Orang sering menyebut Desa Pekraman Galiukir ini dengan nama “Galoer”, entah itu hanya sebutan sekilas agar terdengar keren dan nyaman di telinga, atau memang nama itu mempunyai makna tersendiri. Nama tersebut biasa juga beredar dikalangan para pengguna Social Media Dunia Maya seperti Facebook, tapi sering juga beredar di kalangan anak-anak muda Desa Pekraman.
Bahkan dalam acara-acara tertentu yang diadakan oleh Desa Pekraman pun, orang biasa menyebut nama itu dengan penuh semangat dan nada dan intonasi yang sering terlalu ditekankan, sehingga dari cara mengucapkannyapun nampak nama Galoer itu menjadi lebih gagah. Menurut saya penulis, hal tersebut sah-sah saja, bahkan terkadang sayapun ikut melafalkan kata itu dengan penuh rasa bangga dan semangat, yaa karena memang “jujur” saya bangga menjadi warga Galiukir.
Dari sisi “nama” Galiukir, memang juga sudah dikenal oleh warga luar, yang bahkan notabene nama Galiukir masuk dalam Prasasti Kepasekan di Bali, tapi sepengetahuan saya yang masuk dalam tulisan prasasti tersebut adalah nama “Pasek Alas Ukir”, yang mungkin dari nama Pasek tersebutlah nama “Galukir” diambil. Seperti pembicaraan-pembicaraan di kalangan warga Desa yang sekarang sudah memasuki usia senja, pernah penulis dapatkan informasi, bahwa nama “Galukir” tersebut awalnya adalah “Galih Ukir”. Mungkin memang ada benarnya. Melalui tulisan inilah, saya mohon kepada warga Galoer yang mungkin mempunyai informasi lengkap tentang hal tersebut, saya mengharap meluangkan waktu sedikit untuk menyumbangkannya informasinya kepada penulis blog ini. Semoga dengan sumbangan informasi dan juga pemikiran-pemikiran mulia saudara-saudara ada manfaatnya demi kemajuan dan kesejahtraan Desa Pekraman yang kita cintai ini.
Note:
Maaf antara judul dan isi dari tulisan ini tidak nyambung. Saya belum menemukan judul yang pas untuk tulisan di atas, sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.



