RSS

Arsip Kategori: PROFILE

GRIYA “Manik Galih”

Griya ini termasuk Griya yang usianya masih muda, dan terakhir pada saat tulisan ini dibuat Griya masih dalam tahap pemugaran. Walaupun demikian, saya sebagai warga Pasek yang juga merasa memiliki Griya sekaligus beliau yang Ngewengkonin Griya yaitu Ida Pandita Mpu. Kenapa tyang katakan tyang merasa, maaf karena tyang adalah seorang “Pasek”, disamping itu secara umum karena tyang juga seorang “Hindu” yang harus menghormati seluruh “Pandita Hindu” di manapun beliau ada.

Kalau tidak salah, Ida Pandita Empu di Griya Manik Galih Galiukir, Mediksa sekitar tahun 2008 akhir, jadi beliau juga termasuk Pandita yang masih muda, walaupun usia beliau mungkin sekarang sudah mencapai 60 tahun.

Mohon maaf kepada para pembaca, kalau saat ini saya belum bisa menulis banyak tentang beliau, mudah-mudahan lain kali tyang bisa “mohon” informasi yg lebih lengkap tentang Ida Lingsir kepada Beliau sendiri. Walaupun demikian, dibawah ini bisa tyang perlihatkan beberapa foto “Griya Manik Galih” yang begitu megah dan sekaligus foto-foto Ida Lanang dan Ida Istri.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 September 2013 in PROFILE

 

PURA BATUR DAYANG SARI 2013

Pura Batur Dayang Sari ini diperkirakan ditemukan bersamaan dengan Pura Batur Desa, dan berlokasi di Sisi Selatan Desa Pekraman Galiukir. Sedangkan informasi jelas tentang waktu penemuan kedua Pura ini penulis tidak bisa dapatkan. Saya hanya mengira-ngira, waktunya bersamaan, melihat kenyataan bahwa Waktu Pujawali kedua Pura ini juga hampir bersamaan, dan kalau boleh dikatakan, semua warga Galoer mengetahui bahwa Pujawali di keduanya saling terkait bahasa kerenya “Terintegrasi”.

DAYANG 3

Ada lagi satu Pura yang penemuannya saya perkiraan berdekatan yaitu “Pura Pucak Batu Gaing” yang berlokasi di Kebon Jero. Perkiraan saya sama juga, dimana di Ketiga Pura ini memiliki waktu Pujawali yang hampir bersamaan, dan menurut informasi lisan yang ada, bahwa Wilayah Kebon Jero dulunya merupakan satu kesatuan yang sama dengan wilayah Galiukir, bahkan sampai sekarang pun, warga Kebon Jero masih menganggap bahwa Galiukir adalah wilayah yang merupakan asal muasal pengelingsir mereka, dan sampai sekarangpun warga Kebonjero tidak melepaskan tali persaudaraannya dengan kerabat mereka di Galiukir, denga bukti dan fakta bahwa mereka masih tetap nyungsung Merajan Gede mereka yang bertebaran di Galiukir. Termasuk keluarga saya, di mana saya perkirakan saya memiliki sekitar 15 KK yang berada di Kebon Jero.

DAYANG 1

Sedangkan Dewa yang berstana di masing-masing Pura tersebut, belum bisa juga saya dapatkan informasinya, mudah-mudahan di lain kali saya menemukan “Pengelingsir” yang pas untuk itu. Sementara, informasi sekilas mengatakan bahwa yang berstana di Pura Batur Dayang Sari adalah “Sri Uma Dewi” (Dewi Kesejahtraan), sedangkan yang berstana di Pura Batur Desa adalah Beliau “Ida Hyang Bhatara Pandita Sakti”, sedangkan yang di Pura Pucak, saya sama sekali belum mendapatkan informasinya. Informasi lain mengatakan bahwa di ketiga Pura ini berstana “Kekuatan Sinar Suci Tuhan (Dewa) yang sudah “Meraga Putus”, terbukti dari jenis aturan yang dipersembahkan manakala ada Pujawali di masing-masing Pura tersebut, dimana tidak diperkenankan menggunakan menghaturkan “Sarana Banten yang dilengkapi dengan Daging Babi”.

DAYANG 2

Dari informasi yang ada juga, dan dari fakta keseharian warga Galoer, bahwa Pura Batur Desa Galiukir juga mempunyai kaitan dengan Pura Batur Sai. Informasi keterkaitan pura ini juga belum bisa saya jelaskan, saya hanya bisa mengaitkan dengan kenyataan yang ada bahwa banyak warga Galoer yang melakukan persembahyangan di Pura Batur Sai ketika di sana di adakan Puja Wali. Semoga suatu hari nanti saya menemukan informasi mengenai keterkaitan pura-pura ini dengan harapan bagi rekan pembaca yang meyakini Hindu secara utuh, akan bisa memantapkan keyakinannya, termasuk saya juga “Semoga Ida yang berstana di keempat Pura tersebut Asung Kerta Nugraha, mapaica kerahayuan lang kerahajengan bagi kita semua”, sehingga keberlangsungan keyakinan kita akan kebesaran ISWW akan senantiasa abadi untuk selamanya dan generasi kita selannjutnya juga akan merasakan hal yang sama. Semoga!

DAYANG 4

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 April 2013 in PROFILE

 

Sekelumit Kisah Tentang Galiukir

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Ada suatu keinginan untuk membuat sebuah pedoman tentang asal muasal keberadaan Pasek Alas Ukir yang terlihat dalam Babad Pasek dan Desa Pekraman Galiukir. Namun keinginan tersebut terganjal karena tidak adanya suatu reverensi yang valid secara ilmiah, ataupun prasasti yang tertinggal. Maka dari itu saya memutuskan bahwa apa yang akan saya paparkan dalam tulisan berikut ini hanyalah ulasan-ulasan berdasarkan informasi-informasi yang saya dapatkan dari beberapa sumber secara lisan. Sedangkan beberapa sumber yang memberikan informasi-informasi itu juga tidak memiliki referensi yang valid dan sama halnya dengan informasi yg saya dapatkan dari mereka, dengan kata lain mereka memberikan informasi tersebut berdasarkan informasi lisan yang mereka peroleh dari orang tua mereka sendiri.

Sepengetahuan saya, selama ini Desa Pekraman Galiukir tidak memiliki semacam Lontar ataupun Prasasti yang mengungkapkan tentang keberadaan/sejarah/asal muasal Desa Pekraman. Oleh karena itulah, saya mencoba menyusun sebuah kerangka tulisan yang mengungkapkan asal muasal ini dengan harapan Generasi Penerus Galiukir memiliki semacam pedoman tentang keberadaan Desa yang mereka tempati. Kemudian harapan saya berikutnya adalah bahwa tulisan ini nantinya ada yang menyempurnakan, karena saya tahu bahwa informasi yang tersaji tidaklah lengkap dan tercerai berai dan bahkan belum tersusun dengan sistematis sesuai dengan kronologi kejadian yang sebenarnya atau mungkin menyimpang dari bukti-bukti yang ada .

Sebagai seorang manusia yang merasa memiliki banyak kekurangan, dengan rendah hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika nanti dalam tulisan-tulisan ini ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh informasi yang saya sajikan, atau ada merasa tersinggung oleh pemaparan saya, sekali lagi saya mohon maaf. Setitikpun tidak ada maksud saya untuk mencampur adukkan keinginan pribadi saya dengan informasi yang saya sajikan, juga saya tidak bermasud untuk memperkeruh suasana hati para pembaca dengan adanya draf tulisan ini.

Seandainya di antara para pembaca tulisan ini, menemukan informasi yang keliru, mohon konfirmasinya ke saya, dan mari kita diskusikan segala sesuatunya demi kepentingan informasi itu sendiri. Tulisan ini juga saya maksudkan untuk bisa dijadikan informasi awal bagi generasi muda Galiukir yang mungkin membutuhkannya. Semoga saja hal ini bermanfaat, dan kalau tidak… abaikan saja.

Dan tidak kalah pentingnya, saya mengucapkan banyak terismakasih kepada pihak-pihak yang dengan tulus ikhlas membantu saya dengan memberikan informasi-informasi sehingga draf tulisan ini bisa saya kerjakan.

Dan berikut ini sekelumit tentang asal-usul :

Kisah ini dituturkan oleh “ I Wayan Bergog (Kak Risa)” dan dinarasi kembali oleh Penulis.

Pada suatu waktu jaman dahulu kala, di Desa Tangguntiti yang dikuasai oleh salah satu Sanak Putu Pasek Toh Jiwa yg serng dipanggil Jro Mekel Pasek Tangguntiti kemungkinan mengalami suatu prahara dan konflik dengan Penguasa Tabanan (Cokorda Tabanan)—kisah ini mungkin sudah diceritakan dalam tulisan tersendiri dan tidak saya ceritakan dalam tulisan ini. Karena situasi yang demikian tersebut, maka beberapa keturunan/sanak saudara dari Jro Mekel dan para pengikutnya, memutuskan untuk kesah/nyah/pergi mengembara mencari daerah pemukiman dan penghidupan baru. Diantara para sanak saudara dan pengikut Jro Mekel tersebut pergi ke berbagai arah dan tempat tujuan yang berbeda-beda, ada yang ke Lalang Linggah, Busungbiu, Bantiran, Pupuan, dll. Salah Satu dari rombongan tersebut ada yang menuju ke suatu tempat yang sekarang ini bernama “Galiukir”.

Dikisahkanlah bahwa rombongan tersebut dipimpin oleh seorang Mekel yang menurut informasi bernama I Tatit (menurut keterangan: Jro Mekel ini adalah Wayah/leluhur langsung dari Ida Pandita/Sri Empu – sekarang). Dalam rombongan warga pasek tersebut termasuklah yang ikut di dalamnya beberapa orang/warga, beberapa diantaranya adalah “Wayah (Leluhur) dari Pan Gede Wira dan Pan Geduh” dan beberapa juga yang ikut adalah Warga Busungbiu (Penulis memperkirakan bahwa bahwa rombongan ini terdiri dari beberapa Keluarga, misalnya; Jro Mekel mengikutsertakan keluarga sendiri, Leluhur/Wayah Pan Geduh diperkirakan masih satu keluarga dengan Leluhur Pan Wira, dan keluarga Busungbiu juga demikian). Dalam perjalanannya mencari daerah pemukiman baru ini penulis tidak bisa mengisahkan secara lengkap karena kurangnya informasi, penulis dan penutur hanya mengisahkan perjalanan mereka ini setelah mereka sampai di suatu tempat yang di Galiukir sekarang dikenal dengan nama Munduk Sindingan. Setelah beristirahat beberapa hari/waktu yg tidak dijelaskan, rombongan tersebut mengadakan orientasi (pengamatan) tempat dan lingkungan untuk memastikan apakah tempat tersebut cocok untuk dijadikan tempat pemukiman dan didiami, akhirnya rombongan memutuskan yg sebelumnya sudah melalui pembicaraan dan diskusi bahwa tempat tersebut kurang cocok bagi mereka, maka dibawah pimpinan Jro Mekel Tatit mengadakan pengamatan (tentunya dengan pengamatan bhatin), dan akhirnya berdasarkan pengamatan bathin Mekel ini menemukan bentangan daerah dari Selatan-Barat-Utara dan Timur yg ia percaya masih kosong dan bisa ditempati, dan kemudian Mekel mengajak semua saudara/keluarga dan pengikutnya tersebut untuk menuruni munduk tersebut menuju ke arah Barat Laut. Dikisahkan, setelah mereka menuruni Munduk, tidak begitu jauh dari tempat awalnya, sampailah mereka di suatu tempat yang sekarang diperkirakan di sekitar perumahan Dewa Made Menita. Tapi sebelum mereka sampai di sana, sebenarnya rombongan sudah bertemu beberapa penduduk di suatu tempat yang sekarang dinamakan Batu Dinding. Sembari mereka beristirahat, Jro Mekel memutuskan untuk berdiskusi dan akhirnya memilih tempat tersebut sebagai wilayah yang akan dijadikan pemukiman mereka yang baru dan hal tersebut mendapat persetujuan dari warga dan pengikutnya. Diperkirakan pada saat inilah Mekel Tatit membagi lahan sebagai tempat pemukiman dan dikelompokkan sesuai dengan hubungan kekeluargaan masing-masing. Keluarga Mekel Tatit mendapat bagian lahan di tempat rumahnya Dewa Menita (sekarang), dan Keluarga Wayah Pan Geduh & Pan Wira mendapat lahan di sekitar Pan Geduh (sekarang), sedangkan yang Busungbiu tidak diceritakan, tapi penutur memperkirakan kelompok keluarga ini ikut dalam keluarga Mekel. Sebagaimana layaknya penduduk baru yang menempati wilayah baru, maka mereka memutuskan untuk membokar tempat tersebut menjadi perumahan dan juga untuk pertanian untuk mendapatkan bahan makanan, dimana pada jaman tersebut system yang mereka gunakan pada umumnya adalah pengolahan lahan untuk dijadikan tempat menanam padi gogo (red-Ngaga). Pada saat mereka melakukakan aktivitas pembongkaran dan perluasan lahan inilah dikisahkan bahwa mereka bertemu dengan beberapa orang yang menurut kisahnya sudah menempati daerah sekitarnya itu lebih awal dari mereka.

Pada awal-awal Jro Mekel Tatit dan warga pengikutnya mengadakan pembagian wilayah pemukiman dan lahan inilah merasa perlu untuk melakukan orientasi tempat , kemudian sambil mengadakan perluasan lahan, beliau berkeliling di sekitar daerah ini dan mengumpulkan dan menghitung (mendata) orang-orang tersebut. Setelah dihitung didapatkanlah jumlah 12 orang (informasi ini tidak begitu jelas, apakah jumlah tersebut sebanyak 12 orang atau 12 KK – tapi menurut penutur cerita ini adalah 12 orang) yang tersebar dari sekitar daerah tersebut. Setelah dimintai informasi kepada ke-12 orang ini, maka Jro Mekel mendapatkan bawha sebelum Jro Mekel dan rombongan sampai disini, di daerah ini sudah pernah ada daerah pemukiman yang terdiri dari 5 kelompok (banjar) yang keseluruhan penduduknya sudah pernah mencapai 200 KK yg terdiri dari daerah/banjar Kayu Sugih, Borosan Pulu, Tanah Tumbuh, Puma dan Batu Dinding yang pernah mereka temukan sebelumnya. Dikisahkan sebelumnya, bahwa penduduk yang awalnya sudah mencapai 200 KK tersebut, konon pada suatu saat, terserang penyakit menular yang akhirnya hanya menyisakan 12 jiwa. Bukti-bukti dari keberadaan penduduk/pemukiman tua tersebut adalah ditemukannya banyak barang-barang berupa piring-piring, mangkok dll yg berbahan keramik dan tembikar oleh para penduduk Galiukir sekarang di daerah yang diperkirakan sekarang bernama Puma.

Pada suatu peristiwa/kesempatan yang lain berikutnya (tidak dikisahkan – kelompok masih di bawah Jro Mekel Tatit) ada 2 orang/kelompok/KK (masih dari warga Pasek) yang datang dari Tingkih Puyung (Bongan Cina) menuju di suatu tempat di daerah ini (sekarang diperkirakan menempati lahan di sebelah barat yang sekarang bernama Dauh Pangkung). Warga yang terdiri dari 2 orang/kelompok/KK tersebut di percaya merupakan Wayah/Leluhurnya Pan Sukra (Pan Mayon/Pan Seri) dan Kaki Monol (Pan Subrana/Wayah Sarna). Kedatangan Warga Pasek Tingkih Puyung ini juga disusul oleh satu warga pada waktu-waktu berikutnya yang dikenal dengan Leluhurnya Nang Modesna ( yang menurunkan Pan Maria, yang kemudian menurunakan Maria (Pan Wenda) dan Maris (Pan Gendra). Setelah melalui kesepakatan-kesepakatan, akhirnya semua kelompok terebut menyatukan diri menjadi kelompok yang lebih besar, yang dikisahkan menjadi 35 Kepala Keluarga (KK). Kemudian diceritakan berdasarkan kesepakan warga tersebut, bahwa yang menjadi Mekel pada saat itu tetap Jro Mekel Tatit, hal ini dimungkinkan karena jumlah Pengikut Beliaulah yang paling banyak dan yang mempunyai inisiatif untuk mempersatukan diri menjadi satu kumpulan warga Pasek yang besar pada saat itu. Disamping itu, pada jaman itu untuk menjadi Mekel, harus mendapat restu dari Raja. Karena Mekel Tatit sudah membawa predikat itu dari Tangguntiti, maka jelaslah yang dijadikan Mekel tetaplah Mekel Tatit.

Seiring perjalanan waktu, setelah semua warga tersebut menjalani keseharian mereka mencari penghidupan tibalah saatnya untuk memikirkan pengganti Jro Mekel, dengan pertimbangan bahwa Jro Mekel Tatit sudah uzur dan jiwa kemimpinannya sudah mulai memudar. Pada saat saat seperti itu, terjadilah berbagai macam friksi diantara Keluarga Jro Mekel Tatit dan juga terjadi selisih pendapat dengan pengikut beliau (termasuklah Wayahnya Pan Gede Wira/Pan Geduh, dan Warga Busungbiu yang ikut bersama kelompok dari Desa Tangguntiti sebelumnya). Selisih pendapat itu terjadi karena diantara kelompok warga/keluarga yang ikut bersama dengan Keluarga Jro Mekel Tatit merasa mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk menjadi Pemimpin/Mekel. Sayangnya, friksi yang terjadi didalam keluarga masing-masing dan juga selisih pendapat diantara masing kelompok ini berlangsung lama, sampai Jro Mekel Tatit meninggal. Dan silang pendapat ini berlangsung terus, dan terjadilah kekosongan kepemimpinan. Dan diceritakan kemudian, kelompok yang merasa tidak sependapat ini masing-masing memisahkan diri dan konon kelompok warga Busung Biu mencari keluarganya yang Nyah dari Tangguntiti ke Busungbiu. Dikisahkan sebelumnya juga, bahwa karena terjadinya kevakuman kepemimpinan ini, terjadilah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, dimana banyak warga baik dari Keluarga Jro Mekel dan keluarga Wayah Pan Wira/Geduh yang kena kegeringan (penyakit) dan juga terjadi kegagalan panen padi gaga, sampai-sampai warga hanya bisa menanam ubi sebagai bahan pokok kesehariannya.

Pada kesempatan yang sama di daerah Sebelah Barat warga Dauh Pangkung, dimana tempat ini merupakan lahan yang ditempati oleh Leluhurnya Pan Sukra (Pan Sri/Pan Mayon) dan Leluhurnya Kaki Modol (Wayan Sarna/Pan Subrana) juga terjadi kebingungan. Diceritakan kelompok yang datang dari Tingkih Puyung ini memiliki kemampuan yang lebih, ada yang memiliki kemampuan usada dan yang satunya memiliki kemampuan kerohanian serta magic (Magic yang dimaksudkan adalah magic yang mempunyai pengertian secara umum). Mendengar kemampuan lebih yang dimiliki oleh warga Pasek yang datang dari Tingkih Puyung inilah, kemudian salah satu dari Keluarga/Keturunan Mekel Tatit menemui salah satu dari mereka, dengan harapan bahwa ia mau mengobati warga yang terkena penyakit. Hal ini mendapat persetujuan, dan dikisahkan berikutnya bahwa banyaklah warga yang bisa disembuhkan oleh warga Dauh Pangkung tersebut. Dan karena jasa-jasa beliau tersebut, maka Jro Mekel memberikan lahan perumahan yang dekat dengan beliau, yaitu di sebelah barat Jro Mekel Tatit sendiri (yg sekarang diperkirakan berkisar di rumahnya Pan Putu Arta/I Wayan Wenda) dengan tujuan agar beliau lebih cepat menghubungi jikalau ada warga desa yang terkena penyakit. Seiring dengan perjalannan waktu, seluruh warga berkumpul kembali kemudian mengadakan kesepakatan untuk mengutus beberapa orang yang menghadap Raja/Cokorda Tabanan guna menanyakan segala sesuatunya terkait dengan penentuan Pimpinan/Mekel di daerah ini. Hal itu diputuskan warga karena pada jaman tersebut untuk menjadi Pemimpin/Mekel harus mendapat restu dari Raja. Melalui diskusi yang alot dan matang, akhirnya diutuslah beberapa warga pasek yang datang dari Tangguntiti ini untuk tangkil ke Cokorda Tabanan, dan diantar juga oleh salah satu warga Pasek Tinngkih Puyung yang diwakili oleh salah satu anggota keluarga “Nang Modesna”—yg dikisahkan bahwa inilah leluhurnya yang menurunkan “Keluarga Putu Tagus Wirapramana/I Wayan Gendra”sekarang. Sedangkan tujuan mereka untuk menghadap Raja adalah untuk menanyakan, siapa yang sebenarnya “Wenang/Boleh” dan mendapat restu Raja untuk menjadi Pemimpin/Mekel di Galiukir (pada saat itu belum bernama Galiukir).

Sesampainya mereka di Puri Tabanan, salah satu dari rombongan yang tangkil kesana menyampaikan tujuan mereka tangkil ke hadapan Cokorda. Dan diputuskanlah oleh sang Raja(Cokorda)-dikisahkan karena Cokorda sudah mengetahui bahwa yang datang (tangkil) itu adalah sebagian besar merupakan keturunan Pasek Toh Jiwa Tangguntiti dan dalam kisah yang tersendiri sudah diceritakan bagaimana hubungan Cokorda dengan Pasek Tangguntiti—maka beliau memberikan pewarah warah (wejangan) kepada mereka yang pada intinya bahwa yang wenang menjadi Mekel adalah keturunan langsung dari Jro Mekel Tatit yang datang dari Tangguntiti ini, karena beliau tersebut sudah membawa predikat tersebut dari daerah asalnya. Diperkirakan pada saat warga Pasek tangkil inilah, Cokorda Tabanan memberikan gelar pada mereka menjadi “Pasek Alas Ukir”, dan diperkirakan mulai saat itulah, warga pasek dari gabungan warga yang datang dari Tangguntiti, Tingkih Puyung dan Warga yang sebelumnya sudah berada di daerah ini, menyandang nama paseknya yaitu Pasek Alas Ukir dan daerah kekuasaannya dinamakan Alas Ukir (dalam perjalanan waktu yang tidak terkisahkan nama daerahnya berubah menjadi Galih Ukir dan kemudian sampai dengan sekarang menjadi Galiukir) . Setelah mereka mendapat penjelasan dan pewarah-warah dari Cokorda, lalu mereka pulang kembali (mepamit). Kemudian sesampai di daerah mereka ini, terjadilah silang pendapat lagi karena sesuai restu dari Cokorda bahwa yang mempunyai kewenangan untuk menjadi Mekel adalah keturunan langsung dari Jro Mekel Tatit, yaitu yang bernama “I Barakan (karena sebagian dari tubuhnya berwarna merah/barak)”. Penyebab dari kekisruhan penentuan orang yang dijadikan “Mekel” ini adalah karena semua kelompok pasek ini merasa mempunyai kelebihan dengan warga pasek yang lainnya.Bahkan silang pendapat ini berubah menjadi konflik dalam keluarga I Barakan sendiri, begitu juga berselisih pendapat dengan warga pasek yang lain pengikut Mekel Tatit seperti Warga Pasek (Wayahnya Pan Geduh dan Pan Wira), dan juga dengan warga pasek yang datang dari TIngkih Puyung seperti wayahnya Pan Sukra dan Kaki Modol, bahkan kekisruhan terjadi kedalam keluarga masing-masing, makanya dikisahkan bahwa beberapa dari keluarga Pan Sukra dan Kaki Modol ini pindah kembali ketempat awalnya yaitu Dauh Pangkung. Begitu juga yang terjadi diantara Keluarga Leluhurnya Pan Geduh – dikisahkan ada yang pergi (ngambul) ke Negara dan salah satu dari Keluarga Leluhurnya Pan Wira ada yang pergi ke Bantiran dan ada yang pindah ke lokasi rumah Pan Wira (sekarang). Kekisruhan ini berjalan terus dan Kewenangan Mekel ini tetap sesuai dengan Restu Cokorda yaitu, I Barakan.

Demikianlah seterunya, sesuai dengan berjalannya waktu, pada suatu ketika Mekel Barakan mendapatkan informasi bahwa, di Daerah yang dinamakan Pupuan ada seorang Mekel yang merupakan juga Keturunan Pasek Toh Jiwa Tanguntiti, dan karena beliau beliau tersebut merasa berasal dari satu garis keturunan Pasek yang sama, maka mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih erat. Pada suatu hari Mekel Pupuan bercerita kepada Mekel Barakan bahwa dulunya pada masa kekuasaan Mekel Tatit (orang tua Mekel Barakan) ada satu keluarga/warga Mekel Pupuan melarikan diri ke Alas Ukir untuk bersembunyi dari kejaran warga Pasek Pupuan. Warga Pupan yang datang tersebut diperkirakan berjumlah 6 orang yang terdiri dari Nang Sandi dan ketiga anaknya yaitu : Ni Sandi, I Wisada, Ni Sali serta Nang Mintek dan satu-satunya anaknya Ni Mintek (yg konon menjadi Istri dari Kaki Modol). Perlu diketahui bahwa I Wisada ini merupakan Leluhurnya I Wayan Beregog (Kak Risa/Pan Pundung). Kelompok keluarga yang datang dari Pupuan ini diterima oleh Wayah Pan Sukra yang bertempat di Dauh Pangkung. Diceritakan oleh Mekel Pupuan ini kepada Mekel Barakan alasan kenapa mereka melarikan diri, karena Ayah dari Nang Sandi ini merupakan orang ‘Pintar’ (dalam segala hal yang berhubungan dengan Magic) dan dikatakan bahwa di Pupuan ayah dari Nang Sandi ini dibunuh karena dianggap suka mengganggu orang dengan kepintaran yang dimiliki tersebut. Dan diperkirakan oleh Mekel Pupuan bahwa ketutrunannya melarikan diri dengan membawa sebagian besar perkakas/peralatan yang berkhasiat milik orang tuanya dan beliau memastikan bahwa kepintaran dari Nang Sandi ini juga sudah diwarisi oleh salah satu keturunannya. Tapi hal ini tidak diketahui oleh Mekel Barakan, dan disarankanlah Mekel Barakan oleh Mekel Pupuan untuk membunuh keturunan dari Ayah Nang Sandi ini. Sayangnya Mekel Barakan tidak mau menuruti saran Mekel Pupuan ini, kemudian Mekel Barakan mencoba mendekati keluarga Nang Sandi ini. Dalam pendekatan itu beliau mencoba untuk memancing salah satu dari keluarga tersebut untuk mengakui, bahwa mereka datang dengan membawa perkakas/alat-alat yang dipercaya mempunyai tenaga gaib yang luar biasa. Ternyata Beliau menemukan kesulitan untuk merayu mereka untuk mengakui diri mereka bahwa mereka memang benar dari keluarga yang ‘sakti’ dan mempunyai perkakas yang luar biasa Magisnya.

Dikisahkan kemudian, karena Mekel Barakan tidak bisa membuat salah satu keluarga dari Pupuan ini (yang dipercaya orangnya adalah “I Wisada”) untuk mengaku, maka beliau mebuat sebuah taktik untuk mengambil adik dari Wisada yaitu Ni Sali menjadi istrinya dan akhirnya taktiknya itu dilaksanakan dan dipersuntinglah Ni Usadi ini menjadi istri oleh Mekel Barakan. Seiring perjalanan waktu, kemudian karena I Wisada ini sudah menjadi Ipar dari Mekel Barakan, maka oleh Mekel dia diajak dan diberikan lahan untuk perumahan di sekitar Griya Ida Bagus Ngurah sekarang. Karena mereka sudah berdekatan, maka hubungan diantara mereka menjadi semakin intens dan erat, dan oleh Mekel Barakan diajaklah I Wisada ini untuk berjanji ‘sehidup semati sebagai saudara ipar’, dan hal tersebut disetujui oleh I Wisada. Demikianlah hubungan persaudaraan yang harmonis tersebut berjalan seterusnya, dan hal ini didengar oleh Mekel Pupuan, maka kembali beliau menyarankan Mekel Barakan untuk tetap hati-hati dan waspada terhadap I Wisada ini.

Pada suatu ketika, terseiar berita bahwa Mekel Barakan dan daerah kekuasaannya (Alas Ukir) ini akan diserang oleh musuh dari daerah selatan, yang menurut informasi bahwa yang menyerang ini adalah warga Pasek Tohjiwa dari Pancoran dan sekitarnya. Sedangkan penyebab kenapa mereka mau menyerang Mekel Barakan itu, karena warga Pancoran dan Lalanglinggah dan Auman ini juga tidak puas terhadap keputusan Cokorda Tabanan dimana Barakan di restui menjadi Mekel, padahal warga pasek di sana jauh lebih banyak dan juga merasa mampu untuk mencari seorang Mekel dari warganya sendiri. Menyadari bahaya yang akan dihadapi oleh Barakan, maka ia menemui Wisada dan kemudian mereka mengadakan perbincangan perbincangan tentang strategi menghadapi serangan musuh ini. Pada kesempatan inilah Mekel Barakan baru bisa merayu Wisada untuk menunjukkan kesaktiannya dengan cara mengingatkan kembali tentang janji mereka bahwa mereka akan selalu setia satu sama lainnya, sehidup dan semati. Karena Wisada ingat akan janji tersebut, maka iapun menyetujui akan bergabung bersama warga Alas Ukir dan Mekel Barakan untuk menghadapi serangan ini. Diceritakan kemudian pada suatu hari serangan itu memang betul dilakukan oleh warga dari selatan ini. Tapi Mekel Barakan dan Wisada ini sudah siap sedia untuk menunggu di suatu areal di sebelah selatan yang dikenal dengan nama “Banjarmunduk”. Mereka memantau terus kedatangan musuh di atas sebuah batu besar dan pipih yang bernama Batu Giak. Ketika Mekel Barakan melihat musuh sudah mulai mendekat, maka terbersit dalam hatinya sebuah pertanyaan, apakah betul Wisada ini ‘sakti’ dan mempunyai senjata yang mampu menghadapi musuh. Maka sekali lagi beliau mendekati Wisada untuk meyakinkan akan kemampuannya, pada saat itulah beliau baru mendapat jawaban jujur dari Wisada sambil mengeluarkan senjatanya berupa Tombak dan Keris dan ia (Wisada) meyakinkan Mekel Barakan untuk tidak usah khawatir. Dan memang betul pada saat musuh dekat, pada saat itulah Wisada berteriak (Megiak) dari atas batu mengomando warga pasek untuk mengadakan perlawanan. Seolah sebuah kekuatan maha dahsyat ikut mengiringi kekuatan warga Pasek Alas Ukir untuk mengadakan pertahanan karena kekuatan yang dikeluarkan oleh senjata Tombak dan Keris Wisada ini. Keadaan tersebut mampu membuat musuh menjadi kalang kabut dan banyaklah korban yang berjatuhan dari mereka. Diceritakan karena kesaktian dari Wisada dan Barakan ini akhirnya musuhpun melarikan diri kembali ke asalnya, bahkan pada saat mereka lari ini ada juga yang mati karena terinjak-injak, dan juga yang selamat tapi ada yang mengalihkan perjalannanya pulang menuju Munduk Sindingan, dan diceritakan ada yang menyerah di tempat dan menyatakan ikut bergabung bersama Wisada dan Mekel Barakan. Dalam kisah selanjutnya, orang-orang yang menyerah ini direkrut oleh Mekel Barakan dan terjadilah sebuah dialog. Diperkirakan pada saat dialog itulah baru diketahui oleh Mekel Barakan bahwa warga yang menyerang tersebut terdapat juga warga Pasek Toh Jiwa dari Auman, begitu juga sebaliknya warga Pasek ini baru menyadari bahwa yang mereka perangi itu sebenarnya adalah sesama Pasek Toh Jiwa nyahan dari Tangguntiti, dan langsung mohon ampun kepada Mekel Barakan dan berjanji untuk menjalin kembali hubungan keluarga sesama warga Pasek Toh Jiwa. Oleh Mekel Barakan kemudian mereka dihimbau untuk kembali ke daerahnya untuk mengimformasikan kepada saudara-saudaranya di daerah Auman untuk tidak lagi mengadakan peperangan atau serangan diwaktu mendatang, dan menyadarkan mereka warga Pasek Toh jiwa lainnya yang ada di sana untuk memikirkan daripada mereka berperang/bermusuhan labih baik menjalin kembali hubungan yang lebih erat diantara warga Pasek. Pada akhirnya mereka mau melakukan apa yang dihimbau oleh Mekel barakan tersebut. Kemudian berselang beberapa hari atau minggu kemudian ternyata betul mereka kembali ke Alas Ukir melalui jalur yang sama pada saat mereka menyerang, tapi sayang beberapa diantara mereka ada yang melalui jalur terlalu ke timur sehingga ada yang sampai di Mundeh, ada yang sampai di Sindingan bertemu dengan warga pasek yang melarikan diri dari pertempuran sebelumnya dan ada juga yang lewat Pangkung Asah. Sesampai mereka di Alas Ukir, mereka langsung menemui Mekel Barakan dan Wisada dan menyatakan diri menjadi abdi Beliau, dan hal tersebut diterima oleh Mekel. Dikisahkan sejak itulah mereka yang datang tersebut menjadi warga Pasek Toh Jiwa Alas Ukir. (Catatan penulis : Penulis memperkirakan bahwa warga Pasek Toh Jiwa inilah yang merupakan Wayah/Leluhur Penulis/Pan Suaki, Mangku Dalang/Pan Manik & Pan Pica, dan Pan Rena/Pan Gede Yasa).

Demikianlah setelah waktu berjalan, pada suatu ketika warga Pasek Alas Ukir yang dipimpin oleh Jro Mekel Barakan mengadakan sangkep/pertemuan. Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai rencana ke depan, menimbang warga Pasek saat itu sudah banyak, bukan hanya warga Pasek Toh Jiwa Tangguntiti, maka mereka kemudian mengadakan pembicaraan tentang pembangunan Pura Keluarga (mungkin Sanggah/Paibon/Panti). Dikisahkanlah pada saat itu masing-masing warga pasek untuk membuat Panti sesuai dengan asal kedatangan mereka masing masing. Pada saat itu ditententukanlah bahwa warga Pasek Toh Jiwa yang datang dari Tangguntiti (termasuk di dalamnya Warga Pasek Toh Jiwa yang datang dari Auman) untuk membuat 1 Panti yang berlokasi di sebelah TImur Laut rumah Mekel Barakan (Panti Dangin Rurung – sekarang), sedangkan warga Pasek yang datang selain dari Tangguntiti, membuat 1 Panti yang berlokasi di sebelah Timur Laut rumah Wayah Nang Sukra & Kaki Modol (sekarang-rumahnya Pan Putu Arta) – dan Panti ini dikenal dengan Panti Dauh Rurung.

Sang waktu berjalan terus seiring dengan aktivitas dan rutinias warga Alas Ukir, tibalah saatnya pada suatu hari seluruh warga mengadakan pertemuan/sangkep, dimana dalam sangkep tersebut dibahas tentang rencana warga membuat Pura Desa/Puseh. Pada tahap awal pembicaraan, Jro Mekel Barakan memberikan sebuah alternative kepada seluruh warga kalau sebaiknya tempat yang akan dijadikan Pura Puseh/Desa ini berlokasi di sebuah bebaturan/kumpulan batu (yg mempunyai Energi Magis, yang ditemukan pada masa Jro Mekel Tatit – awal-awal pembongkaran lahan gaga – yg sekarang dijadikan Pura Batur), tapi pertimbangan warga berbeda. Warga Alas Ukir menghendaki bahwa yang dijadikan Pura Puseh/Desa itu adalah Bekas Pura Puseh milik warga pendahulu (warga yg dalam awal cerita ini sudah mencapai 200 KK) yang lokasinya berada di Daerah Puma ( sebelah Timur rumahnya I Ketut Tingklik sekarang. Karena jro Mekel Barakan yang dikenal sakti dan bijaksna ini sebagai seorang peminpin, maka beliau akhirnya menyetujui bahwa Pendirian Pura Desa/Puseh ini dilaksanakan di tempat yang diinginkan warga ini. Warga sangat bangga memiliki seorang peminpin yang bijaksana dan arif dalam menampung aspirasi warga dan memutuskan segala sesuatunya dan tidak memaksakan kehendak sendiri walaupun beliau seorang yang sakti dan pintar. Akhirnya untuk menghormati keinginan Jro Mekel untuk mendirikan pura di sekitar bebaturan tersebut, maka atas pertimbangan seluruh warga Bebaturan yang ditemukan oleh Mekel Tatit itu hendak dipindahkan dan ditempatkan di Pura yang mau mereka dirikan tersebut. Diceritakanlah kemudian, pada suatu hari warga bergotong royong untuk memindahkan Bebaturan tersebut. Pada tahap awal mereka hendak mengambil jalur sungai kecil yg sekarang dikenal dengan nama ‘Yeh Belang’, tapi tidak terlaksana karena menurut informasi warga bahwa di daerah pertemuan Yeh Belang dan Yeh Tawan ini lokasinya dipercaya sangat angker, kemudian warga mengambil jalur utara melewati (kalau sekarang adalah Gang Jro Mangku Dalem/Pan Wira) pertemuan Yeh Tawan dan Pangkung Kituk (sekarang). Ternyata usaha mereka juga gagal. Diceritakan bahwa entah karena apa, padahal kenyataannya bahwa batu yang diangkut itu sebenarnya tidaklah besar, tapi toh juga warga yang mengangkat batu tersebut measakan bahwa batu itu sangatlah berat. Saking beratnya, dalam satu hari tersebut mereka hanya mampu membawa batu tersebut sampai di daerah pertemuan Pangkung Kituk dan Yeh Tawan. Karena pada saat mereka hannya mampu membawa sampai di daerah itu, maka mereka memutuskan untuk melanjutkan ke-esokan harinya. Setelah hari berganti, keinginan warga melanjutkan untuk membawa batu tersebut ke tujuannya, tapi begitu warga sampai di tempat di mana batu itu terakhir diletakkan, mereka bingung (kitak-kituk), karena batu tersebut sudah tidak ada ditempatnya (sejak itulah diperkirakan sungai kecil ini dinamakan Pangkung Kituk). Setelah sekian lama warga mencari, mereka pasrah dan kembali ke rumah masing-masing dengan bermacam pertanyaan di benak mereka. Pada waktu tak berselang lama, tersiarlah berita bahwa batu yang mereka bawa tersebut sudah kembali ketempatnya semula, dan para warga semakin penasaran dan bingung. Pada saat itulah, Jro Mekel Barakan baru memberitahu seluruh warga hal yang sebenarnya bahwa Batu/Bebaturan itu mempunyai Kekuatan Magis yang luar biasa, oleh sebab itulah para pendahulu Pasek menjadikan Bebaturan tersebut sebagi tempat untuk “Meaturan” dan disucikan. Sebenarnya beliau sudah mengetahui bahwa Bebaturan tersebut tidak boleh dipindahkan, tapi karena Beliau tidak ingin dikatakan ‘arogan’ dan mau menang sendiri sebagai seorang peminpin, maka warga diizinkan untuk mencoba dan toh akhirnya warga juga tidak berhasil. Mulai sejak itulah keyakinan warga terhadap kekuatan Bebaturan tersebut semakin tinggi dan tebal. Dalam waktu-waktu berikutnya warga akhirnya menetapkan bahwa lahan yang dijadikan Pura Puseh/Desa adalah lahan yang berada di sekitar bebaturan tersebut. Selanjutnya, jro Mekel Barakan mulai menata dan mengukur lahan yang akan dijadikan areal Pura Desa/Puseh di tempat itu. Dengan kebesaran jiwanya, Mekel Barakan mengikhlaskan lahan yang dimiliki tersebut untuk dijadikan Pura, dan diceritakan sejak itulah mulai diadakan penataan kembali tentang lahan yang akan dijadikan tempat tinggal. Jro Mekel Barakan mulai menginformasikan kepada warganya untuk tidak membangun tempat tinggal di sebelah Utara dan Timur pura terlalu dekat (ngungkulin).

Dalam kisah selanjutnya dikiahkan bahwa, pada saat akan diadakan penataan dan pembangunan pura ini kembali terjadi perselisihan pendapat diantara Warga Pasek ini, bahkan diceritakan bahwa perselisihan ini masuk ke wilayah keluarga satu garis keturunan masing-masing. Diperkirakan kekisruhan ini dipicu oleh adanya keinginan Jro Mekel Barakan untuk Pengamong Pura, dimana sesuai dengan keputusan beliau bahwa siapapun pemilik lahan yang dijadikan areal Pura maka dialah yang wenang untuk menjadi ‘Pengamong/Pemangku’ pura tersebut. Selain itu, yang dipermasalahkan oleh warga pasek pada saat itu adalah keinginan Keluarga Mekel untuk menjadikan Rumahnya sebagai Tempat Pedukuhan/Pesraman dan sekaligus Jro Mekel menjadi Dukuh. Dikisahkan bahwa inilah yang memicu kontroversi disemua lingkungan keluarga pasek masing-masing, karena semua pihak keluarga merasa mempunyai kemampuan yang sama sehingga tidak perlu ada pedukuhab dan mempunyai kewenangan yang sama terhadap amongan pura. Tetapi silang pendapat ini tidak membatalkan keinginan Jro Mekel untuk melaksanakan rencananya itu dan akihirnya dilaksanakanlah dan dijadikanlah rumah beliau itu menjadi Pedukuhan. Melihat situasi seperti itu, konflik keluarga di keluarga masing-masing berlangsung terus, karena diantara mereka sendiri ada yang mendukung dan juga ada yang tidak.

Bahkan diantara keluarga sendiri juga ada perselisihan pendapat yang tajam terkait dengan adanya pedukuhan tersebut, hal itu terjadi karena semua keluarga pasek ini sudah merasa mampu dan mempunyai kemahirannya masing-masing. Seperti diungkap dalam awal cerita ini bahwa Leluhur Pan Geduh/P.Wira adalah pengikut dari Jro Mekel Tatit, dan dalam perjalan cerita selanjutnya bahwa diantara keluarga P.Geduh/P.Wira ini yang menonjol keahliannya terdiri dari 3 orang (bersaudara). Saudara I (P.Geduh) ahli dibidang Mewariga(menentukan hari baik), sedangkan Saudara II (P.Wira) ahli dibidang Metasra dan berbagai macam Kesenian. Sedangkan Saudara III (dikisahkan pergi ke Negara) ahli dibidang Pewayangan. Perselisihan ini juga terjadi diantara keluarga pasek yang datang dari Tingkih Puyung. Melihat keadaan yang seperti ini, Jro Mekel Barakan merasa tidak nyaman, kemudian beliau mengajak mereka semua untuk membuktikan kelebihan dan kepintaran mereka masing-masing di Pedukuhan beliau, dan hal itupun disetujui. Akhirnya pada saat hari pembuktian (seleksi) mereka semua menunjukkan kemampuan mereka masing-masing yang pada akhirnya tidak ada yang bisa mengalahkan keahlian/kepintaran/kesaktian dari seorang warga yang bernama “I Wisada” yang tak lain adalah saudara ipar dari Jro Mekel sendiri. Setlah seleksi berakhir, ternyata masih banyak warga yang tidak puas dan tidak mau menerima, kemudian dari beberapa keluarga ini ada yang pergi menjauh (ngambul), seperti salah satu keluarga Pan Wira/Pan Muklik pergi ke Bantiran, dan salah satu Saudara Ke-3 dari Pan Geduh/Pan Wira pergi ke Negara, sedangkan Wayah Pan Wira (Saudara II) pergi membangun rumah di areal baru di utara yaitu rumah yang sekarang.

Seiring perjalanan waktu dan konflik sudah mulai mereda, barulah kemudian Jro Mekel mengajak semua warga untuk menata kembali lahan yang akan dijadikan bangunan Pura. Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, bahwa yang akan dijadikan Pura Batur Bale Agung/Desa dan Puseh adalah lahan disekitar Bebaturan yang berada di lahan Jro Mekel (Pura Batur sekarang). Dengan didirikannya pura Batur ini, maka kemudian dilanjutkan dengan penataan Pura Dayang, kenapa ini yang didahulukan karena antara Bebaturan yang ada di Pura Batur tersebut mempunyai kaitan sangat erat dengan Bebaturan yang ada di Pura Dayang. Diperkirakan penemuan bebaturan yang ada di Pura Batur ini waktunya tidak berjauhan dengan penemuan bebaturan di Pura Dayang dan penemuan itu terjadi pada awal-awal Mekel Tatit datang ke Alas Ukir ini. Diperkirakan pembuatan pura dan batas-batasnya ini tidaklah memakan waktu yang lama, karena seperti eiketahui pada jaman itu pagar pura biasanya dibuat dari tumbuh-tumbuhan dan pelinggihnya baru berupa Turuslumbung atau mungkin pelinggih yang terbuat dari tanah dan batu. Setelah penataan pura batur dan dayang selesai dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan pembuatan Pura Dalem, dimana pembuatan pura ini ditempatkan di Banjar Munduk (di sekitar Tanahnya I Gede Mageng sekarang). Tidak dikishkan berapa lama tempat pura dalem tersebut berada di sana, karena dikisahkan bahwa Jro Mekel Barakan tidak mampu menjadi Pengamong semua pura, maka pada suatu ketika diambil keputusan untuk memindahkan pura tersebut. Lokasi yang dipilih untuk menempatkan pura dalem kemudian diputuskan di lahan miliknya Leluhur Pan Wira (Pura Dalem yang sekarang). Jelaslah terlihat dan terbukti sampai sekarang bahwa yang paling wenang untuk menjadi ‘Mangku’ di pura Dalem adalah keturunan Wayah Pan Wira, dan yang di Batur dan Dayang adalah keturunan dari Jro Mekel Barakan/Tatit.

Sejalan dengan penataan perumahan warga (sekaligus penataan Karang Desa) tersebut, Jro Mekel bersama para warga mengadakan perluasan lahan kepemilikan untuk dijadikan lahan pertanian/gaga (penataan wilayah). Dikisahkan bahwa perluasan dan penataan wilayah kepemilikan ini sampai di daerah Belatungan sekarang, sedangkan penutur cerita ini dan juga saya sebagai penulis tidak tahu persis kriteria atau aturan kepemilikan lahan tersebut, tapi menurut perkiraan penutur bahwa wilayah-wilayah yang tersebar luas ini dibagi sesuai dengan garis keturunan masing-masing. Dikisahkan selanjutnya bahwa, pada saat warga membongkar hutan di utara “Kebonjero (sekarang)”, mereka menemukan suatu lahan yang angker/memiliki aura magis yang kuat, dimana didalam hutan tersebut ditemukan bebaturan yang sekarang dijadikan tempat Pemujaan/Pura yang diberi nama “Pura Pucak Batu Gaing”. Oleh Jro Mekel, warga dilarang membokar hutan di sekitar areal tersebut, dan luas areal yang dilarang diperkirakan mencapai luas ± 15 hektar. Dalam waktu hampir bersamaan dengan selesainya penataan/pembuatan pura-pura inilah diperkirakan Jro Mekel menghimbau warganya untuk menata kembali perumahan keluarga masing-masing, dengan kata lain yang merasa dalam satu garis keturunan supaya membuat rumah tidak berjauhan dengan keluarganya sendiri (mepupul) dan penataan kembali tentang letak merajan masing-masing keluarga.

Sembari menata perumahan masing-masing, Jro Mekel pada saat itu mengijinkan warganya untuk mendirikan perumahan atau pemukiman (mondok) di tempat yang mereka bongkar di sekitar wilayah pura Pucak tersebut. Dengan kata lain, dari masing masing warga pasek dengan penuh kesadaran membagi diri mereka untuk tinggal dan mendirikan pemondokan di sana (sekarang tempat itu dikenal dengan nama Kubunjero. Kemudian Jro Mekel memberikan menetapkan Pan Sadri (Wayah Pan Wira) untuk menjadi Pengamong sekaligus sebagai “Pemangku” di sana, dan beliau memberikan ‘Piteket/Aturan’ bahwa yang boleh menjadi Pemangku di Pura Pucak untuk seterusnya adalah Keturunan langsung dari Pan Sadri ini. Demikianlah kisah ini berlanjut yang pada akhirnya, banyaklah warga pasek yang ikut mendirikan pemukiman di sana dan menjadi penyungsung pura Pucak tersebut termasuk Leluhur penulis.

Dalam kisah selanjutnya diceritakan kembali tentang Pedukuhan yang didirikan oleh Mekel dalam keadaan sepi dan tidak ada yang mau belajar kesana, dengan sendirinya pedukuhan tersebut ‘bubar’. Tapi walaupun pedukuhan tersebut dinyatakan bubar dan tutup, Jro Mekel Barakan tetap tinggal di sana bersama dengan saudara iparnya yaitu I Wisadi. Sesuai dengan informasi yang dikatakan oleh penutur cerita ini, bahwa Jro Mekel Barakan ini mempunyai 2 istri, istri I (tidak diketahui asal-usulnya) diketahuii mempunyai 1 anak yang dipanggil “Kak Guleh (Pekaknya I Guleh)”, dan dari istri 2 (Ni Sali/saudari dari Wisadi/Leluhurnya Penutur) yang diketahui melahirkan 2 anak yaitu Gede Raka (Pan Masih) dan I Kompyang (Pan Masni). Dan penulis mencoba mengurai turunan keluarga ini, yang dimulai dari : Kak Guleh menurunkan: 1. Ni Seken (Wayah Pan Krati), 2. Kak nadia, 3. Pan Gedeh, 4. Pan Dayung, 5. Pan Suil, 6. Pan Kayan Kayun (P.Pilih). Gd Raka (Pan Masih) menurunkan: Istri I: Made Mager (Pan Cekug), Pan Sadri, Ketut Nantra (Kak Pt.Wardana), dan dari Istri II melahirkan: Pan Puser, Pan Sempog, Pan Ribeng, Pan Siji, Men Gedeh. Sedangkan I Kompyang (Pan Masni) menurunkan: I Kereb (Pan Mageng), Nyoman Puja (Gusi Jenggot), Ketut Nesa (Pan Mester). Nah kembali ke cerita, karena Jro Mekel merasa keturunnannya sudah banyak, maka beliau mengisyaratkan untuk pindah/medirikan rumah keluarga yang baru dan memutuskan untuk menempati di sekitar Bale Banjar sekarang. Diceritakan oleh penutur bahwa anak Jro Mekel dari istri I ini diberikan tempat di sebelah barat Bale Banjar sekarang berdampingan dengan keturunan Leluhurnya Penutur (Wisadi), sedangkan keturunan beliau dari istri II menempati daerah di Grya Ida Pandita sekarang. Walapun keturunan-keturunan Jro Mekel ini menempati rumah baru di tempat yang baru juga dan sekaligus dengan memindahkan Sanggah kemulan mereka masing-masing, seperti yang sudah diceritakan di atas, namun Jro Mekel dan Wisadi tetap tinggal di sana sampai beliau tutup usia. Singkat cerita, setelah beliau wafat maka kepemimpinannya dilanjutkan oleh anak beliau dari istri pertama yaitu ‘Kak Guleh’. Tapi dikisahkan bahwa Kak Guleh ini tidak mendapat Gelar Mekel yang mengiringi tugas beliau sebagai peminpin warga, yang justru konon gelar ini diberikan kepada anak beliau dari istri kedua yaitu I Kompyang (Kakek dari Ida Pandita sekarang). Walaupun secara resmi Kak Guleh tidak menyandang predikat tersebut, namun roda kepemimpinan tetap dijalankan oleh beliau dan menuruk penutur cerita ini bahwa selama kepemimpinan Kak Guleh ini, situasi Desa Galiukir pada saat itu sangat baik (Kondusif dan Makmur/Gemuh). Dan mulai sejak itulah, istilah ‘Desa Adat’ itu muncul dan secara otomatis Kak Guleh dijadikan ‘Ketua Adat’ di desa ini, dan Predikat Mekel tetap dipegang oleh I Kompyang (yang dikatakan bahwa pada saat itu Jro Mekel ini berwenang untuk urusan-urusan ‘Pura Batur’ sekaligus menjadi Pemangku di Pura tersebut).

Waktu terus berjalan, pada suatu ketika pada masa kemimpinan Kak Guleh ini, Galiukir kedatangan warga dari Bongan yang diperkirakan jumlahnya mencapai 63 orang, kemudian disusul oleh Leluhurnya Ida Bagus Teken. Kedatangan mereka terutama warga Bongan,hendak membongkar lahan di daerah ‘Legit dan Kayu Sugih’ untuk dijadikan daerah pemukiman, namun sayangnya mereka tidak minta izin kepada Jro Mekel (Pemangku Pura Batur) dan Adat Kak Guleh. Walaupun demikian, Jro Mekel dan Adat Kak Guleh ini terkesan membiarkan mereka, munkin beliau-beliau ini merasa sungkan untuk menolak atapun menyetujui pembongkaran tersebut. Suatu ketika, warga ini tidak bisa melanjutkan pembongkaran tersebut dan keburu mereka terkena musibah dan banyak diantara mereka yang meninggal, dan tersisa hanya 3 orang. Dari tiga orang inilah, karena tidak tahan/berani, akhirnya memutuskan untuk pindah tempat, 1 orang pindah ke Tangis (Nang Rebias), dan yang 2 orang (Nang Rayas dan Nang Wendra) memilih tempat di Kayu Sugih sekarang. Karena kejadian yang mereka alami itulah, yang 2 orang ini akhirnya menyadari kekeliruan mereka dan selanjutnya mereka menghadap kepada Kak Guleh sebagai adat dan Jro Mekel sebagai Pemangku di Pura Batur. Dikisahkan pada saat mereka minta izin tersebut sekaligus mengucapkan janji kepada Adat dan Ida Bathara yang berstana di Pura Batur bahwa sejak itu mereka akan tunduk kepada segala peraturan yang berlaku di adat dan bersedia untuk ikut ngaturang ayah (memata-mematu) di Pura Batur, dan janji mereka itu diketahui oleh Jro Mekel dan Adat Kak Guleh dan direstui oleh mereka, selanjutnya sejak itu juga Warga Bongan ini resmi menjadi warga Galiukir. Diperkirakan bahwa pada saat itu juga, atau mungkin lebih awal dari itu, Leluhur Ida Bagus Teken melakukan hal yang sama dan diterima oleh Jro Mekel dan Adat sebagai warga sama halnya dengan yang dilakukan oleh warga bongan ini.

Dikisahkan bahwa pada saat 2 orang warga Bongan ini minta izin dan berjanji menjadi warga Galikir kepada Mekel dan Adat inilah, warga-warga yang lain datang dan melakukan hal yang sama dengan pendahulunya. Diantara mereka yang datang tersebut adalah Nang Turi (Rudia), Nang Redeng (Pan Lepun), Nang Kisid (Pak Sandiadnya), Gurun Kompyang (bukan dari Bongan), dan lain-lain. Demikilah seterusnya berdatanganlah warga-warga baru yang lainnya menyusul seperti warga Satria. Warga satria pertama yang datang itu adalah Leluhurnanya Dewa Krenceng yang disusul oleh Dewa Serata (Dewa Sujana) dan Dewa Kuug (Dewa Wimba). Para satria yang datang ini diberikan lahan di sebelah timur (diluan) Panti Dangin Rurung sekarang/Pakerisan. Selanjutnya waktu-waktu berikutnya banyak lagi warga satria yang datang, di antara satria ini dikisahkan ada yang memiliki kemampuan lebih (sakti). Pada suatu ketika salah satu warga satria yang sakti ini menantang salah satu warga Pasek (salah satu keluarga Pan Maria) untuk mengadu kepintarannya. Dikisahkan bahwa mereka memiliki kemampuan yang sama, maka dalam adu kepintaran tersebut tidak ada yang menang (semuanya menjadi korban). Ditengah hiruk pikuk warga pasek dan warga satria ini menyusul lagi warga satria yang datang ke galiukir yang diperkirakan adalah Leluhurnya Dewa Mastra. Kak Guleh dan Jro Mekel yang mempunyai kewenangan terhadap desa ini kemudian memutuskan untuk menemui mereka untuk memberikan peringatan bahwa sebaiknya mereka Satria tersebut dan Pasek untuk bersatu, dan menjalin persaudaraan. Dan beliau menekankan terutama kepada Warga Satria dan keturunnannya ini untuk selalu patuh dan tunduk pada ‘Pasek’, karena I Paseklah yang mempunyai kewenangan untuk mengatur warga Galiukir dan hal tersebut disetujui oleh semua warga Satria, sebagai bukti ketundukan mereka sebagai warga pendatang juga di tujukan kepada Ida Bethara yang berstana di Pura Batur, dan tercatat sejak itulah warga satrtia ini ikut ‘nyungsung/menyembah’ beliau, dan ikut memata-mematu di Pura tersebut sampai saat ini. Setelah semuanya berjalan aman, kemudian Adat Kak Guleh ini memantapkan kebijakan yang namanya “Pedum Raksa”, dalam artian bahwa bagi mereka warga pendatang baru dan juga warga yang sudah berada di Galiukir untuk mencari lahan pertanian di tempat-tempat yang belum ada tuannya(pemiliknya) dan dikisahkan pada saat warga mengadakan Pedum Raksa inilah baru datan petugas ‘Tukan Ukur Tanah’ yang disebut ‘Klasir’ datang. Kedatangan Klasir ini bertujuan untuk mengukur kembali tanah-tanah yang menjadi milik warga, tetapi tidak semua wilayah bis diukur oleh Klasir ini, dan masih banyak lahan yang tidak diukur dan dianggap sebagai Lahan sisa ukur. Dan lahan-lahan sisa ukur inilah yang kemudian di bagi-bagi oleh warga Ida Bagus, warga Bongan dan warga Satria ini.

Perlu diketahui bahwa, masa jabatan seorang Mekel ataupun Adat pada saat itu tidaklah terbatas, dengan kata lain selama seseorang itu masih bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan dalam keadaan sehat, sekalipun sudah tua, maka dia akan tetap memegang kebijakan/kepemimpinannya. Dan yang namanya struktur organisasi Adat pada jaman itu tidak ada, sebab yang ada hanyalah “Adat” tidak dibantu oleh Wakil, Sekretaris atau Bendahara seperti jaman sekarang ini. Sesuai dengan yang diceritakan sebelumnya, bahwa keadaan warga galiukir pada masa adat Kak Guleh ini sangatlah kondusif dan sejahtra. Kemudian saatnyalah Kak Guleh ini dikisahkan sudah sangat tua dan sudah tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, sejak itulah mulai lagi situasi warga semakin tidak baik, tidak kondusif lagi sampai akhirnyalah jabatan Adat ini jatuh pada seseorang yang bernama I Made Candi (Made Dalang). Bersamaan dengan pengangkatan Made Dalang ini menjadi Adat, oleh warga dibentuk pemerintahan Dinas. Dan yang diangkat/dipilih menjadi Kelihan Dinas pertama saat itu adalah I Made Nesa (Pan Mester). Jabatan dinas ini dipegang oleh beliau dalam jangka waktu yang cukup lama. Dikisahkanlah bahwa bersamaan dengan masa Dina situ masih dipegang oleh I Made Nesa, tersiar berita bahwa Jepang menyerbu Indonesia dan Belanda bisa dikalahkan. Situasi tersebut juga ternyata mampu mempengaruhi keadaan warga Galiukir pada jaman itu, dank arena sesuatu dan lain hal, jabatan yang dipegang oleh I Made Nesa ini diambil alih oleh Dewa Serata (Ayahnya Dewa Sujana). Bersamaan dengan menyerahnya Belanda kepada Jepang, warga Galiukir saat itu bingung dan ketakutan, tapi tidak mau menyerah kepada Jepang walaupun mereka disiksa dan disakiti. Bakan banyak warga yang merasa ketakutan dan tidak mau disiksa ini pergi mengungsi ke hutan-hutan sekitar Desa. Entah oleh siapa, apakah warga yang Pro Jepang atau yang Pro Belanda atau pasukan para penjajah sendiri pada waktu itu, dan entah karena apa akhirnya rumah Dewa Serata dibakar. Diperkirakan situasi kacau seperti itu berlangsung lama dan detail ceritanya tidak dikisahkan dalam tulisan ini. Selama kekacauan itu, Kelihan Dinas masih dipegang oleh Dewa Serata dan Adat juga masih dipegang oleh Made Candi. Dan pada suatu ketika, jabatan dinas ini oleh Dewa Serata dikembalikan lagi kepada Made Nesa dan diteruskan sampai berakhirnya Pemilu I Indonesia (1955). Dalam situasi masa-masa itu, situasi Negara dan situasi di Galiukirpun semakin tidak menentu walapun sudah Negara sudah menyatakan Kemerdekaannya. Diinformasikan bahwa sekitar setelah diadakannya Pemilu I itulah jabatan Dinas dipegang oleh I Gede Budiasa/Gede Gog/Pan Pica.

Demikianlah kemudian dikisahkan jabatan-jabatan dinas dan adat ini simpang siur, ada yang menginformasikan selama rentang 1955 sampai dengan 1965 jabatan dinas dan adat ini pernah dipegang rangkap oleh Gede Gog ini, kemudian dinasnya pernah juga dilimpahkan kepada I Gusti Nyoman Gejir kemudian oleh Pan Gin. Begitulah kejadian terus berlangsung sesuai keadaan dan kondisi politik pada jaman itu sampai meletusnya G30S PKI. Singkat cerita setelah itu yang pernah menjabat sebagai adat adalah Ida Bagus Puja dan dinas dipegang oleh I Dewa Tantra, dan dikisahkan bahwa pada masa jabatan adat dan dinas yang dipegang oleh warga inilah dibangun “Pura Puseh” yang berlokasi di sebelah utara desa sekarang. Sejak itu pula pergantian Adat dan Dinas terus berlangsung sampai sekarang, entah berapa kali masa pergantian sampai saat ini jumlah penduduk Galiukir sudah mencapai lebih kurang 550 Kepala Keluarga.

Demikianlah sekilas tentang perjalanan sejarah apa yang sering dikenal oleh warga Galiukir sebagai “Pasek Alas Ukir” dan Desa Pekraman Galiukir.

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 30 Maret 2013 in PROFILE

 

PURA PUCAK BATU GAING

Menurut keterangan salah satu warga Desa Galiukir, bahwa keberadaan Pura ini merupakan salah satu Pura yang mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan Pura Batur, Pura Dayang dan Pura Don Temu yang terletak di Desa Pekraman Galiukir. Padahal Pura Pucak ini terletak di sebelah Barat Laut Desa Pekraman Kebon Jero. Penulis tidak bisa mendapatkan referensi yang tertulis mengenai kapan Pura ini mulai di jadikan salah satu Dhang Khayangan oleh warga Galiukir dan Kebonjero.

PUCAK BATU GAING 1

Untuk bisa sampai ke lokasi Pura ini, kita bisa menempuh jalur Jalan Setapak yang berada di pertengahan Desa Pekraman Kebonjero menuju ke Utara yang berjarak kurang lebih 1,5 kilo meter dari pusat Desa. Sepanjang perjalanan anda menuju kesana, anda akan dihibur oleh pemandangan yang sangat indah yang dilatar belakangi oleh pesona Gunung Batukaru yang cantik dan mempesona, dan pastinya anda akan merasakan suasana sangat sejuk dan damai. Sebelum tiba di lokasi, juga anda harus menapaki jalan sedikit menanjak, yang sekarang sudah dibeton dengan diberikan undakan. Karena jarak jalan yang menanjak cukup panjang, maka anda akan menemukan puluhan, bahkan mungkin ratusan undakan yang harus ditapaki.

PUCAK BATU GAING 4

Sekitar beberapa puluh meter sebelum anda tiba di puncak, anda harus melewati salah satu lawang alami yang tercipta dari sebatang pohon besar yang mana dipangkal dari pohon itu terdapat salah satu celah menyerupai terowongan sempit dan pendek. Menurut kepercayaan para warga, bagi para pemedek yang akan bersembahyang ke Pura Pucak ini, wajib hukumnya melewati terowongan ini, karena dipercaya bahwa dengan melewatinya maka jiwa dan raga kita akan dibersihkan, tentunya dengan sedikit persembahan yang diiringi doa, kalau jiwa kita merasa kurang bersih maka kita sebagai pemedek mohon anugrah beliau yang berstana di pohon itu, supaya jiwa kita dibersihkan karena akan memasuki areal Pura yang keberadaanya bersih sekala niskala.

PUCAK BATU GAING 3

Seperti yang sudah saya tulis di atas, karena konon Pura Pucak ini berkaitan erat dengan ke tiga pura yang berada di Desa Pekraman Galiukir yaitu Batur, Don Temu dan Dayang, maka Upacara Piodalan di Pura Pucak inipun dilaksanakan dalam rangkaian Piodalan yang dilaksanakan di ketiga pura tersebut.

PUCAK BATU GAING 6

Sebagai Pengamong Pura Pucak saat ini adalah semua warga Desa Pekraman Kebonjero, yang mana dulunya pengamongnya adalah Warga Desa Pekraman Galiukir dari “ Warga Pasek Alas Ukir”. Bahkan, sampai sekarang, warga Pasek Alas Ukir masih Pedek Tangkil ngaturang ayah dan juga ngaturang Pangubaktian ke pura ini bila waktu upacara tidak bertabarakan dengan upacara yang dilaksanakan di Pura Batur dan Dayang. Upacara Piodalan yang bersamaan inilah sebagai bukti nyata, mengapa warga Galiukir percaya bahwa Pura Pucak Batu Gaing ini terkait erat dengan pura-pura di Desa Pekraman Galiukir.

PUCAK BATU GAING 5

Penjelasan lain yang bisa diterima oleh keyakinan warga Galiukir mengenai status pura ini adalah, dimana sebagian besar dari warga Kebonjero saat ini, merupakan sanak keturunan dari warga Pasek Alas Ukir, yang mana juga bahwa sebagian warga Kebonjero mempunya Sanggah Gede di Galiukir. Di samping itu, ada banyak fakta yang mengaitkan hubungan erat kekeluargaan antara Warga Galiukir dengan Warga Kebonjero, salah satunya lagi adalah mengenai “Hak Kepemilikan Tanah”. Dan banyak lagi yang lainnya yang bisa dicerna oleh akal sehat.

PUCAK BATU GAING 2

Menurut cerita para “Penua” warga Galiukir, dulunya Galiukir dan Kebonjero merupakan satu Desa Pekraman (Adat). Karena dari waktu ke waktu jumlah populasi semakin banyak, maka oleh salah satu tokoh pendahulu Desa Pekraman, yang diberi kewajiban sebagai Pangempon Pura Pucak ini adalah Warga Desa Pekraman Kebonjero sendiri, sedangkan warga Galiukir karena dibatasi oleh jarak dan juga sudah menjadi pangempon Pura Batur dan Dayang, maka mereka diberikan kebebasan sesuai dengan keyakinan masing-masing.

PUCAK BATU GAING 7

Sebelum tulisan ini tyang akhiri, kalau ada penjelasan-penjelasan yang menyimpang dari yang pembaca ketahui, tyang mohon dengan amat sangat agar mengkonfirmasikan lebih lanjut, baik secara verbal maupun tertulis. Mungkin ada pembaca yang keberatan dengan tulisan ini, silahkan hubungi tyang melalui e_mail, dan atau melalui HP dan atau datang secara langsung ke tempat penulis di Galiukir.  Dan kalau mungkin ada pembaca kurang nyaman dengan tulisan ini tidak lupa saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 April 2012 in PROFILE

 

Galoer Wajahmu Kini

Orang sering menyebut Desa Pekraman Galiukir ini dengan nama “Galoer”, entah itu hanya sebutan sekilas agar terdengar keren dan nyaman di telinga, atau memang nama itu mempunyai makna tersendiri. Nama tersebut biasa juga beredar dikalangan para pengguna Social Media Dunia Maya seperti Facebook, tapi sering juga beredar di kalangan anak-anak muda Desa Pekraman.

Galoer 1

Bahkan dalam acara-acara tertentu yang diadakan oleh Desa Pekraman pun, orang biasa menyebut nama itu dengan penuh semangat dan nada dan intonasi yang sering terlalu ditekankan, sehingga dari cara mengucapkannyapun nampak nama Galoer itu menjadi lebih gagah. Menurut saya penulis, hal tersebut sah-sah saja, bahkan terkadang sayapun ikut melafalkan kata itu dengan penuh rasa bangga dan semangat, yaa karena memang “jujur” saya bangga menjadi warga Galiukir.

Galoer 2

Dari sisi “nama” Galiukir, memang juga sudah dikenal oleh warga luar, yang bahkan notabene nama Galiukir masuk dalam Prasasti Kepasekan di Bali, tapi sepengetahuan saya yang masuk dalam tulisan prasasti tersebut adalah nama “Pasek Alas Ukir”, yang mungkin dari nama Pasek tersebutlah nama “Galukir” diambil. Seperti pembicaraan-pembicaraan di kalangan warga Desa yang sekarang sudah memasuki usia senja, pernah penulis dapatkan informasi, bahwa nama “Galukir” tersebut awalnya adalah “Galih Ukir”. Mungkin memang ada benarnya. Melalui tulisan inilah, saya mohon kepada warga Galoer yang mungkin mempunyai informasi lengkap tentang hal tersebut, saya mengharap meluangkan waktu sedikit untuk menyumbangkannya informasinya kepada penulis blog ini. Semoga dengan sumbangan informasi dan juga pemikiran-pemikiran mulia saudara-saudara ada manfaatnya demi kemajuan dan kesejahtraan Desa Pekraman yang kita cintai ini.

Note:

Maaf antara judul dan isi dari tulisan ini tidak nyambung. Saya belum menemukan judul yang pas untuk tulisan di atas, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Februari 2012 in PROFILE

 

Aktifitas Masyarakat Desa Dinas Kebonpadangan

Desa Kebonpadangan terdiri dari 5 Banjar Dinas, diantaranya adalah Kebon Kaja, Kebon Kelod, Baletimbang, Galiukir Kaja dan Galiukir Kelod, dimana secara keseluruhan jumlah Kepala Keluarga yang ada di Desa ini berkisar 797 KK (menurut Data Desa Kebonpadangan bulan Januari 2011),dengan jumlah jiwa sekitar 2690 orang. Dari sekian jiwa, sebagian besar berprofesi sebagai Petani. Disamping sebagai petani kebun dan sawah, ada beberapa orang yang juga memelihara hewan ternak.

Pembuatan Jalan Subak

Di Desa ini juga terdapat beberapa kelompok tani, dan peternak yang mereka gunakan sebagai aktivitas tambahan. Tidak jarang dari kelompok-kelompok tersebut mengadakan kerja bakti untuk memperlancar arus tranportasi hasil pertanian, seperti pembuatan jalan-jalan baru menuju ke kebun milik kelompok-kelompok tersebut (seperti terlihat dalam gambar di atas). Disamping itu, ada beberapa potensi lain yang dimiliki oleh Desa ini, ambil saja contoh ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi oleh pendatang yang dimiliki oleh salah satu Banjar Dinas dalam lingkungan Desa, seperti air terjun dan sumber air panas yang terdapat di Banjar Dinas Galiukir (seperti yang tampak dalam gambar di bawah).

Balita

Masyarakat Kebonpadangan bersama dengan jajaran Pemerintahan Desa, sering melakukan Bakti Sosial guna menanggulangi penyakit menular dan meningkatkan mutu hidup masyarakat Desa itu sendiri, seperti dengan melaksanakan Eliminasi Anjing guna pencegahan penyebaran penyakit Rabies, dan juga Fogging untuk pencegahan penyakit Demam Berdarah dan Cikungunya. Dan para ibu-ibu juga sering mengajak balita mereka untuk mendapatkan imunisasi di Bale Banjar (Posyandu).

Yeh Mesi

Disamping kelompok Tani, Desa juga memiliki Kelompok Seni seperti Seka Gong Wanita, Seka Shanti, Seka Rindik, Seka Teruna dan Karang Taruna. Keseluruhan Seka (Kelompok) tersebut sangat sering melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka menunjang program pemerintah untuk mewujudkan “Ajeg Bali” yang memang juga menjadi harapan dari masyarakat Desa khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya.

Fogging 2

Dibawah ini saya tampilkan beberapa gambar lain dari potensi yang dimiliki oleh Desa Kebonpadangan (Galiukir khususnya).

Fogging 1

Fogging di salah satu rumah penduduk

Sapi

Pengembangan Peternakan Sapi

Anggur 1

Kebun Markisa milik salah satu warga

Anggur 2

Perawatan kebun Markisa

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 Maret 2011 in PROFILE

 

Profil Br.Dinas Galiukir Kaja

TAHUN 2006
1 JUMLAH KK 234
2 JUMLAH JIWA 996
3 BALITA 93
4 6 -18 TQHUN 195
5 25 – 45 TAHUN 323
6 DI ATAS 60 TAHUN 95
7 KELAHIRAN 6
8 KEMATIAN -
9 PERKAWINAN 15
10 PEMOHON KTP PER AGUSTUS 54
11 PEMOHON KK PER AGUSTUS 16
12 PEMOHON AKTE PERKAWINAN 2
13 PEMOHON AKTE KELAHIRAN 3
14 PEMBANGUNAN FASILITAS UMUM -
15 PEMILIK SEPEDA MOTOR -
16 PEMILIK KENDARAAN RODA EMPAT -
17 PEMILIK KENDARAAN RODA ENAM -
18    

 

TAHUN 2007
1 JUMLAH KK 239
2 JUMLAH JIWA 1062
3 BALITA 90
4 6 -18 TQHUN 207
5 25 – 45 TAHUN 354
6 DI ATAS 60 TAHUN 118
7 KELAHIRAN 7
8 KEMATIAN 10
9 PERKAWINAN 17
10 PEMOHON KTP PER AGUSTUS 39
11 PEMOHON KK PER AGUSTUS 15
12 PEMOHON AKTE PERKAWINAN 2
13 PEMOHON AKTE KELAHIRAN 5
14 PEMBANGUNAN FASILITAS UMUM 1
15 PEMILIK SEPEDA MOTOR 225
16 PEMILIK KENDARAAN RODA EMPAT -
17 PEMILIK KENDARAAN RODA ENAM -
18    

 

TAHUN 2008
1 JUMLAH KK 243
2 JUMLAH JIWA 1071
3 BALITA 92
4 6 -18 TQHUN 222
5 25 – 45 TAHUN 377
6 DI ATAS 60 TAHUN 118
7 KELAHIRAN 22
8 KEMATIAN 4
9 PERKAWINAN 12
10 PEMOHON KTP -
11 PEMOHON KK -
12 PEMOHON AKTE PERKAWINAN 48
13 PEMOHON AKTE KELAHIRAN 121
14 PEMBANGUNAN FASILITAS UMUM 1
15 PEMILIK SEPEDA MOTOR 245
16 PEMILIK KENDARAAN RODA EMPAT 5
17 PEMILIK KENDARAAN RODA ENAM -
18 PINDAH DOMISILI 1
19 KAWIN KELUAR 6
20 KAWIN MASUK 1

Pak Kadus

 

Data diambil dari Kepala Dusun Galiukir Kaja, I Nyoman Suka Darmayasa

 

Untuk Update data 2009 s/d 2011, belum tersedia dan akan di update kalau penulis sudah mendapatkan data terbaru dari beliau.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Maret 2011 in PROFILE

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 108 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: