RSS

Spiritual Time Part 1

06 Mei

MENGAPA HARUS BERKATA KASAR?

Ucapan yang tidak terlepas dari keramahan akan menghasilkan kebaikan dan akan mencerminkan kebajikan. Kata-kata yang menyenangkan dari orang yang penuh kasih akan membangun hal yang baik kepada orang lain dan menghasilkan berkah kebajikan. Kata-kata yang memotivasi dan menyenangkan yang berasal dari para bijak tidak akan produktif untuk memenuhi kebutuhan material tetapi bagus untuk membangun dan menjaga semangat dalam menghadapi multilitas dunia material. Kata-kata yang menyenangkan, yang diucapkan tanpa kedengkian sedikit pun, bebas dari maksud jahat, akan mendatangkan sukacita dalam hidup ini. Dengan pembicaraan yang rendah hati dan menyenangkan, mulut adalah ibarat sumber air bagi pemiliknya, yang memberinya kehidupan. Dengan mengucapkan kata-kata kasar penuh kedengkian, seseorang telah meracuni sumber airnya sendiri, yang hanya akan memberinya penderitaan. Setelah mengetahui manfaat kata-kata ramah yang menyenangkan, mengapa harus mengucapkan kata-kata kasar? Dari pengalamannya sendiri, seseorang yang tidak memiliki kebijaksanaan sekalipun telah sering kali menyadari pengaruh luar biasa dari kata-kata ramah dari orang lain yang menyenangkan baginya, tetapi ketika datang gilirannya untuk berkata-kata, dia lupa semua tentang hal itu dan tetap menikmati kata-kata kasar yang begitu menyakitkan. Siapa pun mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan akan merasakan kegerahan karena panasnya api amarah dari dirinya sendiri dan orang lain yang menerima perkataan itu. “Perkataan, walaupun maksudnya baik, jika itu diucapkan secara tidak baik, tidak hanya kepada yang mendengarkan, bahkan kepada yang mengucapkannya pun akan menimbulkan kedukaan.”—Sarasamuccaya 119. Menjadi tampak buruk dan tidak menyenangkan karena mengucapkan kata-kata kasar ketika kita seharusnya bisa mengucapkan kata-kata penuh keramahan yang menyenangkan, seperti halnya memilih untuk menikmati buah mangga mentah yang asam ketika kita memiliki buah mangga matang yang manis. Pemberian tidak harus dalam wujud materi. Apabila tidak mampu berbagi materi, bagikanlah senyuman, kata-kata dan ekspresi penuh kasih. Anandamayi Ma mengatakan “Cobalah untuk memperlakukan dengan kasih yang sama terhadap semua orang dengan siapa anda memiliki hubungan. Dengan demikian jurang antara ‘diriku’ dan ‘dirimu’ akan terisi, yang merupakan tujuan dari semua pemujaan religius.”

PEMUJAAN KITA BERSIFAT PRIBADI

Kegiatan dalam sebuah tempat suci Hindu bervariasi dari putaran pemujaan harian sampai perayaan yang rumit pada perayaan hari-hari yang disucikan. Walaupun kita ada di tengah kerumunan besar dari umat yang melakukan pemujaan pada saat yang sama, pemujaan kita adalah bersifat pribadi dan individu, bukan kongregasional atau berjamaah. Kualitas dari pemujaan kita tidak bergantung pada banyaknya anggota rombongan yang kita bawa, tidak bergantung pada banyaknya umat yang hadir, tidak bergantung pada siapa yang lebih dahulu hadir, tidak bergantung pada tempat duduk kita ada di barisan paling depan, tengah atau paling belakang, paling kanan atau paling kiri. Pada saat perayaan hari-hari suci, di luar pemujaan inti, masing-masing personal mengungkapkan bhaktinya dengan berbagai cara: dari persiapan, pelaksanaan hingga usai pemujaan, umat menghias tempat suci serta pelinggih-pelinggih, murti-murti, mempersembahkan berbagai wujud persembahan, manggala upacara melantunkan Veda, prosesi-prosesi, pembantu manggala melayani umat membagikan tirta, bija atau bentuk berkat lainnya, umat mengungkapkan bhakti dengan melantunkan kidung-kidung suci, menabuh gamelan, menabuh kentongan pura, mempersembahkan tarian sakral, memberikan dharma wacana, pertunjukan budaya, dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang kita jumpai, menikmati dan mengungkapkan bhakti masing-masing secara personal dalam semangat kebersamaan. Tatanan kebersamaan dalam pemujaan diatur untuk melahirkan keselarasan, bukan untuk menentukan sah atau tidak sah dari pemujaan tersebut. Semua ungkapan bhakti adalah sah dalam kualitasnya masing-masing. Semua persembahan eksternal merupakan upaya dalam mendekati Tuhan: mengenakan busana khusus untuk pemujaan sehingga kita merasa berbeda dengan saat mengenakan pakaian ke tempat kerja, pasar, hiburan, dll. Dengan itu pikiran kita berkata, “Saya akan melakukan pemujaan,” dan kita merasa layak untuk mendekati-Nya, merasa penampilan dan penyerahan diri kita diterima. Ini adalah untuk mempersembahkan penghormatan, kecintaan dan sujud bhakti kita dan kemudian melantunkan doa-doa kita, permohonan kita. Pemujaan secara eksternal jika tidak diteruskan secara internal akan berakhir sebagai acara yang bersifat mekanikal semata. Selama pemujaan, sisi internal kita harus diupayakan mengungkapkan bhakti yang sama dengan bahasa bhakti sebagaimana yang telah diungkap dalam simbol-simbol eksternal, berupaya untuk menyadari kebahagiaan Diri di dalam.

KEMAMPUAN UNTUK MEMILIH

Kehendak bebas berarti kemampuan untuk memilih di antara alternatif peluang-peluang. Tuhan telah memberi kita kemampuan untuk memilih antara hidup dalam pengabdian atau hidup dalam pemuasan indriya-indriya dengan konsekuensinya masing-masing. Silakan memilih dengan penuh tanggung jawab. Jika kehendak bebas kita memilih kepuasan indriya-indriya maka kita akan dituntun untuk mendapatkannya melalui hal-hal material, dengan cara yang baik atau buruk. Jika kehendak kita memilih untuk melakukan bengabdian maka kita akan dituntun untuk mendapatkan pengetahuan suci melalui kitab suci dan orang suci, memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Dalam suatu kerja atau aktivitas kita diberikan kehendak bebas, apakah kita mencoba menikmati hasil dari kegiatan itu atau mempersembahkannya sebagai ungkapan bhakti kepada Tuhan. Kehendak yang akan menentukan apakah kita tetap dalam perputaran karma eksistensi material atau kembali ke dunia spiritual. Kehendak bebas merupakan anugerah Tuhan untuk manusia. Dengan kehendak bebasnya manusia bisa memilih dan memutuskan apa yang akan dilakukan, apakah dia melakukan sesuatu untuk kenikmatan materialnya ataukah untuk kenikmatan jiwanya. Tuhan hanya menetapkan hukum-hukum dasar alam semesta ini di awal penciptaannya. Selanjutnya Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan tindakan yang ingin dilakukannya. Dan setiap tindakan yang dipilih akan membawa akibat sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan. Manusia tidak bisa memilih akibat apa yang akan dihasilkan dari perbuatannya. Semuanya tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Kita tidak bisa memilih hasil atas pilihan kita sebelumnya, tetapi kita tetap bisa memilih langkah selanjutnya atas hasil yang sedang kita petik. Tuhan tidak mengatur kita seperti seorang dalang wayang kulit yang sedang mempertunjukkan sebuah cerita, di mana para wayang hanya berperan sebagai peraga dari skenario yang telah dicanangkan seutuhnya oleh ki dalang. Tetapi di sini kita sebagai manusia dianugerahi kehendak bebas untuk berkreasi sendiri dalam melakoni cerita semesta ini tanpa harus keluar dari skenario utama-Nya yang mendasari jalan cerita secara keseluruhan.

“Apa yang anda miliki adalah pemberian Tuhan kepada anda, dan apa yang anda lakukan dengan apa yang anda miliki adalah pemberian anda kepada Tuhan.”

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2016 in RAGAM

 

One response to “Spiritual Time Part 1

  1. Nyoman Wiastra

    6 Mei 2016 at 14.59

    Semua tulisan ini tyang petik dari “https://web.facebook.com/mangkusuro”, Terimakasih Jro Mangku!

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: