kita menyerahkannya.” Keinginan egois, keserakahan, kemarahan, kebencian, kemabukan, kebingungan dan kedengkian terhadap orang lain atau suatu hal, apapun alasannya, adalah sarana kita untuk menyerahkan kebahagiaan, terampas dari genggaman hati kita. Hindarilah!

APAKAH TUHAN MENGHUKUM PELANGGAR KESUCIAN?

Banyak orang memahami karma baik sebagai hadiah dan karma buruk yang dialami sebagai hukuman atau kutukan dari Tuhan. Namun para bijak memberikan pemahaman kepada kita bahwa Tuhan adalah kebajikan, cinta kasih dan kebenaran yang sempurna. Dia bukan pemarah, pencemburu, pemurka atau pendendam. Dia tidak mengutuk atau menghukum pelanggar hukum kesucian. Kemarahan, kemurkaan, dendam, kecemburuan dan kesombongan adalah sifat-sifat alam naluriah manusia, bukan Tuhan. Kita menghindari perbuatan berdosa bukan karena takut akan dikutuk Tuhan, tetapi karena kita memahami hukum karma yang telah ditetapkan-Nya, dimana perbuatan berdosa akan menciptakan karma negatif dan membawa penderitaan bagi diri kita sendiri. Seorang teman bertanya, “Apakah itu berarti bahwa semua karma buruk yang dialami manusia adalah kehendak manusia itu sendiri, bukan kehendak Tuhan?” Saya memberikan analogi: seorang penegak hukum yang arif bijaksana memvonis penjahat bukan berdasarkan kemarahan, kebencian, sakit hati, atau dendam, tetapi berdasarkan pasal-pasal dalam undang-undang peradilan yang telah ditetapkan. Tidak ada alasan untuk pernah takut kepada Tuhan. Tuhan senantiasa bersama kita, bahkan ketika kita tidak menyadari kehadiran-Nya nan suci itu. Tuhan tidak pernah terpisah dari semua yang terbatas ini dan tidak menjadi terbatas karenanya. Ketika kita melakukan perbuatan berdosa, kita menciptakan karma negatif untuk diri kita sendiri dan kemudian harus hidup melalui pengalaman penderitaan untuk memenuhi hukum karma. Karma tersebut mungkin menyakitkan, tapi mereka dihasilkan dari pikiran dan perbuatan kita sendiri. Tuhan tidak pernah menghukum kita, bahkan jika kita tidak percaya kepada-Nya. Pemujaan luhur dan meditasi pada Tuhan merupakan sarana kita untuk melunakkan dan meredakan penderitaan yang kita ciptakan sendiri. Tuhan adalah esa; Tuhan dari semuanya; Tuhan dari orang-orang yang percaya, dan juga Tuhan dari orang-orang yang tidak percaya; Tuhan dari orang-orang yang beriman, dan juga Tuhan dari orang-orang yang tidak beriman. Tuhan tidak menghancurkan mereka yang jahat dan menyelamatkan mereka yang beriman, tetapi memberikan karunia berharga pembebasan untuk semua jiwa melalui jalan karma, pembelajaran yang membuatnya kian tumbuh dewasa, dan pada akhirnya akan menemukan sendiri kemerdekaannya.

KEBAJIKAN AGUNG NETRALITAS

Netralitas adalah sebuah kebajikan yang sangat agung ketika seseorang berhasil mengamalkan ketidakberpihakan terhadap semua orang. Hanya dalam netralitas ditemukan keadilan sebenarnya. Semakin tinggi kualitas kesadaran seseorang, akan semakin tinggi pula tingkat netralitasnya. Dalam kesadaran normal, di mana kita dominan hidup dalam kesadaran naluriah, keberpihakan itu terasa sangat kental, dan dari sinilah awal munculnya tunas ketidakadilan. Ketika tampuk-tampuk kekuasaan diduduki oleh mereka yang tidak memiliki netralitas, dapat dipastikan rakyat yang ada dalam kekuasaan mereka akan hidup dalam ketidakadilan hasil penetapan kebijakan-kebijakan yang tidak bijak, dan menjadi sumber utama terjadinya konflik di tengah masyarakat. Hanya setelah memiliki netralitas seseorang bisa menduduki posisi kekuasaan dengan baik. Kekayaan hati orang yang memiliki pandangan yang netral; tidak ada keberpihakan, akan tetap utuh, bahkan kekayaan hatinya akan semakin berkembang, dan menjadi bekal utama dalam perjalanan menuju tujuan; kebahagiaan yang sesungguhnya. Sedangkan keberpihakan yang ada di dalam hati seseorang sama halnya dengan menghambur-hamburkan kekayaan yang ada di sana, mengikuti kecenderungan indriyawi untuk menikmati berbagai kesenangan material, hingga akhirnya kelelahan sendiri. Tidak akan pernah ada ketenangan dalam kesenangan jika hal-hal yang menyenangkan itu dihasilkan dari perilaku tidak adil. Kehidupan material disebut sebagai ‘cakra manggilingan’, ibarat roda yang berputar, di mana pasang surut dalam kehidupan material tak terelakkan; para bijaksana memandangnya sebagai hiasan kehidupan itu sendiri dan tidak membiarkan hati mereka terombang-ambing dalam kedua hal itu. Suara hati adalah suara kebenaran, sekaligus menjadi alarm ketika ada ketidakbenaran yang ingin menyentuhnya, tetapi kebisingan dari berbagai keinginan material sering membuatnya tidak jelas, bahkan tidak terdengar sama sekali, dan menjadi terabaikan. Saat hati tergagap memikirkan sesuatu secara tidak adil, waspadalah bahwa kita berada pada jalur kehancuran. Saat hati tidak tergagap lagi saat memikirkan bahkan melakukan sesuatu secara tidak adil, ketahuilah bahwa kita sudah hancur. Mereka yang berhati mulia tidak akan memandang rendah pada para bijak yang hidup miskin, dan tidak menjunjung tinggi seseorang hanya karena dia kaya. Dalam netralitas, hati hanya memandang kualitas hati, bukan yang lain daripada itu.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2016 in RAGAM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: