RSS

Spiritual Part 2

06 Mei

KEMAMPUAN UNTUK MEMILIH

Kehendak bebas berarti kemampuan untuk memilih di antara alternatif peluang-peluang. Tuhan telah memberi kita kemampuan untuk memilih antara hidup dalam pengabdian atau hidup dalam pemuasan indriya-indriya dengan konsekuensinya masing-masing. Silakan memilih dengan penuh tanggung jawab. Jika kehendak bebas kita memilih kepuasan indriya-indriya maka kita akan dituntun untuk mendapatkannya melalui hal-hal material, dengan cara yang baik atau buruk. Jika kehendak kita memilih untuk melakukan bengabdian maka kita akan dituntun untuk mendapatkan pengetahuan suci melalui kitab suci dan orang suci, memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Dalam suatu kerja atau aktivitas kita diberikan kehendak bebas, apakah kita mencoba menikmati hasil dari kegiatan itu atau mempersembahkannya sebagai ungkapan bhakti kepada Tuhan. Kehendak yang akan menentukan apakah kita tetap dalam perputaran karma eksistensi material atau kembali ke dunia spiritual. Kehendak bebas merupakan anugerah Tuhan untuk manusia. Dengan kehendak bebasnya manusia bisa memilih dan memutuskan apa yang akan dilakukan, apakah dia melakukan sesuatu untuk kenikmatan materialnya ataukah untuk kenikmatan jiwanya. Tuhan hanya menetapkan hukum-hukum dasar alam semesta ini di awal penciptaannya. Selanjutnya Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihan tindakan yang ingin dilakukannya. Dan setiap tindakan yang dipilih akan membawa akibat sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan. Manusia tidak bisa memilih akibat apa yang akan dihasilkan dari perbuatannya. Semuanya tunduk kepada hukum-hukum-Nya. Kita tidak bisa memilih hasil atas pilihan kita sebelumnya, tetapi kita tetap bisa memilih langkah selanjutnya atas hasil yang sedang kita petik. Tuhan tidak mengatur kita seperti seorang dalang wayang kulit yang sedang mempertunjukkan sebuah cerita, di mana para wayang hanya berperan sebagai peraga dari skenario yang telah dicanangkan seutuhnya oleh ki dalang. Tetapi di sini kita sebagai manusia dianugerahi kehendak bebas untuk berkreasi sendiri dalam melakoni cerita semesta ini tanpa harus keluar dari skenario utama-Nya yang mendasari jalan cerita secara keseluruhan.

“Apa yang anda miliki adalah pemberian Tuhan kepada anda, dan apa yang anda lakukan dengan apa yang anda miliki adalah pemberian anda kepada Tuhan.”

MEWUJUDKAN PERDAMAIAN DUNIA

Perdamaian adalah refleksi dari kesadaran spiritual. Ini dimulai dari dalam diri setiap orang, dan meluas ke lingkungan rumah, tetangga, masyarakat, bangsa dan seterusnya. Perdamaian muncul ketika sifat-sifat yang lebih tinggi, sifat-sifat yang lebih mulia mengambil alih sifat-sifat yang lebih rendah. Sebelum kita memiliki perdamaian dalam hati kita sendiri, kita tidak bisa berharap untuk perdamaian di dunia. Perdamaian adalah keadaan alami dari jiwa kita. Hal ini ada di dalam, ditemukan dalam meditasi, dipertahankan melalui pengendalian diri, dan kemudian dipancarkan kepada orang lain. Cara terbaik untuk mengembangkan perdamaian adalah dengan mengembangkan spiritualitas kita dan membina keluarga kita sendiri secara damai, menyelesaikan semua konflik dengan cepat dan tepat. Di tingkat nasional dan internasional, kita akan menikmati lebih banyak ketenangan ketika kita menjadi lebih toleran. Para pemimpin agama dapat membantu dengan mengajarkan kepada pengikut mereka bagaimana hidup di dunia dalam perbedaan tanpa harus merasa terancam, tanpa memaksakan cara atau kehendak mereka pada orang lain. Badan-badan dunia dapat membuat hukum yang tegas menyalahkan dan menyesalkan tindakan kekerasan dan bekerja dengan melakukan langkah-langkah nyata untuk mencegah kejahatan kekerasan. Hanya ketika semakin tinggi rasa tanggung jawab orang atas terbinanya toleransi, perdamaian benar-benar akan muncul. Tidak ada cara lain, karena masalah konflik sesungguhnya hanya ada pada kelompok yang berpikiran rendah yang hanya tahu pembalasan dendam sebagai cara hidup mereka. Swami Vivekananda mengatakan, “Sektarianisme, kefanatikan dan keturunannya yang mengerikan, fanatisme, telah lama merasuki bumi yang indah ini. Mereka telah mengisi bumi dengan kekerasan, sering membasahinya dengan darah manusia, peradaban hancur dan membuat seluruh bangsa putus asa. Kalau bukan karena setan-setan yang mengerikan ini, masyarakat manusia akan jauh lebih maju daripada sekarang.” Dunia sekarang dipenuhi dengan begitu banyak jenis kekerasan. Segera setelah kita merasakan ketenangan, masalah dan musibah kekerasan lain kembali dipertontonkan oleh manusia-manusia berpikiran rendah. Semoga mereka dan kita semua belajar dari penderitaan hasil dari kekerasan … Semoga damai untuk bumi, damai untuk langit, damai untuk alam semesta! Semoga Tuhan memberikan kedamaian untuk saya, untuk kita semua! Semoga seruan perdamaian ini dapat menyebar dengan damai!

EKSISTENSI MATERIAL SEBAGAI KONDUKTOR DAN ISOLATOR

Apa yang dapat kita katakan tentang kehidupan dalam eksistensi material? Jiwa kembali lagi dan lagi mengambil wujud material untuk meneruskan perjalanan menuju kepada Sumber Asal. Dalam hal ini eksistensi material merupakan konduktor, di mana pengalaman dalam eksistensi material digunakan sebagai jalan penerus untuk mengantarkan jiwa individu menuju ke sumber asalnya. Melalui semua pengalaman dualitas dalam eksistensi material ini kita terus ditempa dan berkembang menjadi semakin dewasa, keluar dari rasa takut menuju ketabahan, keluar dari kemarahan menuju cinta kasih, keluar dari perselisihan menuju perdamaian, keluar dari kegelapan menuju pencerahan dan akhirnya manunggal dengan Tuhan. Kita mengambil kelahiran di dalam tubuh materi untuk tumbuh dan berkembang menuju kesadaran sejati kita sebagai jiwa-jiwa suci yang abadi. Tapi jika jiwa kemudian terperangkap dalam kesadaran material ini, maka hal ini adalah konyol karena tidak ada makna faktual, tidak ditemukan kesejatian di dalamnya. Kali Yuga atau zaman Kali, zaman sekarang ini, juga dikenal sebagai zaman edan atau zaman gila, karena kebanyakan dari kita tergila-gila untuk melayani tudung dari diri, tubuh material, bukannya melayani diri kita yang sejati, jiwa yang hidup di dalam tubuh. Akibat dari kegilaan kita, eksistensi material yang seharusnya berfungsi sebagai konduktor kemudian berubah fungsi menjadi isolator, semakin memisahkan jiwa-jiwa individu dari kesadaran asalnya. Dalam kesadaran yang terisolasi orang bangga menentang dharma, bukannya terlibat dalam bhakti, pengabdian tanpa pamrih, sesuai ashrama, varna dan svadharma masing-masing. Mereka yang terisolasi oleh avidya terseret dalam pemuasan indriya-indriya. Orang bijak menghindari hal yang konyol dan gila ini. Akhir-akhir ini setiap hari media massa memberitakan koruptor ditangkap KPK. Kita semakin sedih campur muak melihat para koruptor tampil di layar televisi mengumbar senyum di depan publik selayaknya tokoh hebat yang patut dibanggakan. Ini adalah contoh manusia yang bangga menentang dharma. Senyum bangga para koruptor menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki lagi rasa malu dan rasa bersalah atas kejahatan mereka, atas pelanggaran mereka terhadap dharma. Mereka tidak memiliki rasa malu sebagai figur publik dan sebagai orang yang beragama. Padahal setiap agama menyediakan tuntunan normatif bagi umatnya untuk berperilaku terpuji.

KERAMAHAN DALAM BERBAGI

Ucapan orang yang tercerahkan akan menjadi ramah, nyaman dan menyenangkan, tanpa ada jejak kebusukan di balik itu. Para bijak tahu apa yang bijaksana dan dapat diterima. Tetapi itu tidak berarti bahwa mereka akan mengucapkan suatu ketidakbenaran hanya untuk membuat senang orang yang mendengarkannya, dan juga, mereka tidak akan membenarkan perkataan teman baiknya yang tidak benar, hanya untuk membuatnya senang. Ada satu kata bijak yang mengatakan, “Teman yang baik bukanlah yang membenarkan semua perkataan anda, tetapi yang mengatakan apa yang benar kepada anda, dengan cara yang benar.” Kebenaran yang diucapkan oleh para bijak adalah terlahir dari pengetahuan dan kasih sayang yang tulus, dan selalu berhasil memisahkan kebenaran dari kekasaran kata-kata saat berbagi pemahaman akan itu dengan yang lain. Satu-satunya cara untuk berbicara tentang kebenaran adalah dengan cara yang ramah, nyaman dan menyenangkan, penuh kasih. Kata-kata bijak yang diucapkan dengan keramahan penuh kasih, adalah ibarat madu; manis dan menyehatkan. Demikian pula ketika berbagi dalam hal materi, perkataan ramah dan senyum penuh kasih, yang menyertai suatu pemberian, membuat pemberian tersebut menjadi lebih berharga lagi. Memberi itu baik, tetapi sikap si pemberi membuat perbedaan besar terhadap perasaan si penerima. Orang miskin akan merasa lebih bahagia jika ada orang kaya berbagi singkong rebus dalam keceriaan dan keramahan daripada berbagi uang dengan cara melemparkan kepadanya, walaupun kedua hal itu memang sama-sama untuk memberi. Sikap merendahkan atau meremehkan ketika memberi, meskipun tanpa disadari atau tidak disengaja karena sudah menjadi kebiasaan dalam perilaku si pemberi, secara substansial akan mengurangi nilai dari pemberian tersebut. Tindakan memberi menjadi kebajikan yang sesungguhnya ketika diberikan tanpa diminta, dengan wajah ceria dan perkataan yang ramah, tetapi bukan untuk akting semata. Ketulusan adalah dasar utama dari pemberian. Hati murni jauh lebih berharga daripada emas murni. Semua pemberian harus didorong oleh ketulusan dengan pertimbangan desa-kala-patra. “Pemberian yang diberikan dengan tulus tanpa mengharapkan balasan, meyakini itu sebagai kewajiban suci dan dilakukan pada sasaran atau orang yang tepat (desa), pada waktu yang tepat (kala) dan diberikan pada situasi yang tepat (patra). Pemberian demikian adalah pemberian yang sattvika.”—Bhagavad Gita 17.20.

AKU MAU KE MANA? JALAN MANA HARUS KUTEMPUH?

Setiap yang lahir pasti akan mati. Tetapi setiap kelahiran tidak sekadar untuk menuju kematian. Kelahiran kita di dunia material memiliki tujuan. Apa tujuan kita? Jalan mana harus kita tempuh? Para Rshi Veda menyatakan bahwa kita tumbuh berkembang menuju Tuhan, dan pengalaman adalah jalannya. Melalui pengalaman kita menjadi dewasa, keluar dari rasa takut menuju ketabahan, keluar dari kemarahan menuju cinta kasih, keluar dari perselisihan menuju perdamaian, keluar dari kegelapan menuju pencerahan dan manunggal dengan Tuhan. Kita mengambil kelahiran di dalam tubuh materi untuk tumbuh dan berkembang menuju kesadaran sejati kita sebagai jiwa-jiwa suci yang abadi. Di sisi dalam kita telah menyatu dengan Tuhan sejak awal. Tetapi kita yang demikian jauh terseret keluar dan hidup dalam kesadaran material diliputi avidya; kebodohan, kegelapan dalam ketidaktahuan, melupakan esensi diri kita sebagai jiwa-jiwa suci yang abadi; sebagai jiwa-jiwa individu yang secara kualitatif sama dengan Jiwa Agung Semesta, penuh pengetahuan dan kedamaian. Veda kita berisi pengetahuan bagaimana cara menyadari kembali keesaan ini. Para bijak berupaya menemukan makna penuh rahasia dari Veda. Veda adalah penunjuk jalan menuju kesadaran nenek moyang spiritual kita. Untuk mengikuti jalan dharma yang ditunjukkan oleh Veda dibutuhkan komitmen suci, berjanji kepada diri sendiri untuk berdisiplin diri mengamalkan berbagai sadhana yang diperlukan untuk mematangkan diri dalam yoga menuju kebijaksanaan. Pada langkah-langkah awal, kita mungkin merasa menderita, sangat terbebani dalam melakukan dharmasadhana, sampai akhirnya kita menjadi terlatih dan menikmati kebahagiaan dalam yoga, menemukan kembali hubungan cinta murni kita dengan Tuhan. Sebagaimana ketika kita belajar bersepeda, mungkin kita terjatuh beberapa kali di awal, sedikit oleng saat kita mulai bisa mengayuh, dan setelah benar-benar bisa bersepeda akhirnya kita merasakan bagaimana asyiknya bersepeda. Pengetahuan menuntun kita pada pelayanan; dan pelayanan tanpa pamrih adalah awal dari tuntunan spiritual. Pelayanan menuntun kita pada pemahaman yang semakin mendalam. Pemahaman yang mendalam menuntun kita untuk berserah diri kepada Tuhan. Ini adalah jalan yang menuntun kita ke arah kesadaran Diri, dan kemudian menuju moksha, terbebas dari samsara; perputaran kelahiran dan kematian. Ini adalah tujuan hidup paling utama.

Tulisan-tulisan ini dipetik dari Buku “108 Renungan Suci” Karya Jro Mangku Suro, Penerbit “Paramita” Surabaya.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2016 in RAGAM

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: