RSS

Sistem dan Model Perkebunan

25 Feb

Seperti yang sudah saya tulis di halaman terdahulu, bahwa sistem dan model penanaman kopi yang dilaksanakan di Galiukir adalah dengan model “Tumpang Sari”. Model ini memungkinkan petani untuk memvariasikan jenis tanaman yang mereka tanam di lahan yang mereka miliki, tapi tetap dengan memprioritaskan pada tanaman kopi. Dalam tulisan terdahulu juga saya sudah menulis bahwa para petani kopi juga menggunakan berbagai jenis kayu produksi yang digunakan sebagai pohon pelindung, diantaranya adalah Gempinis (Sejenis Kajimas), ada juga yang menanam Tangi, Majagawu (dua kayu ini merupakan kayu langka yang populasinya sangat sedikit), dan juga ada yang mewarisi kayu “Gintungan”.

Dalam gambar terlihat salah satu pohon gempinis yang digunakan oleh petani sebagai pohon pelindung. Dengan menggunakan jenis kayu seperti itu, maka petani mendapatkan keuntungan ganda, disamping sebagai pelindung tanaman kopi, pada saatnya kayu tersebut juga bisa ditebang untuk dijual atau dipergunakan untuk bahan bangunan. Disamping gempinis, anda juga bisa melihat jenis kayu yang lain seperti Kayu Cempaka Kuning bukan yang Putih yang fungsinya sama dengan kayu gempinis tersebut. Kelebihan daripada kayu Cempaka tersebut adalah disamping kayunya bisa dimanfaatkan, pohon tersebut juga memiliki kwalitas kayu yang lebih dari gempinis dan bisa digunakan untuk bahan bangunan tempat-tempat suci seperti pura, merajan (tempat suci pemeluk Hindu-mayoritas penduduk Desa Pekraman Galiukir). Gambar yang saya tampilkan ini sebenarnya gambar lahan perkebunan seorang petani yang memiliki luas areal perkebunan yang tidak begitu luas, maka untuk memaksimalkan Sistem Tumpang Sari, maka petani tersebut benar-benar memaksimalkan dan memvariasikan jenis tanaman pelindung yang digunakan.

Disamping jenis pelindung yang saya sebutkan tadi ada juga yang menggunakan jenis kayu Gintungan (Bahasa Bali), yang kebetulan sudah dia warisi dari orang tuanya bahkan mungkin dari kakek pemilik lahan tersebut. Jenis kayu ini juga keberadaanya sangatlah langka di sini. Jenis kayu ini termasuk jenis kayu keras dan berusia panjang. Semua jenis kayu yang sudah saya sebutkan di atas memiliki keunggulan masing-masing, yang jelas kayu-kayu tersebut tidak mengganggu tanaman kopi yang berada di bawahnya. Di kejauhan juga nampak jenis kayu yang lain seperti Pohon Nangka dan lain-lain.

Nah itulah yang saya maksudkan dengan sistem dan model tumpang sari yang diterapkan olah para petani penggarap di Galiukir, bahkan munkin di seluruh kecamatan Pupuan. Maksud dan tujuan tumpang sari tersebut secara logis mungkin bisa dijelaskan, kalau seandainya tanaman utama yang ada di lahan tersebut tidak maksimal, maka dimungkinkan tanaman yang lain bisa menopang penghasilan pertahunnya. Disamping itu dengan pola tersebut juga dimungkinkan tidak memotong jadwal kerja dari petani penggarap. Dengan kata lain, semakin banyak jenis tanaman yang ditanam, maka pekerjaan mereka juga akan bervariasi, dan hasil yang diharapkan juga bervariasi.

Dan berikut ini salah satu hasil dari lahan perkebunan kopi yang menggunakan sistem tumpang sari. Untuk lahan yang luasnya sekitar 0,8 ha, seorang petani penggarap bisa menghasilkan kopi kurang lebih 20 kwintal (kopi gelondongan basah). Dalam contoh gambar yang saya perlihatkan ini, kondisi tanaman kopi petani ini juga sudah tidak maksimal, hal tersebut disebabkan karena usia pohon kopi sudah tua, sekitar 25 tahun. Dalam usia tanaman kopi setua itu, untuk mencari hasil yang maksimal sudah sulit. Walaupun demikian kualitas buah kopi yang tampak seperti dalam gambar ini tidak perlu diragukan, karena sistem pemetikannya juga sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian, yaitu petik merah, dengan kata lain petani boleh memtik kopinya kalau 80% lebih buah sudah dalam keadaan merah (tua). Dengan ketentuan itu, maka kualitas yang dihasilkan juga akan sangat bagus, juga tidak mudah dicari oleh hama pengerat buah.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Februari 2010 in PRODUCT

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: